Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menjadwalkan peluncuran Sukuk Tabungan seri ST016 pada Senin, 11 Mei 2026. Instrumen investasi ritel ketiga tahun ini tersebut menawarkan dua pilihan produk bagi investor, yakni seri ST016-T2 dengan tenor dua tahun dan ST016-T4 untuk tenor empat tahun.
Dilansir dari Market, masa penawaran produk SBN Ritel ini akan berlangsung hingga 3 Juni 2026. Meskipun peluncuran resmi dilakukan pekan depan, pihak berwenang belum merilis besaran kupon secara resmi meskipun sebelumnya sempat disiapkan untuk meluncur pada Jumat, 8 Mei 2026.
Kalangan analis memproyeksikan ST016 akan menawarkan imbal hasil yang kompetitif di level 6 persen untuk menarik minat masyarakat. Proyeksi ini didasarkan pada kondisi pasar yang menunjukkan likuiditas investor ritel masih berada dalam posisi yang cukup baik.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto, memberikan pandangannya mengenai perbandingan produk ini dengan seri sebelumnya. Ia menilai potensi imbal hasil ST016 cukup besar meskipun memiliki masa tenor yang cenderung lebih pendek.
"Walaupun dia lebih pendek tenornya [dibandingkan SR], tapi paling tidak secara kupon, menurut saya sih harusnya lebih besar daripada SR kemarin," kata Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas.
Berdasarkan analisis pasar, Ramdhan memprediksi kupon ST016-T2 akan berada pada angka 6,1 persen, sementara ST016-T4 diprediksi mencapai 6,3 persen per tahun. Angka ini dianggap realistis mengingat data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) mencatat yield SBN tenor dua tahun berada di level 6,3 persen dan tenor empat tahun pada 6,60 persen.
Ramdhan menekankan bahwa penetapan imbal hasil yang menarik sangat krusial karena investor ritel cenderung lebih sensitif terhadap besaran keuntungan dibandingkan kondisi pasar global.
"Misalnya yang kemarin 5,9%, kalau sekarang bisa dapat di atas 6% kan lebih menarik. Dan likuiditas di pasar ritel ini kan masih cukup baik," kata Ramdhan Ario Maruto.
Keunggulan lain dari ST016 adalah karakteristik imbal hasil floating with floor yang memungkinkan kupon naik jika suku bunga acuan meningkat, namun tidak akan turun di bawah batas minimal. Hal ini dianggap sebagai momentum menguntungkan karena adanya peluang kenaikan suku bunga Bank Indonesia tahun ini.
Potensi permintaan masyarakat terhadap ST016 diprediksi mencapai Rp15 triliun, didorong oleh adanya seri ST012-T2 yang jatuh tempo pada 10 Mei 2026 sehingga membuka peluang reinvestasi yang besar.
"Ya realistis, apalagi dengan suku bunga yang harusnya naik ya, rateonya ini. Apalagi nanti masa penawarannya juga panjang, ini akan menjadi pilihan reinvestasi bagi masyarakat," kata Ramdhan Ario Maruto.