Rupiah Tembus Rp17.346 per Dolar AS Jadi Level Terendah Sejarah

Rupiah Tembus Rp17.346 per Dolar AS Jadi Level Terendah Sejarah
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp17.346 per Dolar AS Jadi Level Terendah Sejarah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan sejarah baru yang mengkhawatirkan bagi ketahanan ekonomi nasional. Mata uang Garuda tersebut terus tertekan hingga menembus level psikologis terendahnya.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 30 April 2026, dilansir dari Suara, rupiah berakhir melemah di posisi Rp17.346 per dolar AS. Angka ini secara resmi menjadi titik nilai tukar paling lemah sepanjang sejarah pergerakan rupiah.

Data dari Bloomberg menunjukkan adanya koreksi sebesar 0,12 persen pada pasar spot. Bahkan selama jam perdagangan reguler, mata uang Indonesia sempat mengalami fluktuasi tajam di kisaran Rp17.338 per dolar AS.

Depresiasi yang terjadi secara konsisten ini membuat rupiah melampaui ambang batas krusial Rp17.300. Level tersebut sebelumnya telah menjadi perhatian ketat para investor dan pelaku pasar keuangan sejak awal pekan.

Analis perbankan menilai bahwa kemerosotan tajam ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang kompleks. Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang merusak ketahanan mata uang.

Konflik yang belum mereda tersebut mengganggu rantai pasok energi dunia. Kondisi ini menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak hingga menembus angka US$109 per barel per Minggu, 3 Mei 2026.

Sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga energi secara otomatis menambah beban impor nasional. Korporasi domestik membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membiayai kebutuhan energi, sehingga menyedot likuiditas valuta asing dalam negeri.

Sentimen eksternal semakin diperburuk oleh kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank sentral AS, The Fed, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama guna mengendalikan inflasi.

Sinyal hawkish tersebut memicu arus modal keluar dari pasar keuangan negara berkembang. Akibatnya, indeks dolar AS terus menguat sementara nilai tukar mata uang lokal di berbagai negara mengalami pelemahan signifikan.

Perbandingan dengan Mata Uang Negara Lain

Kinerja rupiah tercatat lebih buruk jika dibandingkan dengan mata uang beberapa negara emerging markets lainnya. Sepanjang satu tahun terakhir hingga April 2026, rupiah mengalami depresiasi sekitar 9,6 persen terhadap Zimbabwe Gold (ZiG).

Bahkan, rupiah merosot tajam hingga 17,7 persen terhadap Naira Nigeria (NGN). Padahal, ZiG merupakan mata uang baru yang baru diperkenalkan pada April 2024 dengan dukungan cadangan emas dan valas.

Keberhasilan Naira Nigeria mencatatkan kinerja lebih baik terhadap rupiah dipengaruhi oleh kebijakan internal mereka. Nigeria menerapkan pengetatan pasokan valuta asing secara ketat untuk menjaga stabilitas mata uangnya.

Faktor Domestik dan Cadangan Devisa

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap fundamental ekonomi dalam negeri mendominasi kemerosotan kali ini. Pasar merasa pesimis terhadap keputusan Bank Indonesia yang tetap menahan suku bunga acuan.

"Kemerosotan nilai tukar kali ini lebih banyak didominasi oleh kekhawatiran sentimen domestik," kata Lukman Leong. Investor juga menanti langkah strategis pemerintah dalam memangkas anggaran belanja sektor non-prioritas yang belum terlihat nyata.

Kekhawatiran pasar diperkuat oleh data cadangan devisa Indonesia yang terus menyusut. Pada akhir Maret 2026, posisi cadangan devisa dilaporkan turun menjadi US$148,2 miliar, level terendah sejak Juli 2024.

Terjadi penurunan sebesar US$8,3 miliar dibandingkan posisi akhir tahun lalu yang mencapai US$156,5 miliar. Penyusutan ini terjadi karena Bank Indonesia aktif melakukan operasi pasar untuk menstabilkan fluktuasi nilai tukar.

Respon Bank Indonesia

Meskipun berkurang, posisi cadangan devisa US$148,2 miliar masih setara dengan 6,0 bulan pembiayaan impor. Angka ini tetap berada di atas standar kecukupan internasional yang minimal tiga bulan impor, sehingga risiko krisis likuiditas akut masih terkendali.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau situasi pasar secara ketat. Bank sentral dipastikan tetap hadir di pasar untuk melakukan intervensi secara terukur demi menenangkan spekulasi.

Perry Warjiyo memberikan penegasan mengenai kondisi nilai tukar saat ini. Menurutnya, jika dilihat dari kekuatan fundamental makroekonomi nasional, posisi rupiah sekarang sudah berada di bawah nilai wajar yang sebenarnya.

"Level pergerakan nilai tukar rupiah saat ini sudah masuk kategori undervalued," ujar Perry Warjiyo dalam pernyataannya menanggapi gejolak pasar valas tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi