Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mulai mengalami penurunan ketegangan. Namun, fokus peperangan besar kini justru bergeser ke wilayah negara Arab lainnya, yaitu Lebanon.
Ketegangan di sepanjang perbatasan Israel dan Lebanon kini memasuki tahapan yang jauh lebih mengkhawatirkan dan berbahaya bagi stabilitas kawasan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi telah menginstruksikan pasukannya untuk memperluas jangkauan operasi darat di wilayah kedaulatan Lebanon.
Padahal, pengumuman gencatan senjata antara kedua pihak sebenarnya baru saja berlangsung selama kurang lebih enam pekan terakhir. Langkah militer ini dianggap sebagai bentuk eskalasi terbaru dalam rangkaian pertempuran melawan kelompok Hizbullah yang memiliki dukungan penuh dari pihak Iran.
Kebijakan perluasan operasi militer ini pun memicu respons serius dari berbagai pihak internasional yang mengkhawatirkan pecahnya perang terbuka yang lebih luas. Melalui pernyataan resminya pada Minggu (31/5/2026), Netanyahu menegaskan instruksi kepada militer Israel untuk bergerak lebih dalam ke Lebanon selatan.
Poin instruksi langsung dari pemimpin Israel tersebut adalah:
- Perluasan manuver darat pasukan militer di wilayah kedaulatan Lebanon selatan secara menyeluruh.
- Peningkatan intensitas operasi untuk memperlemah kekuatan militer Hizbullah di perbatasan.
Tindakan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya aktivitas militer di perbatasan yang terus memanas sejak beberapa waktu lalu. Perang di Lebanon sendiri dipandang sebagai dampak langsung yang paling signifikan dari konflik regional yang melibatkan kepentingan Iran.
Konflik ini awalnya terpicu ketika kelompok Hizbullah mulai meluncurkan berbagai roket serta drone ke arah wilayah kedaulatan Israel pada Maret lalu. Tindakan tersebut dinyatakan oleh Hizbullah sebagai bentuk solidaritas dan dukungan bagi sekutu utama mereka di kawasan, yakni Iran.
Sejak rangkaian serangan tersebut dimulai, militer Israel telah meluncurkan berbagai serangan udara yang masif di wilayah Lebanon. Operasi militer ini disertai dengan perintah evakuasi dalam skala besar yang berdampak pada penduduk sipil setempat.
Tercatat lebih dari 1,2 juta warga Lebanon kini terpaksa mengungsi dari kediaman mereka demi menghindari zona pertempuran. Data dari pemerintah Lebanon menunjukkan bahwa sedikitnya 3.370 orang telah menjadi korban jiwa akibat operasi militer Israel tersebut.
Di sisi lain, pihak Israel memberikan keterangan bahwa sebanyak 24 personel tentara serta empat warga sipil mereka tewas dalam kurun waktu yang sama. Dampak sosial juga dirasakan oleh puluhan ribu warga Israel di wilayah utara yang harus meninggalkan rumah akibat ancaman drone Hizbullah.
Dalam laporan perkembangan terkini, militer Israel mengklaim telah berhasil menguasai situs bersejarah Kastel Beaufort yang telah berdiri selama 900 tahun. Selain kastel tersebut, pasukan Israel juga melaporkan keberhasilan mereka dalam merebut sebuah punggungan bukit strategis di selatan Lebanon.
Keberhasilan militer ini terjadi hanya selang sehari setelah gelombang serangan balasan dari Hizbullah yang paling intens sejak April lalu. Serangan tersebut dilaporkan menghantam berbagai titik di wilayah utara Israel sehingga melumpuhkan aktivitas publik di sana.
Akibat serangan roket tersebut, otoritas Israel terpaksa menutup sejumlah sekolah dan memberlakukan pembatasan aktivitas warga secara ketat. Fokus operasi militer di kawasan Kastel Beaufort sendiri bertujuan untuk mengamankan wilayah Beaufort Ridge serta area Wadi al-Saluki.
Selain penguasaan wilayah, operasi tersebut dirancang khusus untuk menghancurkan berbagai infrastruktur tempur milik Hizbullah. Israel mengklaim bahwa fasilitas pertahanan tersebut dibangun dengan bantuan teknis serta arahan langsung dari pihak otoritas Iran.
Dalam jalannya operasi darat tersebut, satu orang personel militer Israel dilaporkan gugur di medan tempur. Penguasaan atas Kastel Beaufort dinilai memberikan keuntungan taktis yang sangat besar bagi pergerakan pasukan Israel di masa mendatang.
Lokasi situs sejarah tersebut berada di titik ketinggian yang sangat strategis sehingga memudahkan pengawasan ke seluruh penjuru Lebanon selatan. Dari puncak tersebut, militer Israel juga bisa lebih efektif memantau pergerakan ke arah wilayah permukiman di Israel bagian utara.
Militer Israel menyatakan bahwa area tersebut selama ini kerap digunakan sebagai titik peluncuran berbagai serangan yang menargetkan warga sipil. Ini merupakan momen pertama kalinya Israel kembali menduduki Kastel Beaufort setelah mereka menarik diri dari Lebanon pada Mei tahun 2000 lalu.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memberikan penegasan bahwa pasukannya tidak akan meninggalkan lokasi bersejarah tersebut dalam waktu dekat. Kastel tersebut kini secara resmi akan dijadikan bagian dari zona keamanan Israel yang berada di dalam wilayah kedaulatan Lebanon selatan.
Berikut adalah pernyataan tegas dari Menteri Pertahanan Israel terkait operasi tersebut:
- Katz menegaskan bahwa kampanye militer di Lebanon belum akan berakhir dalam waktu dekat.
- Seluruh jajaran militer memiliki tekad bulat untuk menghancurkan total kekuatan tempur yang dimiliki Hizbullah.
Penjelasan ini mempertegas posisi Israel yang tidak ingin memberikan ruang bagi Hizbullah untuk melakukan serangan balasan. Sebagai bentuk simbolis keberhasilan militer, Katz bahkan membagikan foto pengibaran bendera Israel dan bendera Brigade Golani di puncak Kastel Beaufort.
Hingga laporan ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi yang diberikan oleh pihak pemerintah Lebanon maupun kelompok Hizbullah. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa langkah Israel memamerkan bendera di lokasi tersebut memiliki muatan politis yang cukup kental.
Talal Atrissi, seorang profesor sosiologi di Universitas Lebanon yang memiliki kedekatan dengan Hizbullah, memberikan pandangannya. Menurutnya, aksi pemasangan bendera tersebut bertujuan untuk meyakinkan masyarakat Israel akan kemampuan tempur militer mereka di tengah tantangan drone.
Atrissi menambahkan bahwa militer Israel berusaha menunjukkan bahwa mereka tetap bisa mencapai target-target prestisius meski menghadapi gempuran drone lawan. Selain di Beaufort, aktivitas militer Israel juga terpantau di sekitar Nabatieh yang dikenal sebagai basis pertahanan kuat Hizbullah.
Di pihak lawan, Hizbullah dilaporkan semakin intensif dalam menggunakan teknologi drone bunuh diri yang memiliki biaya produksi sangat rendah. Meskipun harganya murah dan mudah dirakit, drone tersebut terbukti sangat menyulitkan sistem pertahanan udara Israel yang canggih.
Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa penggunaan drone-drone ini telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di kalangan personel militer Israel. Sebelumnya, pasukan darat Israel dilaporkan telah berhasil mengamankan wilayah hingga mencapai garis aliran Sungai Litani.
Kini, pergerakan militer Israel dilaporkan telah menjangkau lebih jauh ke arah utara menuju wilayah Sungai Zaharani. Lokasi baru ini berjarak sekitar 10 kilometer lebih dalam ke wilayah Lebanon dibandingkan dengan posisi pasukan Israel sebelumnya.
Netanyahu menjelaskan bahwa perluasan operasi ini dilakukan untuk memperkuat cengkeraman Israel di wilayah yang dulunya dikuasai sepenuhnya oleh Hizbullah. Tekanan untuk meningkatkan serangan militer juga muncul dari lawan politik dalam negeri Netanyahu sendiri.
Naftali Bennett, yang diprediksi akan menjadi pesaing kuat Netanyahu dalam pemilu mendatang, juga menyuarakan pengambilan tindakan yang lebih keras. Bennett bahkan menyarankan agar militer mempertimbangkan kemungkinan peluncuran serangan ke kawasan pinggiran ibu kota Beirut.
Pada hari Minggu, pihak militer Israel juga telah mengeluarkan peringatan evakuasi terbaru bagi penduduk yang bermukim di selatan Sungai Zaharani. Hal ini menandakan bahwa wilayah tersebut akan menjadi target operasi militer besar-besaran dalam beberapa waktu ke depan.
Kantor berita pemerintah Lebanon melaporkan bahwa setidaknya delapan orang tewas akibat serangan udara yang menghantam Desa Deir El Zahrani. Serangan mematikan tersebut dilaporkan terjadi pada Sabtu malam saat warga sedang beristirahat di kediaman masing-masing.
Sepanjang hari Minggu, tercatat telah terjadi lebih dari 40 rangkaian serangan udara yang diluncurkan oleh militer Israel. Serangan-serangan tersebut tersebar di berbagai titik strategis di wilayah Lebanon selatan menurut keterangan sumber keamanan setempat.
Melihat eskalasi kekerasan yang terus meningkat, Pemerintah Prancis secara resmi meminta Dewan Keamanan PBB untuk segera mengadakan pertemuan darurat. Kementerian Luar Negeri Prancis mengkhawatirkan bahwa situasi di Lebanon dapat berubah menjadi perang skala penuh yang tidak terkendali.
Permintaan pertemuan darurat ini muncul tak lama setelah upaya perdamaian yang diprakarsai oleh Amerika Serikat di Washington. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan pertahanan Israel dan Lebanon sempat bertemu untuk membahas rencana pelucutan senjata kelompok Hizbullah.
Padahal sebelumnya, pada tanggal 15 Mei, kedua belah pihak sebenarnya telah menyepakati perpanjangan masa gencatan senjata selama 45 hari. Namun, perkembangan terbaru di lapangan menunjukkan bahwa kesepakatan damai tersebut kini berada di ambang kegagalan total.