Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 1,43 persen ke level 6.807 pada penutupan sesi pertama perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Pelemahan ini dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, sebagaimana dilansir dari Suara.
Data perdagangan menunjukkan indeks kehilangan 98 poin dengan volume transaksi mencapai 17,96 juta saham yang bernilai Rp 7,49 triliun. Sebanyak 480 saham tercatat melemah, sementara hanya 203 saham yang menguat dan 276 lainnya tidak bergerak sepanjang frekuensi perdagangan 1,48 juta kali.
Berdasarkan riset Pilarmas Investindo Sekuritas, sentimen negatif global muncul setelah memudarnya harapan negosiasi damai di Timur Tengah yang berisiko mengganggu pasokan energi di Selat Hormuz. Selain itu, investor sedang menantikan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhir pekan ini guna membahas stabilitas dagang serta isu Taiwan.
"Selain perdagangan, kedua pemimpin juga diharapkan untuk membahas konflik Timur Tengah dan Taiwan," tulis Pilarmas.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah terus berlanjut seiring penguatan dolar AS yang dipicu ekspektasi suku bunga tinggi The Fed. Fenomena ini mendorong investor mencari aset aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang.
"Fenomena ini memberikan tekanan besar bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, karena penguatan dolar yang dominan di pasar global secara otomatis memperkecil peluang mata uang pasar negara berkembang untuk terapresiasi," tulis Pilarmas.
Pelaku pasar saat ini juga tengah mengantisipasi pengumuman rebalancing MSCI Indonesia sebagai indikator penilaian investor global terhadap pasar modal dalam negeri. Di tengah volatilitas ini, Pilarmas memberikan rekomendasi beli untuk saham BRPT pada rentang support 1.950 dan resistance 2.300.
| Kategori | Emiten |
|---|---|
| Top Gainers | CCSI, ELPI, KJEN, KONI, KRYA |
| Top Losers | MORA, ASPR, PYFA, KAEF, MEDS |