Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mencatatkan kinerja negatif yang signifikan sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Investortrust, indeks mengalami penurunan tajam sebesar 18,49 persen hingga menyentuh posisi 7.048.
Koreksi mendalam ini menempatkan bursa saham domestik sebagai pasar dengan performa terburuk di dunia pada periode tersebut. Situasi ini diperparah dengan aksi lepas saham yang dilakukan oleh investor mancanegara secara masif.
Pemodal asing mencatatkan nilai jual bersih atau net sell mencapai Rp32,85 triliun selama tiga bulan pertama tahun 2026. Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang masih membukukan net buy sebesar Rp26,27 triliun.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan lima emiten besar menjadi penahan laju indeks karena koreksi harga yang drastis. Saham BREN tercatat turun 45,88 persen, BBCA melemah 20,12 persen, DSSA turun 34,65 persen, BRPT merosot 58,26 persen, dan FILM anjlok hingga 78,83 persen.
Meskipun pasar secara keseluruhan melemah, beberapa emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Garibaldi Thohir justru menunjukkan ketangguhan. Saham-saham tersebut antara lain EMAS yang melesat 47,75 persen, MDKA naik 37,72 persen, ADRO menguat 42,54 persen, AADI melonjak 61,65 persen, serta MBMA yang naik 28,07 persen.
Seluruh sektor industri di lantai bursa tidak mampu keluar dari zona merah sepanjang kuartal I-2026. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpukul dengan penurunan sebesar 28,02 persen.
Kondisi serupa dialami oleh sektor properti yang merosot 21,47 persen dan sektor teknologi yang terkoreksi 20,46 persen. Sementara itu, sektor konsumer primer dan sektor keuangan masing-masing mengalami pelemahan sebesar 19,91 persen serta 12,55 persen.
Faktor Tekanan Global dan Domestik
Penurunan IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen buruk dari dalam maupun luar negeri. MSCI memutuskan untuk menangguhkan sementara penghitungan indeks saham Indonesia karena persoalan transparansi dan kepemilikan publik, bahkan mengancam akan menurunkan status pasar menjadi frontier market.
Dari sisi fiskal, lembaga pemeringkat internasional MoodyÔÇÖs dan Fitch Ratings memberikan tekanan tambahan dengan mengubah outlook utang Indonesia menjadi negatif. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya risiko defisit anggaran untuk membiayai program-program pemerintah.
Gejolak geopolitik global turut memberikan hantaman keras melalui eskalasi militer di Timur Tengah. Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terjadi sejak awal Maret 2026 telah mengguncang stabilitas pasar keuangan dunia.
Ketegangan semakin memuncak saat Iran melakukan penutupan terhadap Selat Hormuz. Jalur perdagangan strategis tersebut menjadi sangat krusial karena dampaknya langsung memicu lonjakan harga energi di tingkat global secara mendadak.