Indeks Bisnis-27 berakhir di zona hijau pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026) setelah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal I/2026. Laju penguatan indeks ditopang oleh saham perbankan seperti BBRI dan BBNI di tengah dinamika ekonomi domestik.
Data IDX Mobile menunjukkan indeks hasil kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini menguat 0,38 poin atau 0,08 persen ke posisi 466,38, dilansir dari Market. Pergerakan indeks sepanjang hari berada pada rentang 462,36 hingga level tertinggi 471,96.
Aktivitas pasar mencatatkan total nilai transaksi mencapai Rp5,997 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 3,91 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 379,6 ribu kali dengan komposisi 8 saham menguat, 15 saham melemah, dan 4 saham stagnan.
| Nama Emiten | Kode Saham | Perubahan (%) | Harga Terakhir (Rp) |
|---|---|---|---|
| Bank Rakyat Indonesia | BBRI | +3,62% | 3.150 |
| Darma Henwa | DEWA | +3,24% | 510 |
| Bank Negara Indonesia | BBNI | +2,08% | 3.920 |
| Bank Mandiri | BMRI | +1,58% | 4.490 |
| Sumber Alfaria Trijaya | AMRT | +1,05% | 1.440 |
| Vale Indonesia | INCO | -13,09% | 5.975 |
| Merdeka Battery Materials | MBBA | -8,89% | 615 |
| Mitra Adiperkasa | MAPI | -6,18% | 1.215 |
| Indah Kiat Pulp & Paper | INKP | -4,36% | 9.325 |
| Astra International | ASII | -3,29% | 5.875 |
Kenaikan harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 3,62 persen menjadi motor utama penguatan indeks. Di sisi lain, tekanan jual cukup besar terjadi pada saham PT Vale Indonesia Tbk. yang merosot signifikan hingga 13,09 persen.
Tim riset Phintraco Sekuritas memberikan analisis terkait kondisi fundamental ekonomi nasional yang mempengaruhi sentimen pasar saat ini. Pertumbuhan ekonomi tahunan dilaporkan masih menunjukkan performa solid meski terdapat kontraksi secara kuartalan.
PDB Indonesia pada kuartal I/2026 tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan (YoY), meningkat dari capaian 5,39 persen pada periode kuartal IV/2025. Nilai nominal PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun pada awal tahun ini.
Namun, ekonomi justru mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara kuartalan (QoQ), berbalik dari pertumbuhan 0,86 persen pada kuartal sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan adanya normalisasi aktivitas ekonomi pasca periode akhir tahun yang ekspansif.
Sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi tercatat tetap menjadi pilar utama produksi nasional. Sementara itu, pertumbuhan dari sisi pengeluaran didominasi oleh konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto, dan konsumsi pemerintah.