Indeks harga saham gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia mencatatkan penurunan paling dalam di Asia pada penutupan sesi I, Jumat 24 April 2026. Seperti diberitakan oleh Investortrust, indeks saham domestik tersebut terjun bebas sebanyak 225 poin atau merosot 3,06 persen ke level 7.152.
Data perdagangan menunjukkan pergerakan indeks berada pada rentang 7.147 hingga 7.386. Sementara itu, nilai transaksi yang terjadi di pasar modal pada paruh pertama hari tersebut mencapai Rp 11,60 triliun.
Kemerosotan tajam ini didorong oleh melemahnya seluruh sektor saham di lantai bursa, terutama kelompok saham berkapitalisasi besar atau big cap. Saham BBCA tercatat anjlok sebesar 5,45 persen, diikuti oleh BREN yang mengalami penurunan sebanyak 4,46 persen.
Pelemahan juga menimpa saham-saham utama lainnya. Saham TPIA merosot sebesar 2,03 persen, BBRI melemah 2,53 persen, AMMN terpangkas hingga 6,60 persen, DSSA terkoreksi sebesar 9,78 persen, BRPT turun 5,48 persen, dan MLPT melemah 5,04 persen.
Dari sisi sektoral, industri infrastruktur memimpin kejatuhan dengan penurunan sebesar 4,09 persen. Sektor energi menyusul di posisi berikutnya setelah merosot sebanyak 3,60 persen pada perdagangan paruh pertama tersebut.
Seluruh sektor yang tersisa juga tidak mampu keluar dari zona merah. Sektor properti, keuangan, consumer primer, consumer non-primer, transportasi, material dasar, serta kesehatan semuanya mengalami penurunan di atas 2 persen.
Kendati indeks mengalami tekanan hebat, beberapa saham tetap berhasil mencatatkan kenaikan signifikan hingga terkena auto reject atas atau ARA. Saham BRNA melonjak pesat sebesar 24,41 persen ke level Rp 790 per lembar.
Kenaikan maksimal juga dibukukan oleh saham BNBA yang melesat sebanyak 24,46 persen menjadi Rp 865. Selain itu, saham RODA menguat 20,25 persen ke harga Rp 95, DIVA naik 15,63 persen ke Rp 185, dan CTTH meningkat 13,85 persen menjadi Rp 148.
Koreksi mendalam pada akhir pekan ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya. Pada perdagangan Kamis, IHSG ditutup jatuh sebanyak 163 poin atau berkurang 2,16 persen menuju level 7.378.
Aktivitas perdagangan hari sebelumnya juga diwarnai aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing yang menembus angka Rp 978,65 miIiar. Saham BBRI dan BMRI menjadi penyumbang terbesar dari aksi lepas saham oleh pemodal luar negeri tersebut.
Sentimen negatif pada hari Kamis itu dipicu oleh rontoknya sektor industri, energi, consumer primer, dan consumer non-primer. Tekanan jual yang besar turut melanda kelompok saham di bidang keuangan, teknologi, dan infrastruktur.
Meskipun demikian, beberapa emiten terpantau melonjak hingga menyentuh batas ARA pada hari Kamis tersebut. Saham KOBX memimpin dengan kenaikan 34,43 persen ke Rp 246, diikuti oleh MAXI yang menguat sebesar 33,96 persen ke posisi Rp 71.
Saham SKBM juga mencatatkan ARA setelah naik 25 persen menuju harga Rp 800 per lembar. Tren positif serupa dibukukan oleh WBSA yang menguat 24,88 persen ke Rp 1.330 dan PGLI yang melonjak sebanyak 24,53 persen menjadi Rp 264.
Di luar barisan saham yang menyentuh batas auto reject atas, terdapat emiten lain yang tetap menunjukkan performa kuat. Saham BAIK berhasil menguat sebesar 20,91 persen ke posisi Rp 665, sedangkan saham ALII naik sebanyak 14,44 persen menjadi Rp 1.030.