Nilai komoditas emas dunia mencatat penurunan signifikan lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan Selasa (19/5/2026) waktu setempat akibat dipicu oleh penguatan mata uang dollar AS serta melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Kondisi pasar komoditas global tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran inflasi yang terus membayangi pelaku pasar, sebagaimana dilansir dari Money melalui laporan Reuters.
Data perdagangan menunjukkan harga emas spot merosot sebesar 1,4 persen ke level 4.503,98 dollar AS per ons, bahkan sempat menyentuh titik terendah sejak 30 Maret 2026 pada awal sesi.
Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Juni juga melemah 1 persen hingga menetap pada level 4.511,20 dollar AS per ons.
Tekanan terhadap logam mulia ini terjadi seiring dengan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati level tertinggi dalam setahun terakhir.
Penguatan indeks dollar AS dipicu oleh perkiraan bahwa bank sentral AS atau The Fed akan mengambil tindakan lebih agresif guna meredam tekanan inflasi dari sektor energi.
Kenaikan hasil obligasi meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sementara penguatan dollar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.
Tingginya harga minyak mentah Brent akibat kekhawatiran pasokan energi dunia turut memperbesar risiko inflasi, sehingga bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Situasi tersebut membuat ekspektasi investor bergeser ke kemungkinan tidak adanya penurunan suku bunga atau bahkan pengetatan kebijakan moneter lanjutan pada akhir tahun 2026.
Analis Marex Edward Meir memberikan pandangan mengenai faktor utama yang menjadi penyebab tertekannya pergerakan komoditas ini di pasar global.
"Kami melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara di dunia, dan hal itu benar-benar membebani harga emas. Dollar AS juga lebih kuat, dan itu menjadi sentimen negatif," ujar Edward Meir, Analis Marex.
Kondisi makroekonomi ini diakui turut mengubah peta pergerakan instrumen investasi yang biasanya dinilai sebagai aset aman saat inflasi tinggi.
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen menggarisbawahi tantangan yang dihadapi oleh komoditas logam mulia ini dalam jangka pendek.
"Meskipun alasan investasi struktural untuk emas sebagian besar masih tetap kuat, perkembangan makroekonomi jangka pendek telah menciptakan kondisi yang lebih menantang bagi harga emas," tulis Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank.
Ia memproyeksikan potensi pemulihan pasar akan bergantung pada dinamika sektor energi global ke depan.
"Begitu tekanan terkait energi mulai mereda, permintaan dari bank sentral kemungkinan kembali muncul sebagai pendorong utama pasar," lanjut Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank.
Saat ini para pelaku pasar sedang mengantisipasi perilisan risalah rapat kebijakan terbaru dari bank sentral Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Rabu waktu setempat.
Penurunan harga pada perdagangan tersebut tidak hanya dialami oleh emas, melainkan juga berdampak pada komoditas logam mulia lainnya.
Harga perak spot tercatat anjlok 4,1 persen ke level 74,53 dollar AS per ons setelah sempat menyentuh angka terendah dalam kurun waktu sekitar dua pekan terakhir.
Selain itu, harga platinum mengalami penurunan sebesar 2,2 persen menjadi 1.936,10 dollar AS per ons, diikuti oleh palladium yang merosot 4,2 persen ke level 1.359,26 dollar AS per ons.