Vendor Dekorasi di Tangerang Selatan Tertipu Modus Sewa Kursi MBG

Vendor Dekorasi di Tangerang Selatan Tertipu Modus Sewa Kursi MBG
Foto: Ilustrasi Vendor Dekorasi di Tangerang Selatan Tertipu Modus Sewa Kursi MBG.

Seorang pemilik usaha dekorasi Fatimah az-Zahra Wedding berinisial SF (40) menjadi korban penipuan bermodus penyewaan perlengkapan acara di Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Peristiwa yang dilaporkan ke Polsek Ciputat Timur ini melibatkan modus penyewaan kursi dan blower untuk kegiatan penyuluhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (30/4/2026).

Aksi kriminalitas ini mengakibatkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp65 juta bagi pihak vendor. Berdasarkan laporan kepolisian dengan nomor TBL/B/578/IV/2026/SPKT/SEK. Ciputat Timur, korban telah memberikan keterangan resmi terkait kronologi hilangnya ratusan unit barang sewa miliknya sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Siti Fatimah menjelaskan bahwa komunikasi awal dimulai saat terduga pelaku yang mengaku bernama Andi menghubunginya melalui pesan singkat untuk memesan 170 kursi futura dan tiga unit blower. Pelaku mengklaim sebagai mahasiswa yang membutuhkan alat tersebut untuk acara di sekitar lokasi Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta.

"Pelaku mengaku bernama Andi, katanya mahasiswa UIN. Dia bilang mau sewa kursi sama blower untuk acara penyuluhan MBG," kata Fatimah.

Kecurigaan tidak muncul di awal karena lokasi pengiriman berada di lingkungan yang familiar bagi korban. Pelaku juga menjanjikan bahwa seluruh pembayaran akan diselesaikan seketika barang sampai di tempat tujuan yang telah disepakati.

"Dia bilang, ÔÇÿBarang datang, payment langsung cairÔÇÖ," ujar Fatimah.

Setelah proses pengiriman selesai menggunakan tiga mobil pikap pada siang hari, Fatimah berupaya melakukan serah terima secara langsung. Namun, pelaku terus mengulur waktu dengan berbagai alasan hingga akhirnya meminta korban untuk cukup mendokumentasikan barang tersebut.

"Enggak usah dihitung. Kayaknya cukup video aja," kata Fatimah.

Karena adanya keperluan mendesak untuk menjenguk kerabat yang sakit, korban meninggalkan lokasi setelah memastikan seluruh jumlah pesanan telah sesuai. Ia sempat mengamankan lokasi sebelum pergi meninggalkan ratusan kursi dan blower tersebut.

"Udah sesuai, 170 kursi, blowernya 3. Enggak ada yang kurang," ujarnya.

Hingga batas waktu yang dijanjikan pada sore hari, uang sewa tak kunjung ditransfer ke rekening korban. Komunikasi sempat terjalin singkat saat pelaku menanyakan nomor rekening sebelum akhirnya memutus semua akses kontak pada malam harinya.

"Habis dari situlah lost contact," ujar Fatimah.

Saat mengecek kembali ke lokasi kejadian pada malam hari, korban mendapati sebagian besar inventaris miliknya telah raib. Informasi dari warga setempat menyebutkan bahwa ada pihak yang mengangkut barang-barang tersebut dengan alasan salah lokasi pengantaran.

"Bangkunya ditinggalin 50. Jadi yang diambilnya 120. Tinggal 50," kata Fatimah.

Blower besar yang disewa juga ikut dibawa oleh oknum tersebut dengan dalih ukurannya tidak sesuai dengan ruangan. Warga mempercayai alasan tersebut karena pengangkut mengaku telah berkoordinasi dengan pemilik vendor.

"Dia bilang ke warga, ÔÇÿIni Bu Fatimah-nya salah anter. Jadi ini mau dipindahin gedung lain. Yang di sini saya tinggal cuma 50 ajaÔÇÖ," tutur Fatimah.

Korban mengaku mengalami kerugian besar mengingat harga per unit kursi dan blower yang cukup tinggi. Selain kehilangan aset, ia tetap harus memenuhi kewajiban pembayaran upah bagi para pekerjanya.

"Sedangkan pekerja sudah saya bayar, karena mereka udah kerja," kata Fatimah.

Fatimah menyadari kelalaiannya yang terlalu percaya kepada pelanggan baru tanpa meminta identitas resmi atau uang muka. Hal ini dipicu oleh kedekatan lokasi pengiriman dan profil pelaku yang menyamar sebagai mahasiswa.

"Saya enggak minta alamat atau KTP. Salahnya di situ. Terlalu percaya," ujarnya.

Ia juga mendapatkan informasi bahwa vendor lain di kawasan yang sama hampir menjadi sasaran penipuan dengan modus yang identik. Fatimah berharap pihak kepolisian dapat segera mengidentifikasi dan menangkap pelaku kejahatan tersebut.

"Katanya di Semanggi 1 juga ada teman. Modusnya sama, penyewaan di aula juga," kata Fatimah.

Dorongan utama korban adalah agar pelaku dapat diproses secara hukum untuk mencegah jatuhnya korban lain di masa mendatang. Ia menekankan pentingnya pertanggungjawaban dari pihak yang terlibat dalam pengangkutan barang-barangnya.

"Setidaknya yang bawa barang-barang itu ketemu. Kalau barangnya enggak balik pun ya sudah, tapi pelakunya harus ketemu," ujarnya.

Kapolsek Ciputat Timur, Bambang Askar Sodiq, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan tersebut dan segera melakukan langkah investigasi. Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta memeriksa saksi-saksi kunci.

"Kami sudah lakukan olah TKP, cek TKP, periksa saksi, dan mengantongi identitas kendaraan yang mengantar," kata Bambang.

Bambang juga memberikan peringatan kepada para pelaku usaha untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pesanan yang masuk melalui platform daring. Proses verifikasi pelanggan dinilai sangat krusial sebelum melakukan pengiriman barang bernilai tinggi.

"Jangan mudah percaya dengan orderan online. Harus ada screening kuat, asas kehati-hatian itu penting," ujar Bambang.

Artikel terkait

Rekomendasi