Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja merilis hasil evaluasi terbaru mengenai capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa. Data tersebut menunjukkan adanya fenomena menarik pada nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan.
Berdasarkan laporan resmi, nilai rata-rata Bahasa Indonesia untuk jenjang SD dan SMP ternyata melampaui pencapaian siswa di tingkat SMA maupun SMK. Hal ini memicu diskusi mengenai efektivitas proses pembelajaran di setiap tingkatan sekolah.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik) Kemendikdasmen, Rahmawati, mengungkapkan bahwa skor rata-rata untuk siswa SD berada di angka 60,14. Sementara itu, siswa pada tingkat SMP mencatatkan nilai rata-rata yang sedikit lebih tinggi, yakni 60,83.
Angka-angka tersebut cukup kontras jika dibandingkan dengan capaian siswa SMA, MA, dan SMK yang rata-ratanya hanya menyentuh 55,38. Rahmawati menyebutkan bahwa hasil antara jenjang SD dan SMP memiliki tren yang senada dan berada pada level yang hampir serupa.
Analisis Perbedaan Capaian Nilai TKA
Perbedaan nilai yang cukup signifikan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor krusial yang saling berkaitan. Salah satu alasan utamanya adalah durasi sosialisasi TKA yang lebih panjang bagi siswa SD dan SMP dibandingkan kakaknya di tingkat SMA.
Waktu persiapan yang lebih luang memungkinkan para murid untuk memahami materi dan teknis ujian dengan lebih matang. Namun, selain masalah durasi persiapan, terdapat dua aspek utama yang mendasari perbedaan hasil ujian ini.
Dua faktor penting yang memengaruhi hasil nilai Bahasa Indonesia:
- Aspek Teknis Pelaksanaan: Mengacu pada pengaturan jadwal ujian dan kepadatan mata pelajaran yang diujikan dalam satu hari.
- Aspek Substansi Materi: Berkaitan dengan tingkat kesulitan soal serta proporsi kemampuan kognitif yang dituntut pada setiap jenjang.
Faktor-faktor ini menjadi dasar bagi tim Kemendikdasmen dalam menganalisis mengapa performa siswa di jenjang pendidikan menengah atas cenderung menurun dibandingkan jenjang di bawahnya.
Penjelasan Terkait Aspek Teknis
Dari sisi teknis, beban ujian pada saat pelaksanaan TKA menjadi pembeda yang sangat nyata. Rahmawati menjelaskan bahwa siswa SD dan SMP hanya mengerjakan satu mata pelajaran saja dalam sehari.
Kondisi ini berbeda dengan pelaksanaan ujian di tingkat SMA atau SMK di mana mata pelajaran wajib sering kali dijadwalkan secara bertumpuk. Siswa SMA harus menyelesaikan Bahasa Indonesia, Matematika, hingga Bahasa Inggris secara berurutan dalam waktu singkat.
Selain faktor jadwal yang padat, masa persiapan ujian bagi jenjang SMA juga tergolong sangat minim, yaitu hanya sekitar tiga hingga empat bulan. Sebaliknya, siswa tingkat dasar memiliki waktu yang jauh lebih panjang sehingga mereka jauh lebih siap menghadapi instrumen ujian.
Kesiapan mental dan teknis ini dianggap memberikan kontribusi besar terhadap tingginya nilai yang diraih siswa SD dan SMP. Kemudahan dalam mengatur fokus hanya pada satu materi ujian per hari membantu mereka mencapai hasil maksimal.
Penjelasan Terkait Aspek Substansi
Aspek substansi berkaitan erat dengan kerangka kerja soal atau framework yang disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa. Pada setiap kenaikan jenjang, bobot soal mengalami perubahan fokus yang signifikan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis.
Terdapat tiga level kognitif yang digunakan sebagai acuan, yakni pengetahuan (knowing), penerapan (applying), dan penalaran (reasoning). Semakin tinggi jenjang pendidikan seorang siswa, maka tuntutan kemampuan penalaran dalam soal akan semakin dominan.
Perbandingan struktur soal berdasarkan level kognitif:
| Jenjang Pendidikan | Fokus Pembelajaran dan Ujian |
|---|---|
| SD / MI | Penguatan konsep dasar seperti geometri, bilangan, dan aljabar sederhana. |
| SMP / MTs | Penerapan dari konsep-konsep dasar yang telah dipelajari sebelumnya. |
| SMA / SMK | Penalaran tingkat tinggi, penyelesaian masalah lintas bidang, dan kasus non-rutin. |
Tabel di atas menunjukkan bahwa tuntutan akademis di tingkat SMA jauh lebih kompleks karena mengandalkan kemampuan bernalar yang mendalam. Penurunan nilai di tingkat SMA mengindikasikan bahwa kemampuan penalaran siswa belum sepenuhnya sejajar dengan standar instrumen ujian.
Rahmawati menekankan bahwa meskipun usia dan masa belajar bertambah, kemampuan bernalar siswa masih perlu terus didorong dalam proses pembelajaran. Hal ini penting agar konsep yang sudah tuntas dikuasai dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang lebih rumit di masa depan.