Aliran modal asing kembali mengalir ke pasar negara berkembang atau emerging markets pada pekan ketiga April 2026. Penurunan volatilitas pasar keuangan global serta merosotnya persepsi risiko investasi menjadi pendorong utama tren tersebut.
Meski sentimen global membaik, aliran dana tersebut belum sepenuhnya masuk ke dalam negeri. Seperti dilansir dari Investortrust, investor asing terpantau masih melakukan aksi jual bersih atau net outflows dari pasar saham dan obligasi domestik.
Kondisi ini berimbas pada mata uang Garuda yang bergerak melemah di saat mayoritas mata uang negara berkembang lainnya justru menguat. Fenomena tersebut dipaparkan dalam laporan BRI Weekly Economic Update W3 April 2026 yang dirilis oleh Office of Chief Economist Group BRI.
Laporan yang diterbitkan pada Senin (20/04/2026) itu menyebutkan bahwa merosotnya volatilitas pasar keuangan global dipicu oleh perkembangan positif di Timur Tengah. Salah satu faktornya yaitu pernyataan Donald Trump mengenai perang dengan Iran yang disebut hampir selesai.
Sentimen positif makin diperkuat oleh kabar tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Selain itu, Iran sempat membuka blokade Selat Hormuz pada 17 April 2026, walaupun kembali ditutup dalam waktu kurang dari 24 jam akibat sikap Amerika Serikat.
Perkembangan situasi ini membuat persepsi risiko investasi global yang tecermin pada credit default swap tenor lima tahun mengalami penurunan. Dampaknya, modal asing kembali bergerak masuk ke pasar negara berkembang dengan nilai mencapai US$6,4 miliar pada pekan ketiga April 2026.
Catatan Keluar Modal Asing dari Pasar Domestik
Indonesia belum menikmati limpahan modal internasional ini secara maksimal. Laporan BRI mencatat investor asing membukukan net outflows sebesar US$0,16 miliar di pasar saham domestik pada pekan ketiga April 2026, meski angka ini lebih rendah dari pekan sebelumnya yang mencapai US$0,19 miliar.
Kondisi serupa terjadi di pasar obligasi pemerintah dengan catatan net outflows asing sebesar US$0,05 miliar. Angka tersebut berbalik dari posisi pekan sebelumnya yang sempat membukukan net inflows tipis sebesar US$0,09 miliar.
Sektor mata uang juga menunjukkan tekanan, di mana rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,54% secara mingguan. Tekanan pelemahan ini meningkat pada seluruh tenor di pasar non-deliverable forward.
Padahal, pada periode yang sama, indeks dolar AS bergeser melemah sebesar 0,56% week on week ke level 98,10 dan indeks Asia Dollar menguat ke 92,85. Perbedaan tren ini mengindikasikan bahwa tekanan yang dialami rupiah bersifat lebih spesifik.
Secara umum, pasar saham global bergerak menguat dengan mayoritas imbal hasil obligasi pemerintah global tenor 10 tahun yang menurun. Situasi meredanya tensi geopolitik ini dimanfaatkan investor global untuk melakukan repricing risiko.
Bagi pasar domestik, tingkat kehati-hatian investor asing dinilai masih cukup tinggi. Pasar saat ini masih menantikan kejelasan arah risiko lanjutan, termasuk hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan pada 22 April 2026.