Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menjelaskan makna mendalam di balik lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme". Lagu ini belakangan sering diperdengarkan dalam berbagai kegiatan internal partai berlogo banteng tersebut.
Hasto menyebutkan bahwa lagu tersebut bukan sekadar musik biasa, melainkan instrumen untuk meluruskan sejarah. Selain itu, lagu ini berfungsi memperkuat ideologi partai bagi seluruh kader di Indonesia.
Upaya Menghapus Stigma dan Memperkuat Ideologi
Lagu ini diperkenalkan kembali guna membangkitkan pemahaman yang benar mengenai konsep Marhaenisme. Selama ini, ajaran Bung Karno tersebut dianggap sering disalahartikan oleh banyak pihak.
Hasto memaparkan rincian mengenai peran lagu tersebut bagi internal PDIP:
- Menjadi simbol penting untuk mengenalkan kembali sosok Bung Karno sebagai pencetus Marhaenisme.
- Menghapus stigma negatif yang selama ini menempel pada istilah Marhaen.
- Menghidupkan semangat kader untuk berpihak pada rakyat kecil atau wong cilik.
- Menjadi pengingat akan watak sejati Pancasila dalam merombak struktur sosial yang menindas.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa lagu tersebut memiliki dimensi edukasi sejarah sekaligus doktrin ideologis yang kuat bagi para anggota partai.
Hasto menambahkan bahwa Muhammad Prananda Prabowo memiliki peran besar dalam menghadirkan kembali lagu tersebut. Beliau mengaransemen ulang lagu tersebut agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.
Langkah aransemen baru ini diambil karena adanya keterputusan sejarah yang terjadi pada masa Orde Baru. Hal tersebut sempat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap ajaran asli Presiden pertama RI tersebut.
"Sangat penting lagu Mars Bung Karno Bapak Marhaenisme ini diperkenalkan kembali oleh Mas Prananda Prabowo dengan aransemen baru," ungkap Hasto. Pernyataan ini disampaikan usai upacara Hari Lahir Pancasila di Masjid At-Taufiq, Jakarta Selatan.
Marhaenisme Sebagai Realitas Sosial Rakyat Indonesia
Hasto secara tegas memberikan klarifikasi mengenai konsep Marhaenisme yang sering disalahpahami. Ia menyebutkan bahwa selama ini Marhaen kerap dicap secara keliru sebagai bagian dari komunisme.
Padahal, Marhaenisme merupakan sebuah realitas sosial yang ditemui Bung Karno di lapangan. Ini merupakan gambaran rakyat kecil yang hidup mandiri namun tetap berada dalam garis kemiskinan.
| Aspek Konsep | Penjelasan Hasto Kristiyanto |
|---|---|
| Konteks Historis | Lahir dari pengamatan Bung Karno terhadap rakyat kecil yang terpinggirkan namun tetap mandiri. |
| Tujuan Utama | Membangun kesadaran rakyat untuk merdeka dari berbagai bentuk penindasan struktur sosial. |
| Subjek Politik | Menempatkan rakyat kecil sebagai pusat dari seluruh perjuangan politik dan ekonomi bangsa. |
Melalui tabel tersebut, terlihat jelas bahwa Marhaenisme berfokus pada pemberdayaan kelompok masyarakat yang tidak memiliki alat produksi namun tetap bekerja keras.
Hasto menekankan bahwa lagu tersebut menjadi sarana penting untuk membangkitkan kesadaran tentang nilai Pancasila. Hal ini mencakup nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, serta kerakyatan yang menjadi landasan bangsa.
Ketika ditanya mengenai potensi pemutaran lagu tersebut dalam acara resmi kenegaraan, Hasto memberikan pandangan bijak. Menurutnya, pemutaran secara fisik bukanlah hal yang paling utama bagi partai.
Hal yang jauh lebih esensial adalah implementasi semangat lagu tersebut ke dalam kebijakan nyata negara. Semangat pembelaan terhadap rakyat kecil harus tercermin dalam keputusan-keputusan strategis pemerintah.
"Bagi PDI Perjuangan, yang terpenting adalah spiritnya, spirit kemerdekaan dan politik untuk rakyat Marhaen," tegas Hasto. Ia menginginkan adanya kebijakan ideologis hingga teknokratis yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Tantangan Daya Saing dan Kualitas Pendidikan Bangsa
Hasto juga tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan besar yang kini sedang melanda Indonesia. Ia menyoroti posisi daya saing Indonesia yang dinilai mulai tertinggal dari negara-negara tetangga.
Secara khusus, ia menyebutkan penurunan kualitas pendidikan sebagai masalah serius yang harus segera diatasi. Indonesia mulai tertinggal jika dibandingkan dengan pencapaian Singapura maupun Malaysia.
Dalam pandangannya, pemikiran para pendiri bangsa masih sangat relevan untuk menjawab persoalan masa kini. Nilai-nilai lama tetap bisa menjadi solusi bagi problem modern yang dihadapi masyarakat.
Melalui semangat yang terkandung dalam lagu Bung Karno tersebut, PDIP ingin memperkuat watak politik yang membebaskan. Hal ini termasuk membebaskan rakyat dari belenggu kebodohan serta ketidakadilan sistemik.
Hasto menutup penjelasannya dengan komitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak rakyat melalui jalur politik yang bersih. Semangat Marhaenisme akan terus dijadikan kompas dalam setiap langkah perjuangan partai ke depan.