Pelaku pasar global kini mengalihkan perhatian pada rencana pertemuan antara Amerika Serikat dan China pada 13-15 Mei 2026 sebagai upaya pemulihan hubungan bilateral. Momentum ini menjadi krusial setelah kegagalan kesepakatan AS dengan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga minyak dunia dan ketidakpastian keuangan.
Pertemuan tersebut dinilai strategis karena melibatkan delegasi besar, termasuk pimpinan perusahaan teknologi dan perbankan global. Dilansir dari Money, baik AS maupun China tetap memiliki ketergantungan kuat dalam sektor perdagangan serta rantai pasok global meski tensi politik sempat meningkat beberapa tahun terakhir.
"Di tengah kesulitan itulah, kita juga menantikan pertemuan antara Amerika dan Tiongkok yang akan berlangsung 13-15 Mei 2026 yang menjadi harapan baru akan pemulihan hubungan antara Amerika dengan Tiongkok," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, Selasa (12/5/2026).
Selain faktor geopolitik, investor juga mengawasi rilis data inflasi Amerika Serikat yang diproyeksikan mengalami kenaikan dari 3,3 persen menjadi kisaran 3,5 persen hingga 3,8 persen. Tekanan inflasi di sisi produsen (PPI) juga diperkirakan meningkat, yang berpotensi mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Kondisi ekonomi di kawasan lain turut menjadi sorotan, seperti pertumbuhan ekonomi Eropa yang diprediksi bertahan di level 0,8 persen pada kuartal I 2026. Sementara itu, China menunjukkan sinyal pemulihan melalui proyeksi kenaikan penjualan ritel dan produksi industri yang diharapkan menjadi penopang ekonomi global.
Di dalam negeri, stabilitas pasar obligasi Indonesia dilaporkan masih terjaga meski menghadapi volatilitas global. Pemerintah memutuskan untuk belum mengaktifkan instrumen stabilisasi khusus guna menjaga efisiensi kas negara dan kepercayaan investor tanpa memunculkan kesan darurat pasar.
Nico memberikan catatan bahwa kebijakan pemerintah dalam mengelola pasar surat utang mencerminkan kehati-hatian fiskal yang matang. Strategi pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih dinilai cukup fleksibel untuk meredam tekanan tanpa harus melakukan intervensi pasar yang ekstrem saat ini.
Berdasarkan analisis pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa ini diproyeksikan bergerak pada rentang 6.850 hingga 7.000. Beberapa saham dari sektor nikel, konsumsi, dan properti menjadi pilihan emiten yang dapat dicermati oleh para investor ritel.
| Emiten | Harga (Rp) | Support | Resistance | Target Harga |
|---|---|---|---|---|
| PT Vale Indonesia Tbk (INCO) | 6.025 | 5.725 | 6.400 | 6.350 |
| PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) | 2.530 | 2.480 | 2.600 | 2.590 |
| PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) | 324 | 322 | 344 | 340 |