Inflasi Mei 2026 Diprediksi Tembus 2,94%, Surplus Dagang Terancam Menyempit

Inflasi Mei 2026 Diprediksi Tembus 2,94%, Surplus Dagang Terancam Menyempit
Foto: Inflasi Mei 2026 Diprediksi Tembus 2,94%, Surplus Dagang Terancam Menyempit. (Illustration by Pexels)

Laju inflasi di Indonesia pada periode Mei 2026 diprediksi akan mengalami kenaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Berdasarkan analisis ekonomi terbaru, angka inflasi tahunan diperkirakan menyentuh level 2,94 persen.

Josua Pardede, yang menjabat sebagai Kepala Ekonom Bank Permata, memberikan proyeksi bahwa inflasi secara bulanan pada Mei 2026 akan berada di angka 0,14 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan tipis jika dibandingkan dengan realisasi inflasi pada April 2026 yang tercatat sebesar 0,13 persen.

Kenaikan ini mengindikasikan bahwa Indonesia tidak akan mengalami deflasi dalam skenario ekonomi dasar yang dipetakan oleh para ahli. Pergerakan harga di pasar menunjukkan adanya tren penguatan biaya yang mulai dibebankan kepada masyarakat luas.

Analisis Pergerakan Inflasi Tahunan

Dalam keterangannya pada Senin (1/6/2026), Josua memaparkan bahwa inflasi secara tahunan diprediksi melonjak cukup signifikan. Proyeksi kenaikan tersebut bergerak dari angka 2,42 persen pada bulan April menjadi 2,94 persen untuk periode Mei.

Menurut pandangan Josua, pergerakan inflasi kali ini tidak menunjukkan adanya pelemahan daya beli, melainkan lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Tekanan pada sisi biaya produksi kini mulai memberikan dampak yang lebih nyata terhadap harga-harga di tingkat konsumen akhir.

Penyebab utama dari kenaikan inflasi di bulan Mei ini diidentifikasi berasal dari sektor pasokan dan beban biaya produksi. Peningkatan ini bukan didorong oleh lonjakan permintaan masyarakat yang bersifat mendadak atau tajam.

Terdapat beberapa faktor krusial yang mempengaruhi kondisi ini, termasuk kenaikan harga bahan baku di pasar global. Selain itu, depresiasi nilai tukar Rupiah turut memperparah keadaan karena meningkatkan biaya input untuk barang-barang impor.

Faktor Pendorong dari Sektor Energi dan Pangan

Selain faktor nilai tukar, harga energi yang tetap tinggi di pasar internasional juga memberikan tekanan berkelanjutan pada struktur harga domestik. Kondisi ini diperumit dengan adanya kenaikan permintaan yang bersifat musiman menyambut hari besar keagamaan.

Menjelang Idul Adha, kebutuhan masyarakat terhadap komoditas tertentu biasanya meningkat secara rutin setiap tahunnya. Hal ini diprediksi akan mendorong komponen harga pangan bergejolak untuk mencatatkan inflasi kembali seiring meningkatnya permintaan bahan makanan.

Sektor yang harganya diatur oleh pemerintah atau administered prices juga diprediksi akan menyumbang angka inflasi yang cukup besar. Potensi kenaikan ini terlihat pada harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta biaya energi lainnya.

Sektor transportasi, khususnya angkutan udara, juga diperkirakan mengalami penyesuaian tarif dalam waktu dekat. Kenaikan harga avtur yang masih bertahan di level tinggi menjadi alasan utama di balik potensi naiknya harga tiket pesawat di tanah air.

Berikut adalah ringkasan faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi Mei 2026 menurut analisis Bank Permata:

  • Kenaikan biaya bahan baku yang menekan sisi pasokan produsen.
  • Pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga barang impor melonjak.
  • Tingginya harga energi dunia yang berdampak pada operasional industri.
  • Lonjakan permintaan musiman masyarakat menjelang perayaan Idul Adha.
  • Potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan tarif transportasi udara.

Daftar faktor di atas menunjukkan bahwa tekanan inflasi saat ini didominasi oleh masalah biaya produksi ketimbang konsumsi masyarakat. Para pelaku ekonomi perlu mencermati pergerakan harga pangan dan energi yang menjadi komponen paling sensitif bagi publik.

Outlook Perdagangan dan Ekonomi Nasional

Selain masalah inflasi, kondisi neraca perdagangan Indonesia juga mendapatkan sorotan tajam dari para pengamat ekonomi. Terdapat kekhawatiran bahwa surplus perdagangan nasional akan mengalami penyusutan dalam periode yang sama.

Sejumlah ekonom memprediksi bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia berisiko turun ke level sekitar US$1,43 miliar. Meskipun kinerja ekspor masih dianggap sebagai penopang utama, tantangan dari sisi konsumsi domestik tetap harus diwaspadai.

Berikut adalah rangkuman data ekonomi terkait proyeksi inflasi dan kinerja pasar terbaru:

Indikator Ekonomi Periode April 2026 Proyeksi Mei 2026
Inflasi Bulanan (MoM) 0,13% 0,14%
Inflasi Tahunan (YoY) 2,42% 2,94%
Surplus Neraca Dagang (Data Sebelumnya) US$1,43 Miliar
Target Pertumbuhan Ekonomi - 5% (Kuartal II)

Tabel tersebut merangkum perbandingan data antara bulan sebelumnya dengan proyeksi terbaru yang dikeluarkan oleh para ahli. Data ini menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi maupun strategi bisnis di tengah dinamika ekonomi global.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diprediksi masih tetap terjaga di level 5 persen berdasarkan survei konsensus. Namun, pemerintah diharapkan terus menjaga stabilitas harga energi dan pangan agar inflasi tidak melampaui batas yang ditetapkan.

Pihak berwenang kemungkinan akan terus memantau dampak dari biaya transportasi dan logistik terhadap konsumsi nasional. Stimulus di sektor transportasi saat ini dinilai belum memberikan perubahan yang signifikan terhadap pola konsumsi masyarakat secara umum di lapangan.

Artikel terkait

Rekomendasi