Prabowo Copot Dadan Hindayana: Saya Sedih Ganti Orang yang Saya Sayangi di 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana: Saya Sedih Ganti Orang yang Saya Sayangi di 2026
Foto: Prabowo Copot Dadan Hindayana: Saya Sedih Ganti Orang yang Saya Sayangi di 2026. (Illustration by Pexels)

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan perasaan emosionalnya setelah mengambil keputusan besar untuk mencopot tiga pimpinan utama Badan Gizi Nasional (BGN). Prabowo secara terbuka mengakui adanya kesedihan mendalam karena harus mengganti jajaran pimpinan yang selama ini sangat ia sayangi dan percayai.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Negara saat menghadiri acara bertajuk "Building Indonesia's Future Generations Through Nutrition" di SICC, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Prabowo menegaskan bahwa keputusan pahit ini harus diambil demi kepentingan negara yang jauh lebih besar.

Ungkapan Kesedihan Prabowo Subianto

"Saya sebenarnya merasa sangat sedih hari ini. Saya tidak bisa menutupi perasaan ini karena terpaksa mengganti orang-orang yang saya sayangi dan percayai untuk mengemban tugas negara yang sangat berat," ungkap Prabowo pada Rabu (3/6/2026).

Meskipun memiliki kedekatan personal, Prabowo memastikan bahwa dirinya tidak akan memberikan komentar terlalu jauh mengenai substansi perkara yang sedang berjalan. Hal ini ia lakukan untuk menjaga integritas proses hukum yang sedang dilakukan oleh pihak berwenang.

Prabowo menegaskan komitmennya untuk tidak melakukan intervensi hukum terhadap kasus yang menjerat Dadan Hindayana beserta dua wakilnya. Ia khawatir jika terlalu banyak berkomentar, hal itu akan dianggap sebagai upaya memengaruhi penyelidikan di Kejaksaan Agung.

Pesan Sang Ayah Jadi Pedoman Keputusan

Keputusan mencopot tiga pimpinan BGN tersebut diakui Prabowo sebagai langkah yang sama sekali tidak ringan. Namun, ia memiliki prinsip hidup yang selalu dipegang teguh, terutama saat harus menghadapi situasi dilematis seperti saat ini.

Prabowo teringat pesan mendalam dari mendiang ayahnya, Profesor Soemitro Djojohadikusumo, yang selalu menanamkan nilai keberpihakan. Pesan tersebut menjadi kompas bagi Prabowo dalam mengambil setiap kebijakan penting bagi bangsa.

"Ayah saya pernah berpesan, 'Prabowo, jika suatu saat kamu merasa bingung atau ragu dalam mengambil keputusan, ingatlah untuk selalu berpihak kepada rakyatmu'," kenang Prabowo dengan penuh haru.

Laporan Penyelewengan Program Makan Bergizi Gratis

Sebelum langkah pencopotan diambil, Presiden Prabowo telah menerima berbagai laporan terkait adanya masalah serius di internal Badan Gizi Nasional. Laporan tersebut mencakup berbagai aspek mulai dari kekurangan teknis hingga indikasi penyelewengan anggaran program.

Prabowo meyakini bahwa keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung pada kualitas kepemimpinannya. Baginya, pemimpin adalah penentu arah yang akan memengaruhi seluruh kinerja instansi yang dipimpinnya.

"Dalam setiap organisasi, pengaruh pimpinan itu sangat besar. Jika pemimpinnya baik, maka organisasi akan ikut baik, namun jika pemimpinnya tidak jujur atau tidak kompeten, organisasi akan hancur," tegas Prabowo.

Langkah tegas ini diambil demi memastikan program prioritas nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), tetap berjalan sesuai rencana. Prabowo tidak ingin program yang bersentuhan langsung dengan rakyat kecil ini terganggu oleh praktik-praktik yang melanggar hukum.

Perubahan Struktur Pimpinan Badan Gizi Nasional

Presiden secara resmi telah memberhentikan Dadan Hindayana dari jabatan Kepala BGN, bersama dua wakilnya, yakni Letjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung dan Irjen (Purn) Sony Sanjaya. Sebagai gantinya, Prabowo menunjuk wajah baru untuk mengisi posisi strategis tersebut.

Berikut adalah daftar perubahan pimpinan di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN):

  • Nanik S Deyang: Resmi diangkat menjadi Kepala BGN menggantikan posisi yang ditinggalkan Dadan Hindayana.
  • Agustina Arumsari: Ditunjuk sebagai Wakil Kepala BGN yang baru untuk memperkuat jajaran manajemen.
  • Mayjen TNI Trenggono: Mengisi posisi Wakil Kepala BGN guna mendampingi Nanik S Deyang dalam menjalankan program nasional.

Nanik S Deyang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, sehingga ia dianggap sudah memahami seluk-beluk operasional lembaga tersebut. Penunjukan pimpinan baru ini diharapkan mampu memulihkan kepercayaan publik terhadap tata kelola program gizi nasional.

Detail Dugaan Korupsi yang Menjerat Mantan Pimpinan

Direktur Penyidikan Jampidsus Kejaksaan Agung, Syarief Sulaeman Nahdi, membeberkan modus operandi yang melibatkan mantan pimpinan BGN tersebut. Penyelidikan mengungkap adanya keterkaitan antara yayasan mitra kerja dengan para tersangka.

Syarief menjelaskan bahwa yayasan-yayasan yang ditunjuk sebagai mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ternyata memiliki afiliasi langsung. Padahal, yayasan-yayasan tersebut dinilai tidak memenuhi kriteria dan persyaratan yang telah ditetapkan pemerintah.

Berikut adalah rincian fakta hukum yang ditemukan oleh penyidik Kejaksaan Agung:

Aspek Informasi Keterangan Detail
Pihak Terafiliasi Dadan Hindayana (DH), Sony Sonjaya (SS), dan Lodewyk Pusung (LP).
Modus Afiliasi Kepemilikan yayasan secara tidak langsung melalui pihak perantara.
Dampak Finansial Yayasan mendapatkan insentif miliaran rupiah setiap harinya dari anggaran negara.
Status Hukum Ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan untuk penyidikan.

Data di atas menunjukkan bahwa ada indikasi kuat penyalahgunaan wewenang dalam pengelolaan dana Makan Bergizi Gratis. Penyidik menemukan bahwa dana yang seharusnya digunakan untuk gizi rakyat justru mengalir ke pihak-pihak yang memiliki kedekatan dengan pimpinan lama.

Kejaksaan Agung saat ini sedang terus mendalami sejauh mana aliran dana tersebut menyimpang. Berdasarkan hasil evaluasi Presiden, penahanan ini merupakan langkah penting dalam membersihkan tata kelola lembaga pemerintah dari praktik korupsi.

Profil Singkat Dadan Hindayana

Dadan Hindayana merupakan sosok yang sebelumnya dipercaya penuh oleh Prabowo untuk memimpin lembaga baru ini. Namun, masa jabatannya berakhir pada 2 Juni 2026 setelah terbukti terlibat dalam skandal besar di internal instansi tersebut.

Kasus yang menyeret namanya berkaitan dengan dugaan jual-beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Praktik ini dianggap sangat mencederai program nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup generasi masa depan Indonesia.

Selain Dadan, penyidik juga mencatat adanya penggeledahan di kantor BGN untuk mengumpulkan bukti-bukti tambahan. Sejumlah barang bukti, termasuk dokumen pengadaan dan aset lainnya, telah disita untuk kepentingan penuntutan di pengadilan nanti.

Kini, publik menanti bagaimana kepemimpinan Nanik S Deyang dalam membawa BGN keluar dari krisis integritas ini. Tantangan besar menanti untuk membuktikan bahwa program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan transparan tanpa ada lagi kebocoran anggaran negara.

Artikel terkait

Rekomendasi