Ciptadana Asset Management Sarankan Strategi Investasi Jangka Panjang

Ciptadana Asset Management Sarankan Strategi Investasi Jangka Panjang
Foto: Ilustrasi Ciptadana Asset Management Sarankan Strategi Investasi Jangka Panjang.

PT Ciptadana Asset Management menilai strategi investasi jangka panjang tanpa banyak bertransaksi berpotensi menghasilkan imbal hasil lebih optimal bagi investor di tengah kondisi pasar yang fluktuatif saat ini. Pendekatan pasif tersebut dinilai lebih menguntungkan dibandingkan dengan metode aktif keluar-masuk pasar modal secara terus-menerus.

Dilansir dari Investortrust, Equity Fund Manager Ciptadana Asset Management, Andrian Winoto mengungkapkan bahwa riset di Amerika Serikat menunjukkan hasil tertinggi justru diperoleh oleh kelompok investor reksadana saham yang tidak aktif melakukan transaksi.

"Yang paling tinggi itu justru investor yang lupa punya reksadana. Kedua adalah investor yang sudah meninggal sehingga investasinya tidak tersentuh," ujar Andrian Winoto, Equity Fund Manager Ciptadana Asset Management.

Menurut Andrian, data tersebut membuktikan bahwa strategi menebak momentum pasar (market timing) seperti menjual saat harga tinggi dan membeli saat harga rendah tidak selalu berjalan efektif. Investor ritel yang terlalu aktif bertransaksi justru memiliki risiko kehilangan momentum ketika pasar sedang mengalami kenaikan.

Fenomena ini dinilai tidak hanya terjadi pada instrumen reksadana saham, tetapi juga pada investasi saham secara langsung. Dalam periode jangka panjang, pergerakan pasar cenderung menunjukkan tren naik meskipun selalu diwarnai oleh fluktuasi jangka pendek.

Andrian menambahkan bahwa pasar saat ini menghadapi potensi volatilitas yang dipicu oleh dinamika global maupun domestik. Lonjakan harga minyak dunia telah memengaruhi harga energi di dalam negeri termasuk bahan bakar, yang berisiko menekan daya beli masyarakat serta kinerja ekonomi nasional.

Sentimen lain yang dapat memicu pergerakan pasar dalam waktu dekat adalah keputusan terkait indeks global MSCI. Kendati demikian, investor ritel diimbau untuk mengabaikan dinamika jangka pendek dan menerapkan strategi investasi berkala atau dollar cost averaging (DCA).

"Daripada mencoba menebak kondisi pasar, lebih baik menabung secara konsisten, misalnya setiap bulan setelah menerima gaji," jelas Andrian Winoto, Equity Fund Manager Ciptadana Asset Management.

Kesulitan dalam memprediksi waktu paling tepat untuk masuk dan keluar dari pasar modal diakui tetap ada, bahkan hal tersebut juga dialami oleh para manajer investasi profesional.

Melihat dari sisi fundamental, Andrian mencatat adanya sinyal pemulihan ekonomi domestik pada awal tahun yang ditunjukkan melalui pertumbuhan penjualan mobil dan sepeda motor hingga dua digit. Selain itu, indikator positif lain terlihat dari peningkatan penjualan semen serta perbaikan pada pertumbuhan kredit.

Kendati awal tahun menunjukkan data yang cukup baik, tekanan dari faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik global dan lonjakan harga minyak tetap menjadi risiko ke depan. Kenaikan harga bahan baku berbasis energi seperti plastik yang mencapai 30 hingga 50 persen berpotensi meningkatkan beban biaya produksi pada berbagai sektor industri.

"Secara data, awal tahun ini sebenarnya cukup baik. Tetapi ke depan memang ada risiko dari faktor eksternal seperti harga minyak dan kondisi global," pungkas Andrian Winoto, Equity Fund Manager Ciptadana Asset Management.

Artikel terkait

Rekomendasi