Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Rabu sore. Mata uang Garuda tercatat melemah hingga 127,5 poin atau sekitar 0,71 persen.
Kondisi ini membuat posisi rupiah kini berada di level Rp17.966 per dolar AS. Angka tersebut kian mendekati psikologis baru di level Rp18.000.
Faktor Global dan Konflik Timur Tengah
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh campuran sentimen global dan kondisi domestik. Ketegangan di Timur Tengah menjadi perhatian utama para investor saat ini.
Situasi memanas setelah Israel melanjutkan operasi militer di wilayah Lebanon selatan. Di saat yang sama, muncul laporan mengenai serangan rudal balistik Iran yang menyasar Kuwait dan Bahrain.
Ibrahim menyebutkan bahwa meskipun ada jadwal pembicaraan antara Israel dan Lebanon, ketidakpastian masih sangat tinggi. Negosiasi antara Washington dan Teheran juga dikabarkan belum menemui titik terang.
Hingga kini, tidak ada komunikasi intensif antara pihak Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir. Hal ini memicu kekhawatiran pasar bahwa proses perundingan sedang mengalami kebuntuan total.
Dampak Ekonomi Amerika Serikat
Selain konflik geopolitik, kenaikan harga minyak dunia turut memberikan dampak negatif bagi pasar uang. Lonjakan harga komoditas ini memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi global yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut mendorong spekulasi bahwa Bank Sentral AS atau The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi. Kebijakan moneter ketat diprediksi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.
Data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa lowongan kerja di Amerika Serikat meningkat secara mengejutkan pada April 2026. Fakta ini semakin memperkuat alasan bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menurunkan suku bunga.
Kini, pelaku pasar sedang menanti sejumlah indikator ekonomi penting lainnya dari Negeri Paman Sam. Beberapa data yang ditunggu antara lain laporan ketenagakerjaan ADP serta indeks sektor jasa ISM.
Kondisi Ekonomi Domestik Indonesia
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah ikut memburuk akibat kenaikan inflasi pada Mei 2026. Inflasi tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan, meningkat dari bulan sebelumnya yang hanya 0,13 persen.
Beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi ini adalah harga pangan yang fluktuatif serta harga energi. Pelemahan nilai tukar rupiah itu sendiri juga turut menyumbang kenaikan beban biaya di masyarakat.
Berikut adalah ringkasan data ekonomi nasional yang memengaruhi pergerakan rupiah:
- Inflasi bulanan Mei 2026 meningkat menjadi 0,28 persen akibat faktor harga pangan dan energi.
- Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus sebesar 89,1 juta dolar AS.
- Tren surplus perdagangan berhasil dipertahankan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
- Surplus nonmigas tercatat sebesar 3,53 miliar dolar AS menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Meski tetap surplus, angka tersebut sebenarnya mengalami penyempitan yang cukup tajam secara statistik. Hal ini menunjukkan adanya tekanan pada daya beli serta ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Penyempitan surplus ini juga dipengaruhi oleh terganggunya pasokan global akibat blokade Selat Hormuz. Aksi militer dari pasukan garda revolusi Iran tersebut hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Prediksi Pergerakan Rupiah Besok
Untuk perdagangan hari Kamis besok, nilai tukar rupiah diprediksi masih akan bergerak dengan fluktuasi yang tinggi. Tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah mata uang.
Ringkasan proyeksi nilai tukar rupiah pada perdagangan selanjutnya:
| Indikator | Keterangan Data |
|---|---|
| Rentang Proyeksi Kurs | Rp17.960 - Rp18.030 per dolar AS |
| Status Pergerakan | Fluktuatif dengan kecenderungan melemah |
| Sentimen Utama | Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed |
Tabel di atas merangkum estimasi pergerakan rupiah berdasarkan analisis pasar saat ini. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan data ekonomi AS yang akan dirilis menjelang akhir pekan.
Ibrahim memproyeksikan rupiah kemungkinan besar akan berada di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas mata uang di tengah ketidakpastian global.