Bursa Saham Wall Street Cetak Rekor Usai Isu Damai AS-Iran

Bursa Saham Wall Street Cetak Rekor Usai Isu Damai AS-Iran
Foto: Ilustrasi Bursa Saham Wall Street Cetak Rekor Usai Isu Damai AS-Iran.

Tiga indeks utama bursa saham Wall Street mencatat rekor tertinggi pada penutupan perdagangan Rabu (6/5/2026) setelah muncul laporan potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Penguatan pasar modal ini terjadi di tengah optimisme meredanya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang sebelumnya memicu kekhawatiran global.

Dilansir dari Suara, indeks S&P 500 melonjak sebesar 1,46 persen menuju level 7.365,12, sementara Nasdaq Composite melesat 2,02 persen ke posisi 25.838,94. Indeks Dow Jones Industrial Average turut menguat 612,34 poin atau 1,24 persen hingga menetap pada level 49.910,59.

Sentimen positif ini bersumber dari laporan Axios yang mengeklaim bahwa kedua negara hampir mencapai kesepakatan terkait moratorium pengayaan nuklir Iran. Langkah diplomasi tersebut memberikan harapan bagi pelaku pasar mengenai stabilitas perdagangan internasional di wilayah Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan respons melalui media sosial mengenai perkembangan negosiasi tersebut meski tetap memberikan catatan waspada. Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan final belum sepenuhnya terjamin.

"Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," tulis Trump, Presiden Amerika Serikat.

Kepala negara AS tersebut juga mengumumkan penundaan operasional militer yang disebut sebagai Proyek Kebebasan di perairan sensitif. Penundaan ini dilakukan seiring dengan adanya kemajuan dalam proses dialog dengan pihak Teheran.

Disisi lain, Direktur Investasi US Bank Asset Management Group Bill Northey menilai pembukaan kembali jalur logistik global akan memberikan dampak positif yang masif. Kondisi ini diprediksi mampu menekan beban ekonomi di berbagai kawasan.

"Jika kita benar-benar mencapai titik di mana permusuhan mulai melambat atau bahkan berhenti sepenuhnya, dan kita melihat pembukaan kembali Selat Hormuz, ini akan memungkinkan beberapa wilayah yang paling sensitif secara ekonomi dan paling terdampak seperti Asia Tenggara dan Eropa menghindari tekanan ekonomi mereka," ujar Bill Northey, Direktur Investasi US Bank Asset Management Group.

Sektor teknologi menjadi penopang utama penguatan indeks dengan saham produsen chip Advanced Micro Devices (AMD) yang melonjak 18,6 persen. Kenaikan tajam ini dipicu oleh laporan keuangan kuartal pertama yang melampaui ekspektasi serta proyeksi bisnis yang optimistis.

Kenaikan harga saham sektor semikonduktor juga diikuti oleh Intel yang menguat 4,5 persen dan VanEck Semiconductor ETF yang naik sekitar 5 persen. Sementara itu, harga minyak mentah dunia justru anjlok tajam dengan WTI turun 7,03 persen ke 95,08 dolar AS per barel karena berkurangnya risiko gangguan pasokan energi.

Artikel terkait

Rekomendasi