Persaingan Super Apps Perbankan 2026: Intip Aplikasi Paling Aman dan Banyak Dipakai Masyarakat

Persaingan Super Apps Perbankan 2026: Intip Aplikasi Paling Aman dan Banyak Dipakai Masyarakat
Foto: Persaingan Super Apps Perbankan 2026: Intip Aplikasi Paling Aman dan Banyak Dipakai Masyarakat. (Illustration by Pexels)

Persaingan di sektor aplikasi perbankan digital atau super apps di Indonesia kini memasuki babak baru yang semakin kompetitif. Fenomena ini terlihat saat bank-bank besar mulai mengubah strategi mereka dari sekadar memiliki satu platform menjadi ekosistem multiaplikasi.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi pemain terbaru yang memperkuat lini digitalnya dengan meluncurkan aplikasi finansial bernama Qita. Langkah ini dinilai sebagai upaya BRI untuk mengikuti jejak PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sukses menjalankan dua aplikasi sekaligus, yakni BCA mobile dan myBCA.

Hadirnya aplikasi Qita di Play Store menandakan pergeseran strategi perbankan nasional dalam mendekati nasabah. Perbankan kini tidak lagi hanya fokus pada satu aplikasi utama, melainkan mulai membagi layanan mereka ke dalam beberapa platform untuk menyasar segmen yang lebih spesifik.

Fitur unggulan yang ditawarkan oleh aplikasi Qita antara lain:

  • Smart Bill Manager: Berfungsi sebagai asisten pintar untuk memberikan pengingat serta melakukan pembayaran tagihan secara otomatis bagi pengguna.
  • Wealth Tracker: Sebuah fitur canggih yang memungkinkan nasabah memantau dan mengelola portofolio keuangan mereka secara menyeluruh.
  • Instant Update: Teknologi terbaru yang memudahkan pembaruan fitur di dalam aplikasi tanpa mengharuskan pengguna melakukan pembaruan manual lewat toko aplikasi.

Aplikasi ini dideskripsikan sebagai teman finansial digital yang modern dan inklusif untuk menjawab tantangan kebutuhan nyata masyarakat. Meskipun fiturnya sudah mulai diperkenalkan, pihak BRI hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi mengenai posisi strategis Qita.

Publik masih menunggu apakah Qita akan berfungsi sebagai pendamping BRImo, menyasar target pasar tertentu, atau justru bertransformasi menjadi platform independen yang baru. Ketidakpastian ini muncul di tengah performa BRImo yang sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan pengguna yang sangat agresif.

Hingga periode Maret 2026, tercatat jumlah pengguna BRImo sudah menyentuh angka 47,8 juta user. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 18,6% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (YoY).

Dari sisi finansial, nilai transaksi melalui BRImo juga menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 29,4% YoY hingga mencapai Rp 2.042,2 triliun. Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, menegaskan bahwa transformasi digital adalah kunci utama pertumbuhan perusahaan.

Menurut Aquarius, seluruh kanal digital perusahaan mencatatkan akselerasi hingga dua digit dalam periode satu tahun terakhir. Hal ini secara langsung berdampak pada peningkatan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) yang dimiliki perseroan.

Berikut adalah ringkasan kinerja perbankan BRI selama kuartal I-2026:

Indikator Kinerja Pencapaian Kuartal I-2026 Pertumbuhan (YoY)
Jumlah Pengguna BRImo 47,8 Juta Nasabah 18,6%
Nilai Transaksi BRImo Rp 2.042,2 Triliun 29,4%
Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp 1.555,1 Triliun 9,4%
Porsi Dana Murah (CASA) Rp 1.058,6 Triliun (68,07%) Meningkat

Data di atas menunjukkan bahwa ekosistem digital BRI berhasil menopang pertumbuhan dana pihak ketiga secara keseluruhan. Sementara itu, Bank BCA telah lebih dulu mapan dengan strategi dua aplikasi andalannya, BCA mobile dan myBCA.

Hera F. Haryn, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, menjelaskan bahwa hampir seluruh transaksi di BCA kini dilakukan secara digital. Kontribusi transaksi digital di bank swasta terbesar Indonesia tersebut telah menyentuh angka fantastis, yakni 99,8%.

Pertumbuhan platform myBCA juga sangat menjanjikan dengan frekuensi transaksi yang naik hingga 45% YoY pada awal tahun 2026. Dari sisi nilai transaksi, platform tersebut mengalami kenaikan 47% YoY seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna sebesar 57%.

Hera menambahkan bahwa myBCA dirancang untuk menjadi sebuah hub finansial yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan perbankan dalam satu genggaman. Layanan yang tersedia mencakup transaksi harian, investasi, pembayaran melalui QRIS, hingga berbagai fitur lifestyle lainnya.

Di sisi lain, BCA tetap mempertahankan aplikasi BCA mobile karena karakteristiknya yang dikenal ringan dan cepat untuk kebutuhan harian. Strategi ini memastikan nasabah memiliki pilihan sesuai dengan jenis perangkat dan kenyamanan akses yang mereka inginkan.

Persaingan ini tidak hanya melibatkan BRI dan BCA, karena Bank Mandiri juga dipandang sukses membangun integrasi ekosistem digital yang sangat kuat. Mandiri mengandalkan Livin’ by Mandiri untuk melayani nasabah ritel, sementara aplikasi Kopra difokuskan untuk melayani kebutuhan segmen wholesale.

Strategi multiaplikasi atau integrasi super apps ini diperkirakan akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya ekspektasi nasabah terhadap kemudahan transaksi. Bank-bank besar kini berlomba-lomba menghadirkan pengalaman pengguna (UX) yang lebih intuitif guna menjaga loyalitas nasabah di era digital.

Munculnya berbagai aplikasi baru seperti Qita menunjukkan bahwa inovasi di industri perbankan tidak akan berhenti pada satu platform saja. Kedepannya, kemampuan bank dalam mengelola data dan menyediakan layanan yang personal akan menjadi penentu siapa yang akan menjadi juara di pasar digital.

Artikel terkait

Rekomendasi