Sejumlah emiten di sektor perbankan saat ini masih berupaya keras untuk memenuhi ketentuan regulator terkait batasan saham beredar di publik atau free float minimal sebesar 15 persen.
Hingga memasuki pertengahan tahun 2026, banyak bank yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) terlihat masih kesulitan untuk meningkatkan porsi kepemilikan saham masyarakat sesuai target tersebut.
Berdasarkan data riset hingga Senin, 1 Juni 2026, setidaknya terdapat 24 emiten perbankan yang komposisi kepemilikan saham publiknya masih berada di bawah angka 15 persen.
BEI sendiri telah menetapkan jadwal tenggat waktu yang cukup longgar bagi para emiten untuk merealisasikan ketentuan modal disetor ini.
Bagi perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar di atas Rp5 miliar, batas akhir pemenuhan standar free float 15 persen ditetapkan paling lambat pada 31 Maret 2028.
Sementara itu, bagi emiten yang memiliki kapitalisasi pasar di bawah Rp5 miliar, regulator memberikan kelonggaran waktu tambahan hingga 31 Maret 2029 mendatang.
Alasan Emiten Menahan Pelepasan Saham
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama yang membuat perusahaan cenderung menunda penambahan porsi saham publik.
Alasan pertama berkaitan dengan pengendalian internal perusahaan, di mana banyak emiten khawatir hak suara mereka akan berkurang dalam pengambilan keputusan bisnis strategis.
Selain masalah kendali, perusahaan juga sangat berhati-hati dalam menentukan momentum yang tepat untuk melepas saham tambahan ke pasar modal.
Nafan menyebutkan bahwa jika pelepasan saham dilakukan saat kondisi industri sedang lesu, maka harga saham emiten tersebut berisiko dinilai terlalu rendah atau undervalued.
Faktor pertimbangan utama emiten dalam menentukan momentum pelepasan saham:
- Menjaga kendali suara dalam rapat umum pemegang saham agar tetap dominan sesuai strategi bisnis.
- Menunggu kondisi pasar yang bergairah agar valuasi saham mencapai titik optimal saat dilepas.
- Mempertimbangkan stabilitas harga saham karena tingkat free float yang tinggi berbanding lurus dengan tingginya likuiditas dan volatilitas.
- Memperhitungkan biaya proses penambahan saham yang tidak murah dan membutuhkan waktu administratif yang panjang.
Menurut Nafan, emiten kemungkinan besar akan terus menahan diri hingga mendekati batas akhir tahun 2028 atau 2029 demi mengejar valuasi yang paling menguntungkan.
Ia menambahkan bahwa stabilitas harga seringkali menjadi prioritas bagi beberapa perusahaan dibandingkan mengejar likuiditas tinggi melalui pergerakan saham yang agresif.
Strategi Perbankan Besar Menuju Target
Salah satu bank besar yang masih berada di bawah target adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dengan tingkat free float saat ini di angka 7,50 persen.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan langkah-langkah persiapan untuk memenuhi aturan tersebut.
Lani menegaskan komitmennya bahwa BNGA akan patuh terhadap regulasi yang berlaku dan optimis bisa memenuhi jadwal yang telah ditentukan oleh otoritas bursa.
Meskipun porsi saham publik masih rendah, investor asing tampak masih meminati saham ini dengan catatan beli bersih atau net buy sebesar Rp1 miliar dalam sepekan terakhir.
Kondisi serupa dialami oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang mencatatkan porsi kepemilikan saham publik di level 9,33 persen.
Grandhis Helmi Harumansyah selaku Direktur Manajemen Risiko BSI menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu instruksi dari entitas pengelola investasi pemerintah, yakni Danantara.
Langkah strategis yang diambil BSI dalam menjaga kepercayaan pasar:
- Melakukan koordinasi intensif dengan Danantara dan para pemegang saham utama terkait pelepasan saham.
- Fokus menjaga performa keuangan agar tetap tumbuh positif di tengah proses transisi kebijakan.
- Memastikan pengelolaan risiko perusahaan tetap terjaga agar minat investor terhadap saham perseroan terus meningkat.
Grandhis menekankan bahwa kinerja yang solid adalah kunci utama agar investor tetap tertarik mengoleksi saham BRIS meskipun ada dinamika terkait kebijakan free float.
Sementara itu, PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) juga masih memiliki porsi saham publik yang rendah, yakni sekitar 7,53 persen.
Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan OK Bank, mengonfirmasi bahwa perusahaan belum memiliki rencana untuk menaikkan jumlah saham beredar dalam waktu dekat.
Keputusan akhir mengenai penambahan free float ini nantinya akan sangat bergantung pada evaluasi kondisi pasar dan kepentingan para pemegang saham saat ini.
Daftar Emiten Bank dengan Free Float di Bawah 15%
Berikut adalah rincian data emiten perbankan yang saat ini masih memiliki persentase kepemilikan saham publik di bawah batas ketentuan minimum 15 persen.
| Nama Emiten Perbankan | Persentase Free Float |
|---|---|
| PT Bank OCBC NISP Tbk | 13,97% |
| PT Bank Raya Indonesia Tbk | 12,95% |
| PT Bank MNC Internasional Tbk | 12,70% |
| PT Bank Maybank Indonesia Tbk | 11,18% |
| PT Bank Pan Indonesia Tbk | 10,62% |
| PT Bank Maspion Indonesia Tbk | 10,52% |
| PT Bank Permata Tbk | 9,97% |
| PT Bank Syariah Indonesia Tbk | 9,33% |
| PT Bank Multiarta Sentosa Tbk | 9,01% |
| PT Bank Mestika Dharma Tbk | 8,98% |
| PT Bank JTrust Tbk | 8,74% |
| PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk | 8,29% |
| PT Bank Bumi Arta Tbk | 8,21% |
| PT Bank SMBC Indonesia Tbk | 7,87% |
| PT Bank of India Indonesia Tbk | 7,68% |
| PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk | 7,68% |
| PT Bank Amar Indonesia Tbk | 7,67% |
| PT Bank IBK Indonesia Tbk | 7,55% |
| PT Bank Danamon Indonesia Tbk | 7,54% |
| PT Bank Oke Indonesia Tbk | 7,53% |
| PT Bank Nationalnobu Tbk | 7,51% |
| PT Bank CIMB Niaga Tbk | 7,50% |
| PT Bank QNB Indonesia Tbk | 7,50% |
| PT Bank Krom Bank Indonesia Tbk | 5,67% |
Data di atas menunjukkan sebaran emiten perbankan mulai dari bank swasta nasional, bank syariah, hingga anak usaha bank asing yang masih memiliki pekerjaan rumah dalam memenuhi regulasi BEI.
Meski tenggat waktu masih beberapa tahun lagi, pergerakan para emiten ini akan terus dipantau oleh pasar karena berkaitan erat dengan likuiditas saham di masa depan.