Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan kondisi pasar modal Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan arus dana keluar atau outflow akibat dinamika geopolitik dan geoekonomi global. Fenomena tersebut dilaporkan memicu koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan pada Selasa (5/5/2026).
Dilansir dari Detik Finance, pergerakan dana ke luar negeri ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama terkait suku bunga The Fed yang diprediksi tetap tinggi dalam waktu lama. OJK menilai kondisi tersebut menjadi tantangan utama bagi stabilitas pasar modal domestik saat ini.
"Terkait dengan pasar modal, dapat kami sampaikan terjadi outflow karena memang saat ini kondisi dari faktor geopolitik dan geoekonomi secara global di mana tentu kalau dari The Fed higher for longer, makanya pada outflow," kata Kiki, sapaan akrab Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Meskipun terdapat tekanan eksternal, pihak regulator meyakini bahwa pelemahan ini hanya bersifat temporer. Kepercayaan investor diperkirakan akan pulih kembali selama indikator ekonomi nasional menunjukkan performa yang kuat dan stabil.
"Namun selama kita yakini fundamental kita baik ya, kita harapkan ini akan bisa berbalik," tegas Kiki.
Guna meningkatkan daya tarik investasi, OJK melakukan langkah konkret dengan memperluas transparansi data pemegang saham. Kebijakan ini mencakup pembukaan informasi kepemilikan hingga satu persen serta peningkatan rincian klasifikasi data dari sembilan menjadi 39 kategori guna memenuhi standar global.
"Januari kemarin dari MSCI dapat kami sampaikan bahwa seluruh hal-hal yang menjadi concern dari global investor terkait dengan transparansi dari pasar modal Indonesia di mana data dari 1% pemegang saham sudah kita buka," ujarnya.
Peningkatan aspek teknis lainnya juga mencakup informasi mengenai pemilik manfaat akhir serta ketentuan likuiditas saham beredar di publik. Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pembersihan dan penguatan fondasi pasar modal dalam jangka panjang.
"Kemudian granularity (kerincian) dari data dari 9 klasifikasi menjadi 39 sudah kita sampaikan secara sangat granular. Kemudian ultimate beneficial owner juga sudah kita sampaikan. Dan satu lagi terkait likuiditas yaitu untuk free float di atas 15% dengan stages yang kita sampaikan," jelas Kiki.
Regulator menyadari bahwa serangkaian perbaikan ini akan menimbulkan volatilitas atau penyesuaian nilai pasar pada periode awal. Namun, hal tersebut dinilai perlu untuk menciptakan ekosistem investasi yang lebih sehat dan kredibel di mata dunia.
"Kalau kita melihat nanti mungkin pengumuman di Mei oleh MSCI dan juga nanti di Juni untuk terkait market kita, yang mungkin kalau di Maret nanti akan ada rebalancing dari indeks MSCI kita. Mungkin kita ya expect akan terjadi penyesuaian. Namun kita sampaikan ini adalah dampak sementara dari perbaikan yang kita lakukan," jelas Kiki.
Sebagai langkah mitigasi terhadap guncangan global, OJK juga fokus memperkuat basis investor lokal. Berdasarkan catatan dalam satu tahun terakhir, terdapat pertumbuhan signifikan pada jumlah Single Investor Identification (SID) yang mencapai lima juta investor baru.
"Kalau melihat angka jumlah investor di pasar modal kita dalam satu tahun tuh naik sekitar 5 juta SID. Jadi kita pendalaman pasar bagaimana investor domestik kita tingkatkan supaya kalau terjadi gonjang-ganjing di luar tetap apa lebih stabil untuk market kita," tandas Kiki.