Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bakal melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Rabu (1/4/2026). Laju indeks diprediksi bergerak dalam rentang 7.100 hingga 7.140 setelah pada penutupan sebelumnya terkoreksi cukup dalam akibat tekanan aksi jual investor asing.
Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN. Dilansir dari Investortrust, meskipun pemerintah menetapkan harga BBM tidak naik pada April, kebijakan tersebut dinilai meningkatkan beban subsidi negara secara signifikan.
Kondisi pasar juga sedang beradaptasi dengan kebijakan baru otoritas bursa terkait batasan minimal saham publik. Mulai 31 Maret 2026, BEI resmi menaikkan batas minimum free float bagi emiten dari semula 7,5 persen menjadi 15 persen, yang memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan indeks.
"Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih akan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, dengan area support berada di kisaran 6.950 hingga 7.000 dan resistance pada 7.100 hingga 7.140," tulis tim riset BRI Danareksa Sekuritas.
Di tengah proyeksi pelemahan ini, pihak sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk tiga emiten tertentu. Saham MBMA ditargetkan pada harga Rp 755-805, sementara AMRT dan FORE masing-masing memiliki target harga di kisaran Rp 1.540-1.595 dan Rp 690-710.
Pada perdagangan Selasa kemarin, IHSG merosot 43,45 poin atau 0,61 persen ke level 7.048 dengan catatan net sell asing mencapai Rp 1,28 triliun. Sektor energi memimpin penurunan sebesar 2,75 persen, diikuti oleh pelemahan sektor industri, teknologi, konsumer primer, dan keuangan.
Meski indeks secara keseluruhan tertekan, beberapa saham justru mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA).
| Kode Saham | Harga Penutupan (Rp) | Persentase Kenaikan |
|---|---|---|
| CHEM | 112 | 34,94% |
| WEHA | 155 | 34,78% |
| POLA | 78 | 34,48% |
| BANK | 530 | 24,41% |
Para pelaku pasar saat ini tetap waspada dan mencermati respons lanjutan dari pemerintah terkait fluktuasi harga minyak mentah global yang berdampak langsung pada kebijakan energi domestik.