Hasto Ungkap Makna Mendalam Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, Terbaru 2026 yang Banyak Dicari

Hasto Ungkap Makna Mendalam Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, Terbaru 2026 yang Banyak Dicari
Foto: Hasto Ungkap Makna Mendalam Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, Terbaru 2026 yang Banyak Dicari. (Illustration by Pexels)

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, memberikan penjelasan mendalam mengenai makna di balik lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme". Lagu tersebut kini rutin diputar dalam berbagai agenda internal partai berlambang banteng moncong putih tersebut.

Menurut Hasto, pemutaran lagu ini bukan sekadar rutinitas, melainkan memiliki filosofi sebagai upaya pelurusan sejarah. PDIP ingin memperkuat kembali konsolidasi ideologi setelah sempat mengalami keterputusan sejarah pada era Orde Baru.

Hasto mengungkapkan bahwa Prananda Prabowo, Kepala Situation Room PDIP, memegang peran kunci dalam menghadirkan kembali lagu ini. Lagu tersebut diperkenalkan ulang dengan aransemen yang lebih segar dan modern bagi kader.

Langkah ini diambil dengan tujuan khusus untuk menghapus citra negatif yang selama ini sengaja ditempelkan pada istilah Marhaen. Selama puluhan tahun, istilah tersebut sering disalahartikan oleh sebagian kalangan di masyarakat.

Penjelasan ini disampaikan Hasto usai mengikuti Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. Acara tersebut berlangsung di halaman Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Senin, 1 Juni 2026.

Hasto menekankan peran penting aransemen baru lagu Mars Bung Karno Bapak Marhaenisme sebagai berikut:

  • Membangkitkan kesadaran kolektif kader mengenai watak sejati dari Pancasila sebagai dasar negara.
  • Mendorong perubahan struktur sosial yang menindas dengan landasan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
  • Memperkuat prinsip keadilan, kebangsaan, serta kerakyatan dalam setiap langkah perjuangan partai.
  • Menghidupkan kembali semangat Bung Karno dalam membela hak-hak rakyat kecil di Indonesia.

Melalui lagu ini, Hasto berharap kader PDIP mampu memahami bahwa politik harus berpihak pada rakyat jelata. Transformasi sosial harus dilakukan berdasarkan nilai-nilai luhur yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa.

Memahami Konsep Marhaenisme Secara Jernih

Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga mengklarifikasi anggapan keliru yang menyamakan Marhaenisme dengan komunisme. Ia menegaskan bahwa Marhaenisme adalah realitas sosial asli Indonesia yang menjadi basis perjuangan Bung Karno.

Konsep ini mewakili sosok rakyat kecil yang memiliki alat produksi sendiri namun tetap hidup dalam keterbatasan. Mereka adalah kaum mandiri yang perlu disadarkan secara politik agar mampu menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan PDIP mengusulkan lagu ini agar diputar dalam agenda resmi kenegaraan, Hasto memberikan jawaban diplomatis. Ia menekankan bahwa hal yang paling krusial bagi PDIP adalah penyerapan nilai atau "ruh" dari lagu tersebut.

Bagi partai, implementasi nyata lebih penting daripada sekadar seremoni pemutaran lagu di tingkat nasional. Semangat kemerdekaan dan keberpihakan pada rakyat kecil harus tercermin dalam setiap kebijakan yang diambil pemerintah.

Hasto memerinci fokus utama partai dalam menyerap esensi lagu tersebut dalam beberapa poin:

  • Menanamkan spirit bahwa kebijakan politik harus sepenuhnya didedikasikan untuk kepentingan rakyat Marhaen.
  • Mendorong integrasi antara kebijakan ideologis dengan langkah-langkah teknokratis yang nyata.
  • Memastikan setiap program pemerintah memberikan kemanfaatan yang langsung dirasakan oleh masyarakat bawah.
  • Menggunakan kekuasaan politik sebagai alat untuk membebaskan rakyat dari belenggu ketidakadilan.

Hasto juga menyoroti kondisi objektif bangsa Indonesia saat ini yang menurutnya masih menghadapi tantangan besar. Ia menilai Indonesia masih tertinggal di beberapa sektor makro dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Ia mencontohkan sektor pendidikan yang kualitasnya dianggap menurun, serta persaingan dengan Singapura dan Malaysia yang semakin ketat. Refleksi terhadap pemikiran pendiri bangsa dianggap menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Melalui esensi lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme", PDIP berkomitmen mengembalikan politik pada fungsi sejatinya. Politik harus menjadi sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan rakyat dari segala bentuk penindasan.

Beberapa tantangan nasional yang menjadi sorotan Hasto dalam refleksi ideologis ini meliputi:

Sektor Tantangan Fokus Perbaikan Melalui Spirit Marhaenisme
Pendidikan Meningkatkan kualitas SDM agar mampu bersaing dengan negara tetangga.
Ekonomi Membebaskan rakyat dari jerat kemiskinan sistemik dan struktural.
Sosial Menghapus kebodohan melalui akses informasi dan edukasi yang merata.
Hukum Menjamin keadilan bagi rakyat kecil yang seringkali terabaikan.

Tabel di atas merangkum bagaimana PDIP mencoba menerjemahkan syair lagu menjadi agenda kerja yang konkret. Fokus utama mereka adalah memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Sebagai penutup, Hasto menegaskan kembali bahwa watak sejati politik Indonesia haruslah membebaskan. Politik tidak boleh hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan, melainkan alat perjuangan untuk melawan kemiskinan dan ketidakadilan secara konsisten.

Artikel terkait

Rekomendasi