Pesona Desa Les: Harmoni Alam dan Tradisi Garam Palungan di Bali Utara

Pesona Desa Les: Harmoni Alam dan Tradisi Garam Palungan di Bali Utara
Foto: Ilustrasi Pesona Desa Les: Harmoni Alam dan Tradisi Garam Palungan di Bali Utara.

Hamparan laut jernih, tradisi garam palungan, hingga suasana desa yang masih asri menjadi daya tarik Desa Les di Buleleng, Bali Utara. Desa yang berada di pesisir utara Bali ini menawarkan pengalaman wisata yang memadukan keindahan alam, budaya, hingga konsep pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat.

Melalui pembinaan Kampung Berseri Astra, Desa Les dikembangkan menjadi desa wisata yang melibatkan masyarakat secara langsung melalui pengembangan desa, mulai dari pelatihan kewirausahaan, branding produk UMKM, hingga perbaikan jalur wisata.

Terletak di kawasan Bali Utara, Desa Les dikenal sebagai desa Bali Mula atau desa tua yang telah memiliki komunitas sejak abad ke-9.

Jejak Sejarah Desa Bali Mula

"Desa Les adalah desa tua, jadi desa Bali Mula. Dari abad ke-9, kita sudah ada community di sini. Jadi, jauh sebelum Majapahit datang, kita memang sudah ada Desa Les gitu," ujar Penggerak Kampung Berseri Astra Les, Nyoman Nadiana.

Masyarakat setempat hingga kini terus memegang teguh warisan leluhur mereka, sehingga suasana keaslian sejarahnya masih terasa kental saat pengunjung melangkah masuk ke area pemukiman.

"Jadi, desa ini adalah desa tua, desa Bali Mula lebih dikenal dengan tradisi yang sangat unik," lanjut Nyoman Nadiana.

Salah satu destinasi unggulan di Desa Les adalah trekking menuju Air Terjun Yeh Mampeh yang kerap digunakan wisatawan untuk melukat. Selain itu, Desa Les juga menawarkan aktivitas snorkeling dan diving dengan pemandangan bawah laut khas Bali Utara.

Potensi Ekonomi dan Komoditas Lokal

Di sisi lain, Desa Les juga dikenal dengan produksi garam palungan tradisional yang dibuat secara alami menggunakan sinar matahari dan air laut murni. Dalam satu kali panen saat musim kemarau, produksi garam palungan disebut dapat mencapai sekitar 3 ton.

Lebih lanjut, Astra turut mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk lokal Desa Les, termasuk garam palungan tradisional.

"Peran Astra dalam bidang kewirausahaan itu salah satunya adalah sudah mencoba untuk membukakan jalan bagaimana produk-produk lokal, misalnya garam ini, biar bisa disampaikan kepada industri-industri dan pasar," terang Penggerak Kampung Berseri Astra Les, Nyoman Nadiana.

Langkah strategis ini diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan para perajin lokal dan memperluas jangkauan distribusi produk hingga ke luar pulau.

"Dan nantinya ke depan kita harapkan bisa lebih banyak lagi industri-industri yang bisa menyerap. Mungkin dari mitra-mitra Astra itu sendiri," pungkas Penggerak Kampung Berseri Astra Les, Nyoman Nadiana.

Keberlanjutan Lingkungan dan Seni Budaya

Tak hanya fokus pada wisata, Desa Les juga mengembangkan konsep desa ramah lingkungan. Hal itu terlihat dari adanya integrated farm, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), hingga aktivitas pengolahan kompos organik yang melibatkan masyarakat setempat.

Dari sisi budaya, Desa Les memiliki warisan budaya yang disebut menyerupai Pura Besakih serta koleksi arca kuno yang tersimpan di Pura Puseh. Keunikan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi autentik Bali Utara.

Berbagai produk khas Desa Les seperti garam palungan, arak, gula juruh lontar tradisional, VCO, hingga minyak tandusan asli pun dipasarkan sebagai oleh-oleh khas desa.

Melalui pembinaan Kampung Berseri Astra sejak 2018 lalu, berbagai potensi Desa Les tersebut terus dikembangkan agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Astra pun mendorong Desa Les menjadi contoh desa wisata berbasis komunitas yang tetap menjaga budaya, lingkungan, sekaligus memperkuat ekonomi lokal masyarakat Bali Utara.

Artikel terkait

Rekomendasi