Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak lebih dari 500 poin pada Senin (2/2/2026) waktu setempat di tengah penguatan bursa saham Amerika Serikat. Investor mengalihkan fokus pada solidnya laporan laba perusahaan meski pasar kripto dan logam mulia sedang bergejolak.
Dilansir dari Investortrust, Dow Jones ditutup menguat 515,19 poin atau 1,05 persen ke level 49.407,66. Pada saat yang sama, S&P 500 naik 0,54 persen ke 6.976,44 dan Nasdaq Composite bertambah 0,56 persen menjadi 23.592,11.
Kondisi ini kontras dengan pasar komoditas dan kripto di mana Bitcoin sempat jatuh ke bawah level US$80.000 untuk pertama kalinya sejak April. Perak mencatatkan penurunan harian terburuk sejak 1980 dengan anjlok 30 persen, sementara kontrak berjangka emas merosot sekitar 11 persen.
Sentimen risiko mulai mereda setelah aset-aset tersebut memangkas pelemahan di akhir perdagangan. Bitcoin terakhir berada di kisaran US$78.000, sedangkan emas spot dan perak spot masing-masing turun 4 persen dan 5 persen pada penutupan Senin.
Sektor teknologi turut menjadi perhatian setelah saham Nvidia turun hampir 3 persen menyusul laporan Wall Street Journal mengenai terhentinya rencana investasi di OpenAI. Di sisi lain, saham raksasa teknologi seperti Amazon dan Alphabet justru tercatat menguat.
Sejauh ini, musim laporan keuangan di bursa AS dinilai sangat positif bagi para pelaku pasar. Analis Deutsche Bank mencatat pertumbuhan laba berada pada jalur terkuat dalam empat tahun, dengan 78 persen perusahaan S&P 500 melampaui ekspektasi.
Kepala Investasi Orion, Tim Holland, menilai bahwa dinamika pasar saat ini masih didominasi oleh faktor-faktor fundamental yang mendukung pertumbuhan harga saham secara jangka panjang.
"Menurut kami, tren yang lebih besar, yang sebagian besar positif, masih tetap berlaku," ujar Tim Holland, chief investment officer Orion.
Holland menegaskan bahwa perhatian utama pelaku pasar saat ini tertuju pada kinerja keuangan perusahaan dan kebijakan fiskal yang dinilai tetap konstruktif bagi dunia usaha.
"Yang terpenting saat ini tetap laba perusahaan, latar belakang kebijakan fiskal ÔÇö yang masih konstruktif meskipun ada penutupan sementara pemerintah ÔÇö serta faktor musiman," tambah Tim Holland.
Meskipun mayoritas emiten mencetak hasil positif, beberapa perusahaan mengalami tekanan pasca-laporan keuangan. Saham Disney turun 7 persen setelah manajemen memperingatkan penurunan jumlah wisatawan internasional, meski perolehan laba mereka sebenarnya melampaui estimasi pasar.
Faktor valuasi, terutama pada saham berkapitalisasi besar, tetap menjadi poin pengawasan bagi para investor di tengah berlanjutnya pertumbuhan laba korporasi.
"Jika melihat apa yang selama ini membuat pelaku pasar khawatir terhadap harga saham domestik, itu adalah valuasi, terutama di saham berkapitalisasi besar. Pertumbuhan laba dua digit untuk kuartal kelima berturut-turut, akan sangat membantu meredakan kekhawatiran valuasi yang kita hadapi dalam beberapa tahun terakhir," urai Tim Holland.