Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan tren negatif pada Senin, 11 Mei 2026. Dilansir dari Suara, indeks terpantau melandai ke posisi 6.959 saat pembukaan pasar.
Data dari BEI menunjukkan pergerakan indeks semakin tertekan hingga pukul 09.07 WIB dengan koreksi sebesar 1,32 persen ke level 6.877. Aktivitas perdagangan mencatat 3,32 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,56 triliun.
Kondisi pasar saat itu memperlihatkan dominasi aksi jual dengan 393 saham mengalami penurunan harga. Sementara itu, tercatat 189 saham berhasil menguat dan 377 saham lainnya tidak mengalami perubahan posisi.
Tekanan pada indeks pekan ini diprediksi akan dipengaruhi oleh pengumuman rebalancing MSCI Index yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026. PT Indo Premier Sekuritas menilai kebijakan ini akan memicu kenaikan volatilitas pasar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa rebalancing tersebut berpotensi menyebabkan rotasi portofolio investasi. Hal ini terutama berdampak pada pergerakan saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar.
"Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan," ujarnya.
Dampak Kebijakan Royalti Sektor Minerba
Selain sentimen global, kebijakan domestik dari Kementerian ESDM turut memberikan tekanan, khususnya bagi sektor pertambangan. Pemerintah berencana memberlakukan kenaikan tarif royalti komoditas tambang mulai Juni 2026.
Hari Rachmansyah menyebutkan bahwa rencana ini sudah memasuki tahap public hearing pada 8 Mei 2026 lalu. Komoditas yang terdampak meliputi tembaga, nikel, timah, emas, hingga perak.
"Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi sub sektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek," katanya.
Pekan perdagangan kali ini juga tercatat lebih singkat karena hanya berlangsung selama tiga hari kerja. Hal ini disebabkan adanya hari libur nasional dan cuti bersama kenaikan Yesus Kristus pada 14 hingga 15 Mei 2026.