Mayoritas indeks saham di bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, akibat lonjakan inflasi dan kenaikan tajam harga minyak mentah. Kondisi pasar modal global ini terjadi menyusul kembali memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebagaimana dilansir dari Investor Daily, pelemahan signifikan terjadi pada indeks S&P 500 yang terkoreksi 0,16 persen ke level 7.400,96. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite mencatatkan penurunan lebih dalam sebesar 0,71 persen hingga menyentuh posisi 26.088,20.
Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru masih mampu mencatatkan penguatan tipis sebesar 56,09 poin atau sekitar 0,11 persen ke level 49.760,56. Tekanan utama di pasar berasal dari aksi ambil untung pada sektor teknologi, terutama industri semikonduktor.
Saham Micron Technology tercatat anjlok 3,6 persen setelah sempat mencetak reli tajam di bulan sebelumnya. Tren negatif ini diikuti oleh penurunan saham Advanced Micro Devices sebesar 2 persen dan kejatuhan Qualcomm yang mencapai 11 persen.
Ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor dominan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa upaya gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi yang sangat rapuh. Pernyataan ini muncul setelah Teheran menolak proposal terbaru dari pihak Amerika Serikat.
Dalam tuntutannya, Iran mendesak pemberian kompensasi perang, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, hingga pencairan aset yang dibekukan. Kondisi ini membuat harga minyak West Texas Intermediate melonjak 4,19 persen ke US$ 102,18 per barel dan Brent naik ke US$ 107,77 per barel.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) meningkat 0,6 persen pada April, sehingga inflasi tahunan menyentuh 3,8 persen. Angka tersebut melampaui proyeksi para ekonom dan menjadi level inflasi tertinggi sejak Mei 2023.
ÔÇ£Ini memang belum seperti longsoran besar, tetapi kenaikannya terus terjadi secara bertahap,ÔÇØ ujar Thomas Martin, Senior Portfolio Manager Globalt Investments.
Martin menilai bahwa potensi peningkatan inflasi akan terus membayangi selama kesepakatan antara AS dan Iran belum tercapai. Kondisi energi yang mahal dikhawatirkan akan menggerus daya beli masyarakat secara luas.
ÔÇ£Kenaikan harga bensin dan berbagai kebutuhan lainnya akan semakin menekan konsumen. Situasinya membuka peluang tekanan ekonomi berlanjut,ÔÇØ kata Martin.