Akses pejalan kaki yang menuju ke Stasiun Jurangmangu, Ciputat, Tangerang Selatan, mengalami kerusakan parah pada bagian atapnya pada Kamis (21/5/2026).
Dikutip dari Megapolitan, beberapa titik pada atap spandek tersebut tampak berlubang dan bolong, bahkan ada area yang kerusuhannya sangat fatal.
Kondisi atap terlihat hancur karena tertembus oleh tanaman pohon bambu yang tumbuh di sekitar lokasi kejadian.
Hal ini mengakibatkan serpihan material atap dan sisa-sisa bagian bambu berjatuhan ke lantai jalur pedestrian.
Meskipun kondisinya memprihatinkan, jalur ini tetap dilewati oleh para pejalan kaki, termasuk pengguna KRL dan mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ).
Di lokasi tersebut, beberapa petugas terlihat langsung dikerahkan untuk menangani dan memperbaiki kerusakan parah yang terjadi.
Terdapat tiga orang petugas di lapangan, dengan rincian satu personel mengamankan jalur dan dua lainnya membongkar spandek yang hancur.
Sisa-sisa material atap yang telah dilepas oleh petugas kemudian dikumpulkan dan ditumpuk di dekat lokasi pengerjaan.
Proses perbaikan fasilitas publik ini diharapkan bisa selesai dalam waktu yang cepat oleh masyarakat sekitar.
Seorang pengguna KRL bernama Mariam (25) menyatakan rasa khawatirnya ketika harus melintas di bawah atap rusak tersebut, terutama saat cuaca buruk.
ÔÇ£Iya sih, takut roboh juga. Paling takut itu kalau pas hujan karena belakangan ini hujan angin,ÔÇØ ujar Mariam saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis.
Menurut penuturannya, kerusakan fasilitas pelindung pejalan kaki ini sebenarnya sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Namun, tindakan perbaikan dari pihak pengelola baru terlihat dimulai pada hari ini.
Selain masalah atap, aspek penerangan di jalur menuju stasiun tersebut juga dirasa masih sangat kurang oleh pengguna jalan.
Oleh karena itu, ia berharap pihak terkait tidak hanya membenahi atap, tetapi juga menambah lampu penerangan.
ÔÇ£Saya kalau malam-malam lewat sini masih kurang pencahayaannya, jadi lumayan gelap,ÔÇØ kata dia.
Kekhawatiran senada turut diungkapkan oleh Rizkya (28), yang juga merupakan pengguna aktif moda transportasi KRL.
Rizkya merasa cemas terhadap potensi bahaya dari atap yang bolong, apalagi ketika dirinya sedang berjalan membawa anak.
ÔÇ£Kalau sudah bolong begitu ya khawatir, takutnya roboh,ÔÇØ ujar Rizkya.
Ia menyampaikan harapan agar pihak manajemen pengelola segera membenahi fasilitas dan rutin melakukan perawatan rutin.
ÔÇ£Kalau bisa perawatannya diperhatikan lagi jadi biar enggak terulang,ÔÇØ kata Rizkya.
Di sisi lain, seorang pekerja perbaikan bernama Yanto (bukan nama sebenarnya) menjelaskan bahwa kerusakan ini dipicu oleh vegetasi sekitar.
Pohon bambu di dekat jalur pedestrian tersebut dinilai sudah terlalu rimbun dan posisinya condong miring ke arah atap.
ÔÇ£Air hujan jadi mengalir dan menumpuk di spandek, akhirnya berkarat dan gampang hancur,ÔÇØ kata Yanto.
Yanto menambahkan bahwa luasan area atap bangunan yang diperbaiki memiliki dimensi sekitar 15 x 4 meter.
Pihaknya menargetkan seluruh proses pengerjaan perbaikan atap spandek ini dapat rampung dalam satu hari kerja.
ÔÇ£Kayanya hari ini selesai. Ini kita rapikan juga bambu-bambunya biar enggak terlalu kena dengan spandeknya,ÔÇØ ucap dia.
Mengenai penanganan kerusakan di akses stasiun ini, pihak VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, telah dihubungi untuk memberikan konfirmasi.
Meski demikian, sampai saat ini belum ada tanggapan ataupun balasan resmi yang diberikan mengenai kendala tersebut.