Kabupaten Luwu Timur kini memperluas perannya melampaui aktivitas pertambangan nikel terkemuka. Wilayah ini mulai bertransformasi menjadi pusat pendidikan vokasi dan literasi industri di kawasan Indonesia Timur, seperti dikutip dari Media Indonesia.
Sinergi strategis antara Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan PT Vale Indonesia mewujudkan pembangunan generasi masa depan tersebut. Langkah konkretnya mencakup pelatihan vokasi, penyaluran beasiswa, donasi alat praktik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hingga pendirian pusat edukasi.
Salah satu wujud nyata dari program ini adalah kehadiran Vale Nickel Corner di Perpustakaan Daerah Malili. Fasilitas edukasi seluas 70 meter persegi ini menyediakan koleksi audio visual, contoh batuan, hasil olahan nikel, serta materi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu Timur, Noviyasss Syahriani Syam, memberikan apresiasi atas kontribusi tersebut.
"Kami sangat berterima kasih kepada PT Vale atas kontribusinya menyiapkan Vale Nickel Corner. Ini menjadi wadah pengenalan literasi tambang kepada anak-anak sekolah mulai dari tingkat dasar hingga SMA, serta masyarakat umum yang berkunjung setiap Sabtu," ujarnya.
Noviyasss berharap PT Vale terus mendukung peningkatan sarana dan prasarana program literasi masyarakat menjelang HUT Luwu Timur ke-23.
Keberadaan fasilitas ini juga memicu antusiasme dari kalangan pelajar setempat.
"Saya senang dengan Vale Nickel Corner. Memberi pengetahuan baru bahwa Vale bukan hanya pertambangan, tetapi juga melakukan konservasi keanekaragaman hayati, reklamasi bekas tambang, restorasi, dan konservasi kawasan pesisir. Harapan kami, semoga kami bisa melihat langsung proses-proses tersebut," tutur Marzahra Nasrul Syahputri, siswi SMPN 2 Malili.
Melihat potensi edukasi yang besar, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berencana mengembangkan area tersebut menjadi Museum Dunia Nikel sebagai ikon wisata daerah.
Mencetak Tenaga Kerja Industri Siap Pakai
Komitmen jangka panjang di bidang pendidikan teknik dikelola melalui Yayasan Pendidikan Sorowako yang menaungi sekolah umum hingga perguruan tinggi.
Firman Feuzie, Ketua Yayasan Pendidikan Sorowako, menjelaskan orientasi lembaga pendidikan tersebut.
"Politeknik Sorowako didirikan tahun 1991 fokus pada pendidikan vokasi. Ini merupakan salah satu bentuk komitmen PT Vale terhadap employability masyarakat sekitar lokasi operasi. Saat ini Poliwako memiliki tiga program studi yang semuanya diarahkan mencetak tenaga kerja skillful siap kerja di dunia industri, khususnya pertambangan," jelas Firman.
Politeknik Sorowako (Poliwako) yang menjadi satu-satunya kampus teknik di wilayah itu juga mengadakan Vocational Short Term Training (VST) sebanyak dua kali dalam setahun.
"Peserta VST berasal dari empat wilayah pemberdayaan yang ditunjuk pemerintah desa. Mereka murni putra-putri Luwu Timur. Kami juga bekerja sama dengan perusahaan di luar PT Vale, bahkan di Jawa Barat, Banten, hingga Kalimantan, untuk tempat kerja praktik mahasiswa," tambah Firman.
Data menunjukkan bahwa porsi mahasiswa asli Luwu Timur di Poliwako mencapai 67-70 persen.
Fitri Oktaviani, mahasiswi tingkat 2 jurusan D3 Perawatan dan Perbaikan Mesin dengan spesialisasi Mechanical Drafting, membagikan pengalamannya belajar di sana.
"Saya asli sini (Lutim). Alasan pertama karena jaraknya dekat dari rumah. Kedua, prospek kerja di sini tinggi karena ada dukungan penuh dari PT Vale. Fasilitas seperti laboratorium CNC produksi di belakang saya ini, mesin CNC-nya harganya lumayan, benar-benar disupport perusahaan," ujar Fitri.
Fitri merasakan langsung dukungan akademik dan non-akademik selama menempuh perkuliahan.
"Harapan saya setelah lulus, ilmu teori dan praktik yang saya peroleh bisa saya implementasikan di perusahaan yang relevan dengan jurusan saya, dan saya bisa menduduki posisi yang sesuai," seru Fitri.
Pemberdayaan Masyarakat dan Donasi Otomotif
Head of External Relations Sorowako & Outer Area PT Vale Indonesia, Yusri Yunus, menyambut baik kolaborasi bersama pemerintah daerah.
"Alhamdulillah, PT Vale sangat bersyukur berada di Luwu Timur karena pemerintah kabupaten sangat mendukung operasional kami. Dalam program pemberdayaan masyarakat, terdapat delapan pilar, termasuk pendidikan, kesehatan, ekonomi kemandirian, dan lainnya. Kami rutin mengevaluasi bersama kabupaten untuk meningkatkan program," ujar Yusri.
Implementasi pilar pendidikan diwujudkan melalui kerja sama beasiswa jenjang S2 dan S3. Sementara pilar ekonomi kemandirian bergerak pada budidaya kebun nanas di Desa Tabarano, serta pilar pariwisata pada pengelolaan Danau Matano.
Yusri menambahkan, upaya pelestarian lingkungan dilakukan dengan menggandeng Universitas Hasanuddin untuk meriset pemanfaatan ikan invasif menjadi tepung pakan.
Sektor pendidikan kejuruan juga diperkuat lewat penyerahan satu unit kendaraan alat praktik otomotif bagi SMK Negeri 1 Luwu Timur untuk mengasah keahlian taktis siswa sebelum bekerja.