Akses Rumah Keluarga Raffa di Tangerang Selatan Tertutup Tembok Beton

Akses Rumah Keluarga Raffa di Tangerang Selatan Tertutup Tembok Beton
Foto: Ilustrasi Akses Rumah Keluarga Raffa di Tangerang Selatan Tertutup Tembok Beton.

Akses keluar-masuk rumah keluarga Raffa Azman (21) kini tertutup rapat oleh pagar beton setinggi satu meter. Kejadian yang terjadi di Jurang Mangu Barat, Pondok Aren, Tangerang Selatan ini dipicu oleh sengketa panjang terkait status kepemilikan bangunan.

Dilansir dari Megapolitan, masalah ini berakar dari transaksi jual beli antara keluarga Raffa dengan pemilik lama yang dilakukan tanpa akta resmi. Kedekatan hubungan personal menjadi alasan keluarga tersebut berani melakukan kesepakatan hanya berlandaskan kepercayaan.

Keluarga Raffa ditawari membeli kediaman di Jalan Murjaya tersebut seharga Rp 1 miliar. Meskipun tidak ada Akta Jual Beli (AJB), proses cicilan tetap berjalan sejak tahun 2019 dengan total dana yang sudah masuk mencapai Rp 840 juta.

"Ini kita punya kuitansi pembayarannya dari awal, lengkap banget, dari tahun 2019," ujar Rafa saat ditemui di lokasi.

Selama proses cicilan, keluarga pembeli juga telah mengeluarkan biaya untuk renovasi rumah atas permintaan penjual. Namun, kendala muncul saat sertifikat rumah tidak kunjung diserahkan dengan alasan proses pemecahan dokumen yang belum selesai.

"Kami mau melunasi, tapi minta sertifikat diproses balik nama," kata Rafa.

Status Cicilan Berubah Menjadi Sewa

Ketegangan meningkat pada tahun 2023 ketika pihak penjual melayangkan somasi yang mengejutkan. Dalam surat tersebut, uang ratusan juta yang telah disetorkan tidak diakui sebagai cicilan pembelian, melainkan dianggap sebagai biaya sewa tahunan.

"Isi somasinya itu bikin kita kaget karena uang yang sudah kita cicil dianggap sebagai biaya sewa rumah sebesar Rp 50 juta per tahun," kata Rafa.

Selain perubahan status pembayaran, muncul informasi bahwa sertifikat rumah tersebut telah digadaikan ke pihak bank dengan nilai pinjaman sebesar Rp 3 miliar. Muncul pula narasi yang mengeklaim bahwa keluarga Raffa justru yang memiliki utang dalam jumlah besar tersebut kepada pihak penjual.

"Narasi itu yang membuat orang-orang berani menggeruduk kami karenakan ada nilai uangnya," ucap dia.

Detik-Detik Penembokan Akses Jalan

Puncak konflik pecah pada 14 April 2026 ketika sejumlah orang yang diduga anggota organisasi masyarakat mendatangi lokasi. Meski sempat ada mediasi oleh kepolisian, penembokan tetap dilakukan sesaat setelah petugas meninggalkan tempat kejadian.

"Mereka pasang tembok enggak ada sampai 10 menit. Jadi pas polisi pergi, mereka datang, langsung pengukuran terus langsung ditembok," ujar Raffa.

Akibat tindakan cepat tersebut, keluarga Raffa kini terkurung di dalam rumah. Satu unit mobil dan empat sepeda motor milik mereka tidak dapat dikeluarkan dari area halaman yang kini telah terpagar beton.

"Dampaknya ya mengganggu, nggak bisa keluar mobil, abang saya nggak bisa kuliah," kata dia.

Kasus sengketa dan penutupan jalan ini telah dilaporkan secara resmi ke Polres Tangerang Selatan untuk penyelidikan lebih lanjut. Keluarga korban berharap pihak berwenang segera mengambil tindakan agar akses rumah kembali normal.

"Harapan saya tembok ini bisa dibongkar dulu supaya kami bisa keluar masuk dan beraktivitas seperti biasa," kata dia.

Artikel terkait

Rekomendasi