Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mendorong peralihan arus wisatawan mancanegara menuju wilayah Mediterania barat seperti Spanyol dan Portugal pada periode musim panas tahun ini hingga Senin (20/4/2026). Data industri menunjukkan lonjakan signifikan pada reservasi akomodasi dan transportasi udara di kedua negara tersebut.
Pemesanan tiket pesawat menuju Spanyol mengalami peningkatan sebesar 32 persen secara tahunan hingga 2 April, sementara minat terhadap pencarian hotel tumbuh 28 persen berdasarkan data platform Sojern. Tren serupa terjadi di Portugal yang mencatat kenaikan pemesanan penerbangan sebesar 21 persen dan pencarian hotel sebesar 16 persen sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Pergeseran ini merupakan dampak langsung dari pembatalan perjalanan di wilayah Mediterania timur, termasuk Siprus, yang terdampak serangan drone pada awal Maret 2026. Lembaga data Mabrian mengonfirmasi bahwa Spanyol kini menjadi destinasi utama bagi pelancong yang mencari keamanan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Wakil Presiden Exceltur, Oscar Perelli, memberikan penjelasan mengenai pola perilaku konsumen di tengah krisis tersebut.
"Liburan musim panas direncanakan berbulan-bulan sebelumnya. Karena destinasi yang menarik banyak wisatawan terpengaruh oleh konflik, sebagian besar efek tempat aman ini sudah terwujud dalam pembelian dan pemesanan ke Spanyol," kata Oscar Perelli.
Perelli menambahkan bahwa aktivitas pariwisata Spanyol diprediksi tumbuh 2,5 persen secara riil dengan nilai ekonomi mencapai 227 miliar euro. Hal ini didorong oleh potensi tambahan pendapatan sebesar 4,2 miliar euro dari pengalihan arus turis yang seharusnya mengunjungi zona konflik.
Peningkatan jumlah pengunjung ini juga dikonfirmasi oleh perwakilan industri perhotelan yang melihat adanya perubahan destinasi favorit keluarga.
"Wisatawan memilih destinasi yang lebih jauh dari zona konflik Mediterania, seperti Kepulauan Canary, untuk liburan keluarga musim panas mereka," kata Presiden Cehat, Jorge Marichal.
Badan pariwisata resmi Turespa├▒a melaporkan maskapai penerbangan telah merespons permintaan ini dengan menambah kapasitas kursi sebesar 6 persen pada April dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Exceltur memperingatkan risiko kenaikan harga bahan bakar jet dan potensi gangguan di Selat Hormuz yang dapat memengaruhi stabilitas pertumbuhan industri pariwisata tersebut.
"Semuanya akan bergantung pada apa yang terjadi di Selat Hormuz, karena semua perkiraan ini bisa meleset." ujar Oscar Perelli.