Aturan DHE SDA Resmi Berlaku, Likuiditas Himbara Berpotensi Cair US$ 2 Miliar Per Bulan pada 2026

Aturan DHE SDA Resmi Berlaku, Likuiditas Himbara Berpotensi Cair US$ 2 Miliar Per Bulan pada 2026
Foto: Aturan DHE SDA Resmi Berlaku, Likuiditas Himbara Berpotensi Cair US$ 2 Miliar Per Bulan pada 2026. (Illustration by Pexels)

Bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) diproyeksikan akan menerima lonjakan likuiditas yang signifikan. Berdasarkan regulasi terbaru, potensi tambahan dana segar ini diperkirakan mencapai lebih dari US$ 2 miliar setiap bulannya.

Kenaikan likuiditas valuta asing (valas) ini bersumber dari kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Ketentuan tersebut mulai diberlakukan secara resmi pada hari Senin, 1 Juni 2026, sebagai langkah strategis pemerintah.

Implementasi PP Nomor 21 Tahun 2026 Mengenai DHE SDA

Aturan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 yang merupakan hasil revisi dari PP Nomor 36 Tahun 2023. Regulasi baru ini memperketat kewajiban bagi para eksportir dalam mengelola devisa hasil usaha mereka.

Dalam kebijakan teranyar ini, para eksportir di sektor nonmigas kini diwajibkan untuk menyimpan 100% DHE SDA mereka di dalam negeri. Dana tersebut harus ditempatkan pada rekening khusus selama jangka waktu minimal 12 bulan penuh.

Sementara itu, bagi para eksportir di sektor migas, aturan mewajibkan penempatan setidaknya 30% dari total DHE SDA mereka. Durasi penyimpanan untuk sektor migas ini ditetapkan paling singkat selama tiga bulan berturut-turut.

Pemerintah telah menetapkan bahwa penempatan dana wajib ini dilakukan di sejumlah bank anggota Himbara tertentu. Bank-bank yang ditunjuk meliputi Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), serta Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Bagi bank di luar daftar tersebut, penempatan dana hanya diperbolehkan bagi eksportir tertentu yang memiliki perjanjian bilateral dengan negara mitra. Meski begitu, nilai penempatan yang diwajibkan tetap minimal sebesar 30% dari total DHE SDA.

Analisis Potensi Likuiditas dan Dampak Ekonomi

Myrdal Gunarto, Ekonom dari Bank Tabungan Negara (BTN), memberikan pandangannya mengenai dampak positif dari regulasi ini. Ia memprediksi adanya potensi tambahan likuiditas netto yang berkisar antara US$ 700 juta hingga US$ 2,2 miliar per bulan.

Estimasi angka tersebut didasarkan pada perhitungan historis dari kontribusi ekspor bersih yang dihasilkan oleh komoditas SDA nonmigas. Fluktuasi nilai ekspor setiap bulannya menjadi dasar dalam menentukan rentang likuiditas yang akan masuk.

Berikut adalah ringkasan estimasi arus likuiditas berdasarkan data historis ekspor Indonesia:

  • Rentang Total Ekspor Bersih: Nilai surplus ekspor Indonesia secara historis bergerak secara dinamis di angka US$ 1 miliar hingga US$ 7,5 miliar per bulan.
  • Kondisi Awal Tahun: Meskipun fluktuatif, terdapat periode di awal tahun di mana nilai ekspor bersih sempat berada di bawah angka US$ 1 miliar.
  • Metode Estimasi: Prediksi likuiditas ini menggunakan asumsi nilai netto, yaitu selisih antara arus valas yang masuk dengan arus valas yang akan keluar nantinya.

Lebih lanjut, Myrdal menjelaskan bahwa potensi konversi dana tersebut ke mata uang Rupiah bisa mencapai angka 100%. Hal ini dikarenakan kebutuhan operasional para eksportir di dalam negeri yang mayoritas menggunakan mata uang lokal.

Eksportir membutuhkan Rupiah sebagai modal kerja utama guna mendukung berbagai proses produksi yang mereka jalankan. Namun, tingkat konversi ini tetap akan bergantung pada profil kebutuhan masing-masing perusahaan eksportir tersebut.

Potensi konversi mungkin tidak menyentuh angka penuh jika eksportir memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS. Kebutuhan tersebut biasanya meliputi impor peralatan teknis atau pembayaran upah bagi tenaga kerja asing di luar negeri.

Secara umum, Myrdal menilai rasio konversi antara 70% hingga 100% sangat mungkin untuk dicapai oleh para pelaku usaha. Skema ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan sembari tetap memperkuat cadangan devisa dan likuiditas perbankan nasional.

Tantangan dan Strategi Persaingan bagi Bank Swasta

Kebijakan satu pintu ini secara otomatis memberikan tantangan besar bagi industri perbankan swasta di tanah air. Terdapat risiko nyata akan terjadinya perpindahan dana besar-besaran dari nasabah eksportir swasta menuju bank-bank Himbara.

Apalagi, mekanisme ekspor saat ini akan dipusatkan melalui satu pintu, yakni melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Perubahan ekosistem ini memaksa eksportir untuk melakukan penyesuaian besar dalam manajemen keuangan mereka.

Perbandingan kondisi pengelolaan DHE SDA bagi perbankan di Indonesia:

Aspek Perbandingan Bank Himbara (Mandiri, BNI, BRI) Bank Swasta / Bank Lainnya
Status Penempatan Tempat utama penempatan wajib DHE SDA. Terbatas hanya untuk eksportir dengan perjanjian bilateral.
Potensi Likuiditas Mendapatkan tambahan dana valas signifikan hingga US$ 2 miliar. Berisiko mengalami penurunan likuiditas valas akibat migrasi dana.
Daya Tarik Ekosistem Terintegrasi langsung dengan sistem PT Danantara (DSI). Harus mengandalkan inovasi layanan dan efisiensi biaya.
Syarat Penempatan Menerima 100% DHE SDA nonmigas. Minimal penempatan sebesar 30% dari DHE SDA.

Menurut Myrdal, para eksportir kemungkinan besar akan memilih untuk menyederhanakan manajemen operasional mereka. Mereka cenderung menaruh dana di Himbara karena seluruh kegiatan ekspornya sudah terintegrasi penuh dalam ekosistem negara.

Kondisi ini menuntut bank swasta untuk segera meningkatkan daya saing agar tidak kehilangan basis nasabah korporat mereka. Inovasi teknologi yang lebih canggih menjadi salah satu kunci utama untuk tetap bertahan di pasar ini.

Selain teknologi, bank swasta juga perlu menawarkan produk valuta asing yang memiliki nilai kompetitif dibandingkan bank pelat merah. Peningkatan kualitas layanan pelanggan yang unggul serta kebijakan pemangkasan komisi bisa menjadi daya tarik tambahan.

Jika strategi tersebut tidak segera diimplementasikan, likuiditas valas di bank swasta diprediksi akan terus tergerus. Dana-dana tersebut lambat laun akan berpindah secara alami ke rekening-rekening yang dikelola oleh bank pemerintah.

Meski tantangannya cukup berat, Myrdal tetap optimistis bahwa bank swasta masih memiliki peluang untuk bersaing secara sehat. Hubungan afiliasi yang dimiliki banyak bank swasta dengan jaringan bank internasional menjadi keunggulan tersendiri dalam momentum ini.

Artikel terkait

Rekomendasi