Tumpukan sampah liar di Jalan Pemuda, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, mengakibatkan penurunan omzet pedagang secara drastis serta mengganggu aktivitas ekonomi dan lingkungan pendidikan pada Senin (27/4/2026). Masalah ini dilaporkan berdampak langsung pada para pelaku usaha yang berlokasi di sekitar area timbulan sampah tersebut, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Kondisi penumpukan material sisa yang semakin memburuk tersebut kini berdampak pada pendapatan harian para pedagang pakaian. Ana (50), seorang pedagang setempat, mengungkapkan bahwa pemasukan hariannya mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
"Sekarang seringnya paling Rp 500.000 atau Rp 400.000," ujar Ana.
Situasi di lapangan sempat mencapai titik ekstrem di mana akses menuju tempat usaha tertutup sepenuhnya oleh material sampah. Ana menjelaskan bahwa hal tersebut memaksa dirinya untuk menghentikan operasional dagang untuk sementara waktu.
"Saya sampai enggak bisa jualan selama satu minggu. Nunggu sampahnya diangkut dulu," kata Ana.
Keberadaan limbah tersebut juga menimbulkan aroma tidak sedap yang telah mencapai area sekolah di lingkungan sekitar. Menurut pengamatan pedagang yang sudah berada di lokasi selama dua dekade, kondisi ini merupakan masalah lama yang eskalasinya terus meningkat belakangan ini.
Penurunan pendapatan yang serupa juga dialami oleh Lia (37), seorang pedagang jajanan anak sekolah di kawasan tersebut. Ia menyatakan bahwa hasil penjualan harian yang ia terima saat ini telah terpangkas hingga lebih dari separuh dari angka normal.
"Kalau sekarang paling Rp 200.000 saya dapat per hari. Turunnya lebih dari setengah," kata Lia.
Faktor higienitas lingkungan menjadi kendala utama bagi Lia dalam menjalankan usahanya setiap hari. Bau menyengat dan kemunculan serangga di sekitar warung seringkali membuatnya terpaksa tidak berjualan.
"Kalau sudah parah, baunya ke mana-mana, banyak lalat. Saya sering enggak dagang," ujar Lia.
Pihak pedagang meyakini bahwa sampah-sampah tersebut dibuang oleh oknum dari luar kawasan secara sengaja pada waktu tertentu. Pola pembuangan diketahui sering terjadi pada dini hari oleh pengendara kendaraan bermotor.
"Biasanya malam atau sekitar jam 04.00 sudah ada yang buang. Datang pakai motor, langsung lempar," jelas Lia.
Aan (50), seorang juru parkir di wilayah tersebut, menambahkan bahwa volume sampah akan melonjak sangat cepat jika tidak ada tindakan pengangkutan secara rutin. Menurutnya, tumpukan tersebut bisa menggunung dalam hitungan hari jika dibiarkan.
"Kalau dua sampai tiga hari enggak diangkut, sudah numpuk. Pernah sampai seminggu lebih," ujar Aan.
Dugaan mengenai asal sampah juga mengarah pada warga luar lingkungan yang menghindari layanan pengangkutan resmi. Lokasi ini dianggap menjadi tempat pembuangan ilegal bagi mereka yang tidak memiliki akses pembuangan mandiri.
"Orang dari luar buangnya ke sini. Mungkin enggak mau bayar juga," ucap Aan.
Masyarakat dan pedagang setempat kini mendesak adanya pengawasan yang lebih ketat dari otoritas terkait guna mencegah praktik pembuangan liar. Langkah tegas dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan sangat dinantikan untuk memulihkan kondisi lingkungan agar kembali kondusif.
"Harapannya ya bersih, enggak ada lagi yang buang sembarangan. Biar enggak ganggu warga sama sekolah," kata Aan.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan ini meski upaya konfirmasi telah dilakukan kepada pejabat terkait.