PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI telah menetapkan visi besar untuk memperluas jangkauan layanan mereka secara masif dalam beberapa dekade ke depan. Perusahaan pelat merah ini menargetkan penambahan panjang jaringan rel kereta api aktif hingga mencapai 60.000 kilometer (km) pada tahun 2045.
Target ambisius ini merupakan bagian dari peta jalan atau roadmap strategis perusahaan untuk bertransformasi menjadi operator kereta api kelas dunia. Langkah ini diambil agar standar pelayanan dan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia dapat sejajar dengan pemain global lainnya.
Transformasi KAI Menuju Standar Dunia
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa aspirasi untuk menjadi operator berstandar dunia didefinisikan berdasarkan kriteria Persatuan Kereta Api Internasional (UIC). Menurutnya, perusahaan telah menyusun rencana matang yang dibagi ke dalam lima tahapan pengembangan hingga tahun 2045.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bobby dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat. Ia menegaskan bahwa setiap tahapan staging telah dirancang untuk memperkuat fondasi perusahaan secara bertahap.
Lima fase utama dalam pengembangan jaringan kereta api nasional :
- Fase Awal (Hingga 2030): Fokus pada perluasan jaringan rel hingga lebih dari 7.000 km dan peningkatan pendapatan perusahaan secara signifikan.
- Fase Pertumbuhan (2030-2035): Meningkatkan kapasitas operasional dan mencapai standar kemampuan inti kelas dunia sebagai titik balik transformasi.
- Fase Ekspansi Masif (2035-2045): Akselerasi pembangunan infrastruktur rel untuk menghubungkan lebih banyak wilayah di seluruh Indonesia.
- Fase Integrasi: Menyelaraskan seluruh sistem operasional dengan standar keselamatan dan ketepatan waktu internasional.
- Fase Puncak (2045): Pencapaian target jaringan rel aktif sepanjang 37.000 hingga 60.000 kilometer sebagai pendukung utama ekonomi nasional.
Rencana pembangunan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan konektivitas antarwilayah, tetapi juga menjadi tulang punggung transportasi massal yang efisien bagi masyarakat Indonesia di masa depan.
Proyeksi Pertumbuhan Jaringan dan Pendapatan
Saat ini, panjang jaringan rel kereta api yang beroperasi aktif di seluruh Indonesia tercatat baru menyentuh angka sekitar 6.700 kilometer. Dengan panjang lintasan tersebut, KAI berhasil membukukan pendapatan perusahaan sebesar Rp35,7 triliun.
Sebagai sasaran jangka pendek hingga menengah, KAI memproyeksikan panjang rel aktif akan melampaui angka 7.000 kilometer pada tahun 2030 mendatang. Sejalan dengan perluasan infrastruktur ini, pendapatan perusahaan juga ditargetkan melonjak hingga menyentuh angka Rp66 triliun.
Setelah melewati tahun 2030, KAI akan memasuki periode yang disebut sebagai inflection point atau titik balik transformasi yang sangat krusial. Pada fase ini, fokus utama adalah mengejar pencapaian standar dunia dalam kemampuan inti operasional perusahaan.
Hasil dari transformasi pada periode tersebut diharapkan mulai terlihat nyata pada tahun 2035. Bobby mengungkapkan bahwa indikasi keberhasilan tersebut nantinya akan berujung pada ketersediaan jaringan rel antara 37.000 hingga 60.000 kilometer di tahun 2045.
Kinerja Positif KAI Sepanjang Tahun 2025
Selain memaparkan rencana jangka panjang, Bobby Rasyidin juga melaporkan kinerja solid yang ditunjukkan KAI dalam melayani kebutuhan mobilitas masyarakat. Perusahaan mencatat telah berhasil mengangkut sebanyak 493 juta penumpang sepanjang tahun 2025 lalu.
Jumlah penumpang tersebut menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 9 persen jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2024 yang mencapai 452 juta orang. Dari total volume penumpang tersebut, mayoritas atau sekitar 452 juta merupakan pengguna layanan Public Service Obligation (PSO).
Peningkatan kualitas operasional dan kontribusi keuangan negara :
| Indikator Kinerja | Capaian Tahun 2024 | Capaian Tahun 2025 |
|---|---|---|
| Ketepatan Waktu Berangkat | 99,45% | 99,53% |
| Ketepatan Waktu Kedatangan | 94,20% | 95,93% |
| Laba Bersih | Rp2,2 Triliun | Rp2,3 Triliun |
| Kontribusi Penerimaan Negara | Rp4,4 Triliun | Rp6,8 Triliun |
| EBITDA | Rp7,8 Triliun | Rp8,3 Triliun |
Data di atas menunjukkan bahwa KAI tidak hanya fokus pada kuantitas jumlah penumpang, tetapi juga terus meningkatkan kualitas layanan. Ketepatan waktu atau on-time performance mengalami perbaikan baik untuk keberangkatan maupun kedatangan kereta api.
Dari sisi finansial, laba bersih perusahaan mengalami kenaikan sebesar 2 persen secara tahunan (year-on-year). Selain itu, nilai EBITDA perusahaan juga tumbuh 7 persen, mencerminkan efisiensi operasional yang semakin membaik.
Kontribusi KAI terhadap kas negara melalui berbagai setoran pajak dan penerimaan lainnya juga melonjak tajam dari Rp4,4 triliun menjadi Rp6,8 triliun. Hal ini membuktikan bahwa peran KAI semakin krusial dalam mendukung roda perekonomian nasional melalui transportasi dan kontribusi fiskal.