Saham BBRI Tembus Rekor Tertinggi Baru di Level Rp 5.700

Saham BBRI Tembus Rekor Tertinggi Baru di Level Rp 5.700
Foto: Ilustrasi Saham BBRI Tembus Rekor Tertinggi Baru di Level Rp 5.700.

Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level Rp 5.700 per lembar saham pada Selasa (25/07/2023). Lonjakan ini menunjukkan optimisme pasar terhadap fokus bisnis perseroan di segmen UMKM, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan belum stabil di level 7.000.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan harga saham BBRI menguat 1,79 persen menjelang penutupan pasar. Berdasarkan laporan Investortrust, nilai kapitalisasi pasar bank dengan aset terbesar di Indonesia ini naik menjadi Rp 847,75 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rp 843,99 triliun.

Manajemen perseroan menilai pencapaian harga saham ini merupakan respons positif pasar terhadap arah kebijakan perusahaan. Corporate Secretary BRI, Aestika Oryza Gunarto, menyebutkan bahwa efisiensi dan perbaikan kualitas aset turut menjadi faktor pendorong utama kinerja laba bersih perseroan.

"Kinerja saham BBRI yang terus menunjukkan performa yang baik tersebut merupakan sebuah sinyal positif dari dari market, atas strategi BRI yang diambil saat ini. Di mana, BRI akan terus fokus pada segmen UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), utamanya segmen ultramikro dan mikro. Di saat bersamaan, BRI juga melakukan efisiensi serta mencatatkan perbaikan kualitas aset, yang memberikan dampak positif terhadap bottom-line kinerja perseroan," kata Aestika Oryza Gunarto, Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Hingga akhir Juni 2023, pertumbuhan penyaluran kredit perusahaan dilaporkan masih berada dalam jalur yang direncanakan. Aestika menambahkan bahwa rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terkendali pada kisaran di bawah 3 persen.

"Penopang utama kredit BRI masih pada segmen UMKM. Ini terutama pada kredit mikro yang tercatat tumbuh double digit," tandas Aestika Oryza Gunarto, Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut memaparkan kondisi ekonomi makro Indonesia yang solid sebagai latar belakang penguatan sektor perbankan. Hingga semester I-2023, pendapatan negara mencapai Rp 1.407,9 triliun, sementara belanja negara tercatat sebesar Rp 1.255,7 triliun.

"Pendapatan negara sebanyak Rp 1.407,9 triliun atau 57,2% dari target. Sedangkan belanja negara Rp 1.255,7 triliun atau 41,0% dari target," kata Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, juga memberikan kepastian stabilitas moneter melalui keputusan Rapat Dewan Gubernur. Bank sentral memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan guna memastikan tingkat inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran yang telah ditentukan.

"Keputusan mempertahankan BI7DRR sebesar 5,75% ini konsisten dengan stance kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran 3,0┬▒1% pada sisa tahun 2023 dan 2,5┬▒1% pada 2024. Fokus kebijakan diarahkan pada penguatan stabilisasi nilai rupiah untuk mengendalikan inflasi barang impor (imported inflation) dan memitigasi dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan global," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Head of Research Samuel Sekuritas, Suria Darma, memprediksi kapitalisasi pasar BBRI berpeluang mencapai angka psikologis Rp 1.000 triliun. Hal tersebut dapat terwujud jika harga saham berhasil menyentuh level Rp 6.600 dengan dukungan fundamental yang kuat saat ini.

"Tinggal menunggu waktu saja, harusnya bisa tercapai," ujar Suria Darma, Head of Research Samuel Sekuritas.

Ekonom Lucky Bayu Purnomo menilai tingginya likuiditas saham perusahaan merupakan cerminan dari pertumbuhan kinerja operasional yang atraktif. Ia mencatat adanya pertumbuhan kredit tahunan sebesar 11 persen yang menjadi parameter krusial bagi kepercayaan investor.

"Ini parameter sangat penting, karena kalau dilihat secara year on year sudah tumbuh 11%," ujar Lucky Bayu Purnomo, Ekonom dan Praktisi Pasar Modal.

Direktur Utama BRI, Sunarso, sebelumnya telah memberikan proyeksi pertumbuhan kredit perusahaan di kisaran 10 hingga 12 persen sepanjang tahun ini. Target tersebut optimis dapat tercapai melalui penguatan basis nasabah pada sektor yang paling rentan namun produktif.

"Kredit masih akan tumbuh di level 10-12%. Ini didukung segmen UMKM, khususnya mikro dan ultramikro," ujar Sunarso, Direktur Utama BRI.

Data transaksi satu bulan terakhir menunjukkan dominasi aksi beli oleh investor asing terhadap saham BBRI. Nilai perputaran transaksi harian dilaporkan stabil pada kisaran Rp 60 triliun, yang didorong oleh kekuatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di berbagai sektor industri.

"Secara turn over transaksi secara more or less masih sama (tidak menurun). Nilainya sekitar Rp 60 triliun," urai Lucky Bayu Purnomo, Ekonom dan Praktisi Pasar Modal.

Artikel terkait

Rekomendasi