Dua rumah tua peninggalan masa Hindia Belanda berdiri di tengah permukiman warga di Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan. Bangunan tersebut menjadi sisa terakhir dari kompleks perkebunan kolonial yang dahulu dikenal sebagai pusat perkebunan terbesar di Tangerang Raya, seperti dikutip dari Megapolitan.
Kondisi dua bangunan berbentuk rumah itu kini tampak sunyi dan memprihatinkan dengan cat dinding yang memudar serta atap yang mulai rusak. Rumput liar tampak tumbuh subur di sekitar halaman bangunan yang perlahan lapuk dimakan usia.
Bangunan pertama memiliki tujuh petak ruangan yang dibatasi oleh tembok. Satu petak terbesar dahulu berfungsi sebagai ruang makan, sementara petak lainnya terbagi menjadi satu kamar mandi, dua kamar tidur, dan satu ruang tamu.
Struktur bangunan pertama ini dipenuhi keretakan pada dinding yang bahkan nyaris terbelah. Jamur tumbuh di sejumlah bagian tembok, kaca jendela pecah, dan sebagian dinding serta jendela terpaksa disangga bambu agar tidak roboh.
Di dalam rumah pertama, rumput liar tumbuh di sela-sela ubin serta sebatang pohon hidup dengan akar menjalar menembus tembok. Meski bangunan nyaris ambruk, genteng di atap rumah ini masih tersusun cukup rapi hingga arsitektur khas Belanda tetap terlihat.
Sementara itu, bangunan kedua yang berdiri sekitar 10 meter dari rumah pertama memiliki enam petak ruangan. Ruangan tersebut terdiri dari satu ruang makan, satu ruang tamu, tiga kamar tidur, dan satu kamar mandi.
Kondisi bangunan kedua dinilai jauh lebih parah karena sebagian besar genteng sudah hilang dan atapnya nyaris tidak berbentuk. Bagian jendela dan pintu rusak dengan kaca pecah serta daun pintu yang hilang dimakan rayap.
Jamur juga tumbuh di hampir setiap sudut rumah kedua ini. Sebuah pohon besar tumbuh di atas tembok rumah dengan akar yang menjalar hingga menembus dinding bangunan.
Kawasan tersembunyi yang kini menjadi permukiman warga ini dulunya merupakan pusat aktivitas perkebunan pada masa kolonial Belanda. Seorang warga yang merawat bangunan tersebut, Sulaiman (62), mengungkapkan bahwa wilayah itu dahulu dipenuhi rumah peninggalan Belanda.
"Dulu itu ada lebih dari 100 bangunan Belanda di sini," kata Sulaiman saat ditemui Kompas.com.
Rumah-rumah tersebut merupakan rumah dinas untuk pejabat perkebunan pada masa Hindia Belanda. Salah satu bangunan yang tersisa bahkan disebut sebagai rumah demang atau pejabat kepercayaan direksi perkebunan.
"Demang itu artinya wakil, orang kepercayaan nomor dua dari pihak direksi, mempunyai jabatan tinggi lah demang itu di sini," kata Sulaiman.
Bangunan bersejarah ini sudah berdiri sejak sebelum tahun 1945 atau sebelum Indonesia merdeka. Memasuki masa nasionalisasi pada 1949, rumah-rumah tersebut ditempati oleh pengelola perkebunan milik pemerintah Indonesia.
"Perusahaan perkebunan termasuk BUMN semuanya, yang tadinya dikuasai oleh Belanda dinasionalisasikan menjadi hak milik pemerintah Indonesia seperti itu," jelas dia.
Satu per satu bangunan mulai hilang seiring berjalannya waktu akibat roboh dimakan usia, dipugar, atau berubah fungsi.
ÔÇ£Dalam perjalanannya sisanya tinggal dua ini lagi,ÔÇØ imbuh dia.
Dua bangunan yang tersisa sempat ditempati hingga tahun 2017. Rumah tersebut mulai kosong setelah terjadi perubahan pengelolaan pada perusahaan perkebunan.
ÔÇ£Rusaknya mulai dari atas, dari genteng. Kalau genteng pecah atau geser enggak diganti, kayunya lama-lama keropos,ÔÇØ kata dia.
Perawatan Swadaya Menggunakan Dana Pribadi
Sulaiman tetap berusaha merawat area sekitar rumah tua tersebut seorang diri di tengah kondisi bangunan yang semakin memprihatinkan. Ia rutin membersihkan rumput liar, memangkas tanaman di atap, dan menjaga keamanan lingkungan sekitar.
Langkah ini dilakukan agar lokasi tetap aman saat dikunjungi oleh warga maupun mahasiswa yang datang untuk melakukan penelitian sejarah.
"Kalau datang, saya suka enggak izinkan mereka masuk karena kondisi bangunannya sudah lapuk, khawatir kena," kata dia.
Seluruh biaya perawatan bangunan ini bersumber dari uang pribadi Sulaiman yang dilakukan secara sukarela karena nilai sejarahnya yang kuat.
ÔÇ£Ya alhamdulillah kalau ada rezeki saya sisihkan. Ikhlas saja,ÔÇØ kata Sulaiman.
Bagi Sulaiman, bangunan tua tersebut memiliki arti penting sebagai bagian dari sejarah Tangerang Selatan yang perlu dijaga agar tidak lenyap.
ÔÇ£Untuk perkebunan sejarahnya di Tangerang Raya itu hanya di sini satu-satunya,ÔÇØ ucap dia.