Industri multifinance di Indonesia menunjukkan geliat yang cukup positif dalam hal pengumpulan dana melalui pasar modal. PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo melaporkan adanya kenaikan signifikan dalam penerbitan surat utang korporasi dari sektor pembiayaan ini.
Hingga bulan Mei 2026, total nilai penerbitan surat utang oleh perusahaan multifinance telah menembus angka Rp 12,93 triliun. Pencapaian ini mencerminkan kepercayaan diri perusahaan pembiayaan untuk mencari pendanaan alternatif selain dari perbankan.
Ahmad Nasrudin, yang menjabat sebagai Fixed Income Analyst di Pefindo, memberikan rincian lebih lanjut mengenai pertumbuhan ini kepada Kontan pada Selasa (2/6/2026). Ia menyebutkan bahwa nilai tersebut mengalami lonjakan sebesar 19,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada bulan Mei 2025, total penerbitan surat utang multifinance hanya tercatat sebesar Rp 10,84 triliun. Kenaikan yang mencapai hampir dua digit ini menandakan aktivitas pasar modal yang tetap bergairah di sektor keuangan.
Daftar Perusahaan Penerbit Terbesar
Beberapa emiten besar mendominasi pasar surat utang multifinance pada periode lima bulan pertama tahun 2026 ini:
- PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance): Berhasil mencatatkan penerbitan sebesar Rp 2,50 triliun.
- PT Federal International Finance (FIFGROUP): Turut menyumbangkan nilai yang sama yaitu sebesar Rp 2,50 triliun.
- PT Indomobil Finance Indonesia: Juga mencatatkan angka penerbitan yang identik di level Rp 2,50 triliun.
- PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance): Mengeluarkan surat utang dengan nilai total Rp 1,50 triliun.
- PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF): Melakukan penerbitan instrumen utang sebesar Rp 1,20 triliun.
- Astra Sedaya Finance (ACC): Tercatat menerbitkan surat utang senilai Rp 1,03 triliun hingga Mei 2026.
Ketiga perusahaan peringkat teratas, yaitu Adira Finance, FIFGROUP, dan Indomobil Finance, memiliki peran yang sangat dominan di pasar. Secara kumulatif, ketiganya menguasai sekitar 58,0% dari seluruh total penerbitan surat utang multifinance per Mei 2026.
Analisis Realisasi dan Posisi Sektor
Jika menilik capaian tahun sebelumnya, Ahmad Nasrudin memaparkan bahwa total penerbitan sepanjang tahun 2025 berada di angka Rp 38,18 triliun. Dengan realisasi Rp 12,93 triliun hingga Mei, maka pencapaian tahun 2026 sudah setara dengan 33,9% dari total tahun lalu.
Meskipun secara nominal angka ini menunjukkan aktivitas yang belum mengendur, Ahmad tetap memberikan catatan penting terkait dinamika pasar ke depan. Menurutnya, arah penerbitan selanjutnya harus terus dipantau dengan mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi makro.
Beberapa faktor kunci yang akan memengaruhi tren penerbitan surat utang korporasi ke depan meliputi:
- Kondisi Yield: Pergerakan tingkat imbal hasil di pasar akan sangat memengaruhi keputusan perusahaan dalam menerbitkan surat utang baru.
- Kebutuhan Jatuh Tempo: Perusahaan perlu memperhatikan jadwal pembayaran utang lama yang akan segera jatuh tempo dalam waktu dekat.
- Pertumbuhan Piutang: Kondisi piutang pembiayaan yang saat ini dinilai masih cenderung rendah menjadi faktor krusial bagi likuiditas perusahaan.
Sejauh ini, sektor multifinance masih memegang peran vital sebagai salah satu kontributor terbesar dalam ekosistem surat utang korporasi nasional. Nilai kontribusinya mencapai 16,6% dari total seluruh penerbitan surat utang korporasi yang menyentuh Rp 78,09 triliun.
Tabel berikut merangkum perbandingan nilai penerbitan antar sektor utama per Mei 2026:
| Sektor Industri | Nilai Penerbitan (Triliun Rupiah) |
|---|---|
| Multifinance | Rp 12,93 |
| Pertambangan | Rp 11,50 |
| Perbankan | Rp 11,14 |
| Perusahaan Induk (Holding) | Rp 10,57 |
Data di atas memperlihatkan bahwa posisi multifinance berada di atas sektor-sektor besar lainnya seperti pertambangan dan perbankan. Dominasi ini menunjukkan bahwa instrumen obligasi masih menjadi pilihan utama bagi perusahaan pembiayaan untuk memperkuat struktur permodalan mereka.
Kondisi ini diharapkan dapat terus memberikan stimulus bagi industri keuangan nasional di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Para pelaku pasar tetap optimis namun tetap waspada terhadap pergerakan suku bunga dan permintaan pasar terhadap kendaraan bermotor atau alat berat.
Dengan porsi yang cukup besar terhadap total obligasi korporasi, kesehatan keuangan sektor multifinance menjadi indikator penting bagi stabilitas pasar modal Indonesia. Investor disarankan untuk terus mencermati kinerja tiap emiten sebelum mengambil keputusan investasi pada instrumen surat utang ini.