Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan informasi terkini mengenai kondisi industri persusuan di Indonesia yang masih menghadapi tantangan besar. Saat ini, sebanyak 75 persen dari total kebutuhan susu nasional ternyata masih harus dipenuhi melalui jalur impor dari negara lain.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan bahwa kemampuan produksi peternak lokal saat ini memang belum mampu mengejar tingginya permintaan pasar. Kondisi ini membuat Indonesia terus bergantung pada pasokan luar negeri demi mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat setiap harinya.
Makmun merinci bahwa kontribusi susu dari dalam negeri baru mencapai sekitar 25 persen saja. Data tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung di Jakarta Pusat pada Selasa, 2 Juni 2026.
Upaya Peningkatan Populasi Sapi Perah
Pemerintah kini tengah gencar mendorong penambahan jumlah populasi sapi perah serta mengoptimalkan produktivitas peternakan lokal. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk memangkas ketergantungan terhadap produk susu impor secara bertahap.
Salah satu terobosan yang dilakukan adalah dengan mendatangkan sapi bunting dalam jumlah besar dari mancanegara. Sepanjang tahun lalu, tercatat ada hampir 15 ribu ekor sapi bunting yang masuk ke Indonesia untuk mendukung program ini.
Makmun menyebutkan bahwa angka tersebut merupakan jumlah impor sapi perah terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah nasional. Sebagian besar dari sapi-sapi tersebut dilaporkan telah melahirkan dan kini mulai memberikan dampak positif bagi populasi ternak.
Jika setengah dari anak sapi yang lahir berjenis kelamin betina, maka Indonesia akan memiliki sekitar 7.000 calon indukan baru. Kehadiran bibit baru ini sangat krusial untuk menjamin regenerasi populasi sapi perah di masa depan.
Berikut adalah data perbandingan populasi sapi perah saat ini dengan target swasembada nasional:
| Kategori Data | Jumlah Populasi |
|---|---|
| Populasi Sapi Perah Saat Ini | 540.657 Ekor |
| Target Populasi Swasembada | 2.000.000 Ekor |
| Kekurangan Populasi | 1.459.343 Ekor |
Tabel di atas menunjukkan bahwa Indonesia masih membutuhkan tambahan lebih dari satu juta ekor sapi untuk mencapai kemandirian susu. Target ini menjadi tantangan besar yang memerlukan kerja sama dari berbagai pihak terkait.
Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Pakan
Selain menambah jumlah ekor sapi, pemerintah juga fokus pada peningkatan volume susu yang dihasilkan oleh setiap individu ternak. Hal ini penting karena angka produksi harian sapi di Indonesia dinilai masih jauh tertinggal dibandingkan negara maju.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), satu ekor sapi di Indonesia rata-rata hanya menghasilkan 12,5 liter susu per hari. Sebagai perbandingan, negara produsen susu utama dunia mampu memproduksi lebih dari 30 liter per ekor setiap harinya.
Pemerintah menargetkan produktivitas peternak lokal bisa meningkat setidaknya hingga di atas 20 liter per hari. Angka 25 liter per ekor menjadi sasaran optimis yang ingin dicapai melalui berbagai perbaikan teknis di lapangan.
Ada beberapa fokus utama pemerintah untuk mendongkrak produktivitas susu nasional:
- Meningkatkan kualitas pakan hijauan dan konsentrat yang dikonsumsi oleh ternak secara rutin.
- Memperketat pengawasan kesehatan hewan untuk mencegah penularan berbagai macam penyakit.
- Menyediakan pasokan vaksin secara menyeluruh, terutama untuk mengantisipasi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
- Memberikan edukasi berkelanjutan kepada para peternak mengenai manajemen pemeliharaan yang modern.
Upaya perbaikan dari sisi nutrisi dan kesehatan ini diharapkan dapat membuat sapi lebih produktif dan menghasilkan susu berkualitas tinggi. Makmun menegaskan bahwa saat ini vaksinasi untuk sapi perah sudah tersedia 100 persen guna memastikan ternak tetap sehat.
Melalui kombinasi antara penambahan populasi dan peningkatan kualitas hasil per ekor, target swasembada diharapkan bisa tercapai lebih cepat. Pemerintah optimis ketergantungan impor akan berkurang seiring dengan menguatnya ekosistem peternakan di dalam negeri.