PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berhasil mempertahankan dominasinya sebagai salah satu institusi perbankan dengan struktur dana murah yang sangat kuat di Indonesia. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, emiten berkode saham BBCA ini mencatatkan pertumbuhan signifikan pada porsi dana murahnya.
Hingga periode April 2026, porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) milik BCA terpantau semakin gemuk. Keberhasilan ini memperkokoh posisi BCA dalam mengelola likuiditas yang efisien di tengah dinamika industri perbankan nasional.
Pertumbuhan Signifikan Rasio CASA BCA
Rasio CASA BCA tercatat menyentuh angka 84,97% dari total keseluruhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada bulan April 2026. Pencapaian ini menunjukkan tren positif jika dibandingkan dengan performa bank pada tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada April 2025, rasio dana murah BCA berada di level 82,88% dari total DPK. Peningkatan ini membuktikan bahwa minat masyarakat untuk menyimpan dana dalam bentuk giro dan tabungan di BCA terus mengalami penguatan.
Berikut adalah rincian data keuangan BCA per April 2026:
- Total Dana Murah (CASA): Mencapai angka Rp 1.058 triliun yang terdiri dari saldo giro dan tabungan nasabah.
- Total Dana Pihak Ketiga (DPK): Secara keseluruhan, dana yang dihimpun BCA dari masyarakat menyentuh Rp 1.246 triliun.
- Persentase CASA: Sebesar 84,97% dari total DPK, meningkat dari posisi 82,88% di tahun sebelumnya.
- Kanal Transaksi Digital: Sebanyak 99,8% dari seluruh aktivitas transaksi nasabah kini sudah beralih ke layanan digital.
Angka-angka di atas merefleksikan tingkat kepercayaan nasabah yang sangat tinggi terhadap stabilitas dan layanan yang ditawarkan oleh Bank Central Asia. Pertumbuhan CASA yang stabil menjadi kunci utama bank dalam menjaga biaya dana agar tetap rendah.
Strategi dan Faktor Pendorong Dana Murah
Hera F. Heryn, selaku EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, menjelaskan bahwa CASA merupakan fondasi utama dalam model bisnis pendanaan bank. Menurutnya, pertumbuhan dana murah ini tidak lepas dari ekosistem transaksi nasabah yang sangat aktif.
Hera mengungkapkan bahwa saldo tabungan dan giro terus meningkat seiring dengan frekuensi transaksi yang dilakukan oleh nasabah secara berkelanjutan. Dana CASA tetap menjadi kontributor paling besar bagi total pendanaan yang dikelola oleh BCA saat ini.
Data pertumbuhan transaksi nasabah BCA dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
| Indikator Pertumbuhan | Keterangan Capaian (Kuartal I-2026) |
|---|---|
| Kenaikan Frekuensi Transaksi | Meningkat 61% dibandingkan tiga tahun terakhir. |
| Dominasi Kanal Digital | 99,8% transaksi dilakukan melalui platform digital. |
| Pertumbuhan CASA | Naik menjadi 84,97% dari total DPK bank. |
Tabel tersebut menunjukkan transisi besar-besaran nasabah BCA menuju ekosistem digital yang lebih efisien dan cepat. Hal ini secara langsung berdampak pada loyalitas nasabah dalam menempatkan dana mereka di instrumen CASA.
Dominasi Layanan Digital dalam Transaksi Nasabah
Pihak manajemen BCA mencatat adanya lonjakan frekuensi transaksi yang sangat tajam hingga periode kuartal pertama tahun 2026. Dibandingkan dengan data tiga tahun ke belakang, aktivitas transaksi nasabah telah melonjak hingga 61%.
Menariknya, hampir seluruh aktivitas perbankan nasabah kini sudah tidak lagi dilakukan melalui kantor cabang fisik. Tercatat sebanyak 99,8% transaksi telah bermigrasi ke kanal digital seperti BCA Mobile, myBCA, serta internet banking.
Hera F. Heryn menambahkan bahwa perusahaan optimis pertumbuhan dana murah dan DPK secara keseluruhan akan tetap solid di masa mendatang. Hal ini didasari oleh volume transaksi masyarakat yang diprediksi akan terus berkembang mengikuti gaya hidup digital.
Kondisi likuiditas yang melimpah dari sektor dana murah ini memberikan fleksibilitas lebih bagi BCA dalam menyalurkan kredit ke berbagai sektor ekonomi. Dengan biaya dana yang terjaga, BCA memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar perbankan tanah air.