Menelusuri Jejak Kampung Mualaf di Pedalaman Pulau Buru yang Mengejutkan Dunia

Menelusuri Jejak Kampung Mualaf di Pedalaman Pulau Buru yang Mengejutkan Dunia
Foto: Menelusuri Jejak Kampung Mualaf di Pedalaman Pulau Buru yang Mengejutkan Dunia. (Illustration by Pexels)

Suasana Desa Wabloi yang terletak di Pulau Buru, Maluku, terasa sangat tenang di bawah terik matahari. Deretan rumah yang berjajar rapi tampak lengang tanpa aktivitas mencolok di area luar bangunan tersebut.

Kesunyian ini bukan berarti desa tersebut kosong atau tidak berpenghuni sama sekali. Sebagian besar warga justru sedang berada di dalam rumah untuk menjalankan berbagai aktivitas keagamaan yang khusyuk.

Pada saat itu, penduduk setempat tengah menunaikan puasa Arafah sembari mempersiapkan segala kebutuhan untuk penyembelihan hewan kurban. Hal ini dilakukan dalam rangka menyambut datangnya hari raya Iduladha yang jatuh pada keesokan harinya.

Persiapan Kurban di Pelosok Maluku:

  • Menyiapkan area penyembelihan dan tenda petugas setelah salat Iduladha.
  • Mengamankan hewan kurban di sekitar rumah warga agar tetap terpantau.
  • Gotong royong para ibu dalam menyiapkan hidangan makanan untuk hari besar.
  • Pemasangan terpal dan fasilitas pendukung untuk distribusi daging kurban.

Rosmalia, salah satu warga setempat, menyambut kedatangan tamu dengan sangat ramah di depan kediamannya. Rumahnya terlihat unik karena baru sebagian dindingnya yang menggunakan material beton permanen.

"Saya sudah meminta bantuan para ibu di sini untuk mencicil pembuatan makanan untuk keperluan kurban besok," ungkap Rosmalia dengan penuh semangat.

Ia menceritakan persiapan kurban di kampungnya dengan antusiasme yang tinggi. Dua ekor sapi yang ukurannya sedang telah diikat dengan kuat pada pohon di dekat kediamannya.

Selain hewan ternak, perlengkapan lain seperti terpal untuk tenda operasional penyembelihan juga sudah dipersiapkan sejak awal. Rosmalia menjelaskan bahwa proses pemotongan hewan baru akan dilakukan setelah ibadah salat Iduladha selesai.

"Nanti setelah masuk waktu zuhur, kami baru akan mendirikan tenda untuk tempat kerja para petugas kurban," jelasnya secara detail.

Sejarah Terbentuknya Kampung Mualaf di Wabloi

Rosmalia memaparkan bahwa tradisi berkurban di Desa Wabloi sebenarnya merupakan fenomena yang terhitung masih sangat baru. Warga di daerah tersebut baru bisa merasakan sukacita menyantap daging kurban dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Hal ini disebabkan oleh latar belakang Desa Wabloi yang merupakan desa adat di wilayah pegalaman. Penduduknya tidak semuanya beragama Islam, karena sebagian warga di sana masih memeluk agama Hindu dan kepercayaan lainnya.

Kondisi geografis dan sosiologis ini sempat membuat bantuan hewan kurban sulit menjangkau wilayah tersebut. Padahal, desa ini berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Namlea di Pulau Buru.

"Wabloi ini termasuk salah satu kampung tertua di wilayah pegunungan yang dulunya masih memegang teguh kepercayaan animisme," tambah Ustaz Fauzan, suami dari Rosmalia.

Pasangan suami istri ini memutuskan untuk menghabiskan masa tua mereka dengan mengabdi di Desa Wabloi. Ustaz Fauzan secara rutin melakukan kegiatan syiar dakwah dari satu kampung ke kampung lainnya di pedalaman.

Ustaz Fauzan yang berasal dari Mojokerto ini awalnya tidak menyangka bahwa silaturahminya akan diterima dengan sangat baik. Masyarakat adat yang tadinya menganut animisme mulai membuka diri terhadap kehadiran orang baru.

Melalui interaksi dan obrolan santai sehari-hari, minat warga untuk mengenal ajaran Islam mulai tumbuh secara natural. Satu demi satu warga akhirnya memutuskan untuk mengucapkan kalimat syahadat dan resmi menjadi mualaf.

Kronologi Distribusi Hewan Kurban di Desa Wabloi:

Tahun Jumlah Hewan Kurban Sumber Bantuan / Donatur
2022 1 Ekor Sapi Rekan Ustaz Fauzan dari Jakarta
2023 3 Ekor Sapi Donasi kolektif melalui Ustaz Fauzan
2024 4 Ekor Sapi Berbagai sumber donatur luar daerah
2025 3 Ekor Sapi Lembaga Filantropi Dompet Dhuafa
2026 2 Ekor Sapi Lembaga Filantropi Dompet Dhuafa

Data di atas menunjukkan adanya peningkatan kepedulian dari pihak luar terhadap masyarakat mualaf di pelosok Pulau Buru. Bantuan ini sangat berarti bagi warga yang puluhan tahun tidak pernah merasakan ibadah kurban.

Ustaz Fauzan sendiri memiliki reputasi yang cukup baik di kalangan komunitas pesantren di wilayah Jawa Timur. Informasi mengenai kegiatannya di pedalaman Pulau Buru akhirnya sampai ke telinga rekan-rekannya di Jakarta.

Pada tahun 2022, seorang temannya menitipkan satu ekor sapi untuk dibagikan kepada 40 kepala keluarga di Wabloi. Momen bersejarah tersebut menjadi kali pertama bagi warga setempat melaksanakan ibadah kurban di tanah mereka sendiri.

"Tahun berikutnya di 2023, jumlahnya naik menjadi tiga ekor. Dagingnya kami bagikan ke seluruh warga, termasuk mereka yang bukan Muslim," kata Fauzan.

Kabar mengenai perkembangan komunitas mualaf di Wabloi ini akhirnya terdengar oleh lembaga Dompet Dhuafa. Lembaga tersebut merasa sangat terkesan dengan kegigihan Ustaz Fauzan dalam berdakwah di medan yang sulit.

Sejak tahun 2025, Dompet Dhuafa mulai menyalurkan bantuan hewan kurban secara rutin ke kampung mualaf tersebut. Tahun lalu mereka menyalurkan tiga ekor, sementara untuk tahun ini jumlah bantuan mencapai dua ekor sapi.

"Kebahagiaan mereka sangat besar karena sepanjang hidup baru bisa merasakan daging kurban mulai tahun 2022 lalu," tutur Fauzan lagi. Hal ini dikarenakan status desa sebagai kampung adat seringkali membuatnya terlewat dari jangkauan bantuan resmi.

Pembangunan Rumah Ibadah Pertama dan Toleransi

Meskipun jumlah penduduk Muslim terus meningkat, Desa Wabloi pada awalnya tidak memiliki fasilitas ibadah sama sekali. Warga terpaksa harus mendaki bukit menuju kampung tetangga setiap kali ingin melaksanakan salat berjemaah.

Di kampung seberang tersebut memang dihuni oleh para transmigran yang mayoritas sudah beragama Islam. Jarak dan medan yang sulit menjadi tantangan tersendiri bagi warga Wabloi untuk menjalankan kewajiban ibadah mereka.

Suatu ketika, Ustaz Fauzan diundang ke Namlea untuk memberikan presentasi mengenai perkembangan dakwah di pedalaman. Pemerintah daerah setempat merasa heran dengan peningkatan jumlah pemeluk Islam di wilayah Pulau Buru yang sangat signifikan.

Setelah ditelusuri, terungkap bahwa ada peran besar Ustaz Fauzan di balik fenomena perkembangan mualaf tersebut. Ia pun bertemu dengan berbagai pimpinan lembaga zakat nasional yang ingin berkontribusi di Pulau Buru.

Pertemuan tersebut membawa kabar gembira bagi seluruh masyarakat Desa Wabloi yang sudah lama mendambakan tempat ibadah. Dompet Dhuafa menyatakan kesiapannya untuk mendirikan masjid pertama di kampung pedalaman tersebut.

Mendengar berita itu, Ustaz Fauzan dan warga merasa sangat terharu dan bersyukur atas bantuan yang datang. Tanpa ragu, Ustaz Fauzan mewakafkan sebidang tanah miliknya di samping rumah untuk menjadi lokasi pembangunan masjid.

Kedermawanan ini memicu semangat tokoh adat setempat yang juga ikut mewakafkan tanahnya demi memperluas area masjid. Kini, masjid tersebut berdiri kokoh dan menjadi pusat kegiatan spiritual sekaligus simbol persatuan di desa tersebut.

"Alhamdulillah, sekarang kami semua tidak perlu menempuh perjalanan jauh lagi hanya untuk beribadah," ujar Fauzan dengan nada penuh syukur. Ia merasa perjuangannya selama ini telah membuahkan hasil yang nyata bagi masyarakat.

Wabloi kini memang menyandang predikat sebagai kampung mualaf yang berkembang pesat di Maluku. Namun, hal yang paling menonjol adalah bagaimana toleransi antarumat beragama tumbuh subur di wilayah adat ini.

Perayaan Iduladha dan momen berkurban telah menjadi acara milik seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama. Masjid yang baru dibangun pun justru menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan sikap saling menghargai antarsesama warga.

Artikel terkait

Rekomendasi