Institute for Essential Services Reform (IESR) memberikan sejumlah rekomendasi strategis guna merealisasikan target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW). Target ambisius yang dicanangkan pemerintah ini direncanakan selesai dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, mengungkapkan bahwa lembaganya tengah berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kerja sama ini difokuskan pada penyusunan strategi implementasi agar program tersebut selaras dengan agenda pemerintah yang sedang berjalan.
Proses penyusunan kajian ini telah dimulai sejak September tahun lalu dengan melibatkan berbagai instansi terkait. IESR secara intensif berkonsultasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian Koperasi guna menyempurnakan rencana tersebut.
Fokus Persiapan di Dua Tahun Pertama
Menurut Fabby, tantangan terbesar dalam mencapai target 100 GW bukanlah pada aspek teknis, melainkan pada kesiapan faktor pendukung atau enabling factors. Ia menekankan bahwa pembangunan skala besar ini memerlukan perencanaan yang sangat matang.
Pemerintah perlu memetakan lokasi pembangunan secara detail, mengidentifikasi kebutuhan listrik di pedesaan, serta menetapkan model bisnis yang tepat. Pembangunan infrastruktur energi ini tidak bisa dilakukan secara instan tanpa pondasi yang kuat.
Berikut adalah fokus utama yang diusulkan IESR untuk masa persiapan dua tahun pertama:
- Penyusunan regulasi yang komprehensif untuk mendukung ekosistem energi terbarukan.
- Penguatan tata kelola kelembagaan dan penyiapan rantai pasok dalam negeri.
- Penetapan standar kinerja teknis serta pengembangan model bisnis yang berkelanjutan.
- Penyediaan infrastruktur pendukung yang siap pakai untuk mempercepat proses instalasi.
Persiapan yang matang pada fase awal dianggap sebagai kunci keberhasilan pembangunan fisik di tahun-tahun berikutnya. IESR menilai bahwa tanpa kesiapan regulasi dan industri, target besar tersebut akan sulit dicapai tepat waktu.
Inovasi Teknologi dan Percepatan Proyek
Salah satu solusi yang ditawarkan IESR adalah penggunaan pendekatan sistem modular yang bersifat plug and play. Sistem ini memungkinkan komponen PLTS dan baterai dikemas dalam struktur kontainer sehingga lebih mudah dipasang di berbagai lokasi.
Konsep ini diharapkan dapat mempersingkat waktu pembangunan di lapangan. Fabby mencontohkan, unit baterai berkapasitas tertentu dapat langsung dikirim dan diintegrasikan tanpa memerlukan konstruksi yang rumit.
Selain inovasi teknis, program konversi pembangkit listrik tenaga diesel milik PLN ke PLTS juga menjadi peluang besar. Sayangnya, program dedieselisasi yang sudah dimulai sejak 2022 ini masih terkendala proses lelang dan masalah harga.
Beberapa faktor penting yang perlu dibenahi pemerintah berkaca dari negara lain:
| Faktor Keberhasilan | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Dukungan Regulasi | Kebijakan yang memberikan kepastian hukum bagi investor dan pengembang. |
| Industri Dalam Negeri | Membangun rantai pasok lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. |
| Kecepatan Keputusan | Memangkas birokrasi dan diskusi yang berlarut-larut dalam penetapan proyek. |
Tabel di atas merujuk pada keberhasilan negara seperti Vietnam dan India dalam mempercepat transisi energi surya mereka. Indonesia diharapkan dapat meniru efektivitas pengambilan keputusan di negara-negara tersebut.
Fabby mengingatkan agar target ini tidak sekadar menjadi wacana atau mimpi tanpa aksi nyata di lapangan. Pemerintah diminta untuk segera menyelesaikan hambatan administratif dan regulasi yang selama ini menghambat perkembangan energi terbarukan.
Keberhasilan transisi energi nasional sangat bergantung pada komitmen serius pemerintah dalam membenahi seluruh faktor pendukung. Dengan langkah yang tepat, target 100 GW diharapkan bisa menjadi tonggak kemandirian energi Indonesia.