Minat terhadap perjalanan ekspedisi ke wilayah kutub seperti Antartika dan Arktik terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Fenomena ini didorong oleh keinginan wisatawan untuk mendapatkan pengalaman liburan yang berbeda dan eksklusif.
Dilansir dari Detik Travel, data Cruise Lines International Association menunjukkan industri kapal pesiar melayani 37,2 juta penumpang sepanjang 2025. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan jumlah penumpang diprediksi akan terus berlanjut hingga menyentuh angka 42 juta orang pada 2028 mendatang. Dalam tren besar ini, kategori kapal ekspedisi muncul sebagai salah satu segmen yang paling diminati oleh kelompok wisatawan premium.
Ritu Panesar selaku Pendiri Travelopod mengungkapkan bahwa banyak pelancong tidak keberatan merogoh kocek dalam untuk mengunjungi wilayah terisolasi. Biaya yang dikeluarkan berkisar antara USD 30.000 atau sekitar Rp 490 juta hingga USD 50.000 atau setara Rp 817 juta per individu.
"Orang-orang mencari pengalaman yang terasa langka dan mengubah hidup. Mereka ingin mengunjungi tempat yang masih terasa alami dan belum tersentuh," ujar Panesar seperti dikutip dari CNBC pada Selasa (12/5/2026).
Lonjakan minat ini juga terkonfirmasi melalui data Squaremouth yang mencatat kenaikan pencarian perjalanan ke Antartika sebesar 34 persen. Data tersebut diambil selama empat bulan pertama pada tahun 2026.
Kesadaran Risiko dan Tantangan Medis
Meskipun minat sangat tinggi, kemunculan wabah virus hanta di kapal MV Hondius sempat memicu kekhawatiran mengenai keamanan kesehatan. Wisatawan kini mulai menyadari risiko perjalanan ke daerah terpencil yang minim akses fasilitas medis darurat.
Pendiri Travel Coach Network, Sahara Rose DeVore, menjelaskan bahwa mayoritas pelancong sebenarnya sudah memahami risiko tersebut sejak awal proses pemesanan. Keinginan menjelajah lokasi eksotis mengalahkan kekhawatiran akan ketidakpastian di lapangan.
"Wisatawan tahu ada ketidakpastian dalam perjalanan ekspedisi, tetapi destinasi seperti Antartika tetap memiliki permintaan tinggi meski ada risiko," kata Rose.
CEO Global Rescue, Dan Richards, menambahkan bahwa saat ini terjadi pergeseran perilaku konsumen yang lebih mengutamakan aspek perlindungan darurat. Wisatawan kini lebih teliti dalam memeriksa rencana evakuasi sebelum memutuskan untuk berangkat.
"Orang-orang sekarang lebih sadar risiko. Mereka ingin punya rencana cadangan," ujar Richards.
Kendala Evakuasi di Laut Lepas
Menurut Richards, proses evakuasi medis di tengah samudra merupakan tantangan logistik yang sangat berat. Hal ini dikarenakan banyak kapal ekspedisi yang tidak dilengkapi dengan fasilitas landasan helikopter atau helipad secara memadai.
"Kalau sesuatu terjadi di laut lepas dan kapal berada lebih dari 150 mil dari daratan, bantuan yang bisa dilakukan sangat terbatas," kata Richards.
Pakar asuransi perjalanan turut memperingatkan bahwa biaya evakuasi medis dari lokasi yang sangat terisolasi bisa membengkak drastis. Nilainya diperkirakan dapat mencapai lebih dari USD 250.000 atau sekitar Rp 4,3 miliar.
Pengacara maritim, Jason Margulies, menekankan bahwa harga tiket yang mahal tidak selalu berkorelasi dengan kualitas fasilitas medis darurat di atas kapal. Wisatawan tetap harus waspada terhadap keterbatasan akses kesehatan selama berada di wilayah kutub.
"Yang didapat wisatawan sebenarnya adalah perjalanan berisiko di wilayah terpencil dengan akses medis yang tidak mudah," kata Jason.