Fenomena "demam emas" yang melanda Brasil kini memicu kekacauan besar dan mengancam stabilitas lingkungan serta sosial di wilayah tersebut. Situasi paling mengkhawatirkan terjadi di wilayah adat Bau, negara bagian Para, yang terletak jauh di dalam hutan hujan Amazon.
Ketegangan memuncak saat kepala suku adat setempat, Bepdjo Mekragnotire, memimpin aksi pengusiran paksa terhadap para penambang liar yang merambah wilayah mereka. Dalam empat tahun terakhir, Bepdjo mengeklaim telah mengusir hampir 200 penambang ilegal yang mencoba mengeruk keuntungan dari tanah adat.
Bepdjo mengungkapkan bahwa tingginya harga emas di pasar global saat ini menjadi pemicu utama sikap nekat para penambang tersebut. Meski sudah berulang kali diusir, mereka tetap kembali masuk melalui berbagai celah demi mendapatkan logam mulia tersebut.
Eskalasi Konflik di Wilayah Lindung
Lonjakan harga emas yang mencetak rekor tertinggi baru telah mendorong gelombang penambangan liar ke daerah-daerah yang sebelumnya belum terjamah. Kondisi ketidakstabilan global membuat emas menjadi aset yang sangat diburu, meskipun harus merusak ekosistem hutan Amazon.
Konflik fisik bahkan tidak terhindarkan ketika senjata sempat ditodongkan dalam sebuah pertemuan antara prajurit Kayapo dan kelompok penambang pada Februari lalu. Dalam insiden tersebut, Bepdjo dan pasukannya berhasil memukul mundur sekitar 24 orang yang masuk menggunakan perahu kano.
Beberapa fakta penting terkait dampak pertambangan di Amazon berdasarkan data Amazon Mining Watch:
- Total luas lahan yang terdampak pertambangan di Brasil mencapai 223.000 hektar dalam periode 2018 hingga 2025.
- Hampir 80 persen dari total aktivitas pertambangan tersebut dikategorikan sebagai tindakan ilegal.
- Aktivitas tambang liar meningkat pesat selama masa kepemimpinan mantan presiden Jair Bolsonaro karena adanya iklim impunitas.
- Penambangan telah berevolusi dari skala kecil menjadi operasi bernilai jutaan dolar yang didukung mesin berat dan pesawat terbang.
Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva sebenarnya telah melakukan tindakan tegas sejak tahun 2023. Namun, luasnya wilayah hutan Amazon membuat para penambang dengan mudah bersembunyi lebih jauh ke dalam hutan.
Upaya Pemerintah dan Celah Penyelundupan
Nilton Tubino, pejabat yang ditunjuk pemerintah untuk melindungi wilayah adat, mengakui sulitnya memutus rantai penambangan ini secara total. Para pelaku memiliki kapasitas organisasi yang kuat untuk membangun kembali infrastruktur tambang sesaat setelah dihancurkan oleh petugas.
Sebagai solusi jangka panjang, Brasil sedang menyusun regulasi baru untuk memperkuat sistem pelacakan asal-usul emas. Kepolisian setempat bahkan mulai mengembangkan basis data "DNA" emas guna mengidentifikasi lokasi pasti tempat bijih emas tersebut diekstraksi.
Ringkasan data produksi dan ekspor emas Brasil pada tahun 2025:
| Kategori Informasi | Data Statistik / Detail |
|---|---|
| Total Produksi Emas 2025 | 71 Ton |
| Negara Tujuan Ekspor Utama | Kanada, Swiss, dan Inggris |
| Status Pertambangan | 80% Ilegal di Amazon |
| Metode Penyelundupan | Melalui Guyana dan Venezuela |
Data di atas menunjukkan betapa besarnya skala industri emas di Brasil, namun sekaligus menonjolkan kerentanan sistem pengawasannya. Sebagian besar emas yang dihasilkan akhirnya mengalir ke pasar internasional melalui jalur-jalur yang sulit dilacak.
Munculnya Krisis Baru dan Praktik Cuci Emas
Meskipun penindakan pemerintah semakin gencar, Institut Escolhas memperingatkan adanya krisis baru dalam bentuk jalur penyelundupan lintas negara. Emas yang biasanya tercatat secara resmi kini mulai dialihkan melalui negara tetangga seperti Venezuela atau Guyana untuk menghindari pemeriksaan.
Selain itu, muncul fenomena "tambang hantu" yang digunakan sebagai sarana pencucian emas hasil jarahan di kawasan lindung. Lokasi-lokasi ini memiliki izin resmi di atas kertas, namun saat diperiksa melalui udara, tidak ditemukan aktivitas penambangan nyata di sana.
Di sisi lain, kalangan koperasi penambang merasa keberatan jika semua penambang dicap sebagai pelaku kriminal. Fernando Lucas, Ketua Federasi Koperasi Penambang Emas di Para, menyatakan bahwa banyak anggotanya yang ingin bekerja secara legal namun terkendala oleh birokrasi yang rumit.