Himbara Ajukan Syarat ke Thomas Djiwandono Terkait LCT BI Terbaru 2026

Himbara Ajukan Syarat ke Thomas Djiwandono Terkait LCT BI Terbaru 2026
Foto: Himbara Ajukan Syarat ke Thomas Djiwandono Terkait LCT BI Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)

Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyatakan kesiapannya untuk terlibat lebih jauh dalam program pengembangan transaksi mata uang lokal atau local currency trade (LCT). Inisiatif strategis ini terus didorong oleh Bank Indonesia (BI) guna memperkuat stabilitas nilai tukar melalui pengurangan ketergantungan pada mata uang asing tertentu.

Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI), Putrama Wahju Setyawan, yang mewakili Himbara, mengungkapkan bahwa volume transaksi valuta asing di bank-bank pelat merah saat ini tergolong sangat tinggi. Khususnya untuk transaksi dengan China, nilai perdagangan valas menunjukkan angka yang signifikan sehingga membutuhkan skema khusus yang lebih efisien.

Sebagai langkah konkret, Himbara kini tengah bersiap untuk mengembangkan sistem LCT bersama tiga otoritas moneter besar dari wilayah terkait. Kolaborasi ini melibatkan Bank Indonesia, Bank Sentral China, dan Bank Sentral Hong Kong untuk merumuskan protokol peluncuran transaksi mata uang lokal yang lebih terintegrasi.

Fokus utama dari kerja sama ini adalah menciptakan mekanisme pertukaran langsung antara mata uang Yuan China (CNY) dengan Rupiah (IDR). Putrama menjelaskan hal ini di sela-sela agenda Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi XI DPR RI yang berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026.

Permintaan Dukungan Likuiditas ke Bank Indonesia

Meskipun mendukung penuh program ini, pihak Himbara secara terbuka mengajukan sebuah syarat krusial kepada Bank Indonesia agar implementasi LCT berjalan lancar. Syarat tersebut disampaikan langsung kepada Thomas Djiwandono yang kini menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Putrama menekankan bahwa kesuksesan bank dalam negeri dalam menjalankan LCT sangat bergantung pada ketersediaan modal valuta asing yang stabil. Tanpa jaminan likuiditas yang mumpuni, perbankan akan menghadapi tantangan operasional yang berat di pasar dalam negeri.

Poin utama syarat yang diajukan oleh Himbara kepada otoritas moneter :

  • Perbankan dalam negeri yang terlibat dalam program LCT memerlukan dukungan penuh dari Bank Indonesia.
  • Dukungan tersebut berupa jaminan likuiditas mata uang Yuan (CNY) sebesar 100% untuk memfasilitasi transaksi.
  • Kepastian pasokan likuiditas dari BI dianggap sebagai faktor kunci untuk memitigasi risiko volatilitas pasar.
  • Bank membutuhkan akses yang mudah terhadap mata uang mitra dagang tanpa harus bergantung pada pasar bebas yang fluktuatif.

Permintaan dukungan likuiditas ini diajukan karena mata uang Yuan (CNY) tidak tersedia secara melimpah di pasar bebas domestik layaknya Dollar AS. Keterbatasan ketersediaan fisik maupun elektronik di pasar umum menjadi tantangan tersendiri bagi bank-bank yang tergabung dalam Himbara.

Tantangan dan Potensi Transaksi LCT ke Depan

Kebutuhan likuiditas yang sangat besar menjadi alasan utama mengapa peran Bank Indonesia sangat sentral dalam skema ini. Putrama menyebutkan bahwa tanpa sokongan penuh dari bank sentral, implementasi penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan berskala besar akan sulit terealisasi.

Hingga saat ini, Indonesia dan China memang telah menyepakati perluasan penggunaan LCT demi mempererat hubungan investasi serta perdagangan bilateral. Kerja sama ini bertujuan untuk mengurangi biaya konversi mata uang yang selama ini harus melewati perantara Dollar AS (USD).

Berikut adalah ringkasan data transaksi LCT yang melibatkan Indonesia dan mitra dagang utamanya :

Kategori Informasi Detail Data dan Fakta
Nilai Transaksi LCT RI-China (2025) Lebih dari US$ 25 Miliar per tahun
Rata-rata Transaksi Bulanan (2026) Mencapai kisaran US$ 3,7 Miliar
Jenis Transaksi yang Tersedia Spot, Swap, dan Forward
Mitra Utama Otoritas Moneter BI, Bank Sentral China, Bank Sentral Hong Kong

Data di atas menunjukkan bahwa tren penggunaan mata uang lokal terus mengalami pertumbuhan positif dari tahun ke tahun. Peningkatan transaksi bulanan yang mencapai miliaran dollar membuktikan bahwa pelaku usaha mulai nyaman menggunakan skema non-dollar dalam bisnis mereka.

Dukungan Penuh bagi Pelaku Usaha

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sebelumnya telah menegaskan bahwa pihaknya terus memperluas jaringan bank yang melayani transaksi Yuan di dalam negeri. Sinergi antara BI dengan bank sentral negara mitra dilakukan untuk memastikan ekosistem pasar keuangan tetap sehat dan kompetitif.

Saat ini, masyarakat umum maupun pelaku bisnis skala besar sudah diberikan kemudahan untuk melakukan berbagai jenis transaksi menggunakan Yuan langsung di Indonesia. Layanan yang tersedia meliputi transaksi tunai seketika (spot) hingga transaksi lindung nilai seperti swap dan forward.

Langkah ini diambil untuk memberikan kepastian hukum dan kenyamanan bagi para investor yang menanamkan modalnya di tanah air. Dengan adanya keterlibatan aktif Himbara dan dukungan likuiditas dari BI, diharapkan posisi Rupiah akan semakin tangguh menghadapi gejolak ekonomi global.

Implementasi LCT yang semakin matang juga diprediksi akan menekan biaya operasional ekspor dan impor bagi perusahaan-perusahaan nasional. Efisiensi ini nantinya diharapkan dapat memberikan dampak positif pada stabilitas harga barang dan jasa di tingkat konsumen akhir.

Thomas Djiwandono selaku pihak otoritas terkait diharapkan dapat segera memberikan kepastian mengenai mekanisme dukungan likuiditas yang diminta oleh Himbara. Kejelasan aturan ini akan menjadi landasan bagi perbankan nasional untuk bergerak lebih agresif dalam mendukung program dedolarisasi pemerintah.

Artikel terkait

Rekomendasi