Iran Ancam 'Kiamat Total' Jika AS Melanggar Gencatan Senjata Terbaru 2026

Iran Ancam 'Kiamat Total' Jika AS Melanggar Gencatan Senjata Terbaru 2026
Foto: Iran Ancam 'Kiamat Total' Jika AS Melanggar Gencatan Senjata Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
```html

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, Iran memberikan sinyal kuat tentang kemungkinan kembali terlibat dalam konflik dengan AS. Meskipun ada kemajuan dalam perundingan, situasi militer di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan belum mereda. Pada pekan ini, AS melancarkan serangan kedua terhadap Iran, sementara pertempuran masih terus berlangsung di Selat Hormuz.

Pejabat Iran memanfaatkan momen ini untuk menegaskan bahwa mereka memiliki opsi militer yang kuat jika diplomasi gagal. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) negeri itu memperingatkan bahwa jika pecah konflik baru, dampaknya akan meluas dan bisa menghancurkan tempat-tempat yang tidak terduga oleh lawan. Seiring dengan perang sebelumnya, Iran telah menunjukkan kapabilitasnya dalam menargetkan pangkalan militer AS, kota-kota di Israel, dan infrastruktur di negara-negara Teluk Arab.

Blokade Baru

Sejumlah ahli menilai, retorika Teheran ini juga bertujuan mencegah serangan lanjutan dari musuh. Meskipun demikian, Iran tetap siap mengambil tindakan eskalatif jika diplomasi gagal, misalnya dengan strategi blokade maritim besar-besaran. Menyadari keterbatasan untuk menang lewat jalur militer konvensional melawan AS dan Israel, Iran memilih cara lain dengan mengancam jalur ekonomi global melalui penutupan Selat Hormuz.

Teheran diprediksi akan berusaha menutup koridor maritim penting lainnya dengan memanfaatkan kelompok proksi mereka di wilayah tersebut, yaitu Houthi di Yaman. Hal ini bertujuan untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, yang merupakan jalan perdagangan utama antara Eropa, Asia, dan dunia Arab. Menurut data Badan Informasi Energi AS, lebih dari 10% perdagangan minyak laut global melewati selat ini pada tahun 2023. Namun akibat ketidakamanan maritim yang dilakukan Houthi di tahun berikutnya, perdagangan minyak tersebut berkurang hampir setengahnya.

Umud Shokri, pakar strategi energi dari George Mason University, menyatakan bahwa penutupan selat ini bersamaan dengan Selat Hormuz akan sangat mempengaruhi perdagangan Laut Merah dan aliran energi dari Teluk Persia. Hal tersebut berpotensi menaikkan harga minyak dan tarif pengiriman global. Kendati demikian, Shokri menilai bahwa meski Houthi dapat mengganggu navigasi maritim di daerah tersebut, usaha untuk melakukan blokade total, seperti di Selat Hormuz, jauh lebih sulit dilakukan.

Sumur Minyak

Iran siap untuk memperluas cakupan perang ke seluruh dunia Arab sebagai respons jika AS menargetkan kilang minyak serta infrastruktur mereka. Seorang anggota komite keamanan nasional Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, menegaskan, Iran akan membalas dengan menyerang sumur minyak negara-negara Teluk Arab dan bukan hanya pipa atau kilang minyak. Langkah ini akan menjadi eskalasi yang lebih hebat dibandingkan konflik sebelumnya.

"Jika mereka mengurangi pasokan minyak kami, kami juga akan memastikan mereka menghadapi masalah serupa," ujar Ardestani melalui media Iran. Dia menegaskan bahwa jika AS berani menargetkan fasilitas vital Iran, maka Iran tidak akan segan membalasnya dengan serangan terhadap sumur minyak negara lain.

Infrastruktur Kritis

Meskipun kesepakatan genjatan senjata telah dicapai, proksi Iran masih dituduh Uni Emirat Arab atas serangan yang diarahkan ke pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi. Sementara itu, Arab Saudi terus mengalami serangan drone dari Irak. Ketika perang berlangsung, Iran menembakkan rudal ke sasaran sipil, termasuk hotel dan bandara, tapi sejauh ini fasilitas desalinasi kritis tak disentuh.

Nikole Grajewski dari Sciences Po Paris mengatakan, senjata Iran sebenarnya sudah dikenal, mencakup rudal dengan jangkauan lebih dari 2.000 kilometer. Namun, dia menilai Iran mungkin tidak memiliki senjata kejutan baru dalam kesempatan ini.

Target Eropa

Sebuah unggahan di Telegram yang terkait dengan IRGC menampilkan gambar satelit pesawat militer AS di Pulau Kreta, Yunani. Walaupun keaslian gambar ini belum diverifikasi, risiko pembalasan yang lebih luas dari Iran meningkat. Selama konflik, Iran menunjukkan kemampuannya mengirim rudal balistik ke lokasi yang dianggap aman sebelumnya.

Farzin Nadimi dari The Washington Institute percaya Iran dapat mempertimbangkan menargetkan Eropa dalam eskalasi yang lebih parah. Beberapa pangkalan udara penting AS di sana bisa jadi sasaran utama. Namun, langkah ini kemungkinan akan disimpan untuk eskalasi tingkat tinggi, menurut Nadimi.

Drone, Rudal Jelajah Supersonik, dan Pengacauan Satelit

Untuk meningkatkan efektivitas serangan, Iran diperkirakan akan menggunakan drone canggih dengan kecerdasan buatan. Drone ini mampu berkomunikasi untuk menyesuaikan jalur dan kecepatan. Selain teknologi drone, Iran juga kemungkinan akan memperbarui rudal jelajah mereka agar mampu mencapai kecepatan supersonik.

"Meski belum mendemonstrasikan kemampuan-kemampuan ini, pengembangan teknologinya telah dibahas secara luas," ujar Nadimi. Sementara, upaya Iran ini dapat mengacaukan sistem komunikasi militer dan satelit pengawas pihak lawan.

```

Artikel terkait

Rekomendasi