Masyarakat diminta untuk lebih teliti dalam memeriksa kondisi kesehatan hewan kurban sebelum proses penyembelihan dilakukan. Mengonsumsi daging dari hewan yang sakit dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi manusia.
Peringatan ini disampaikan oleh Henny Nuraini, dosen Fakultas Peternakan IPB University sekaligus auditor halal LPPOM. Menurutnya, kesehatan hewan adalah aspek krusial dalam menjamin keamanan pangan saat pembagian daging kurban.
Risiko Penyakit Zoonosis pada Hewan Kurban
Hewan kurban yang tidak sehat berpotensi membawa penyakit zoonosis yang dapat menular kepada manusia. Infeksi ini bisa berpindah melalui kontak langsung maupun saat mengonsumsi daging yang telah terkontaminasi.
Beberapa jenis penyakit zoonosis yang perlu diwaspadai meliputi:
- Antraks yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
- Brucellosis atau penyakit keluron menular pada ternak.
- Tuberkulosis (TBC) yang kerap ditemukan pada sapi.
Tanpa pemeriksaan medis yang ketat, daging dari hewan terinfeksi berisiko menjadi sumber penularan penyakit bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, masyarakat diimbau segera melapor ke dinas terkait jika menemukan hewan dengan gejala sakit.
Langkah Penanganan Hewan yang Mengalami Gangguan Kesehatan
Penanganan cepat oleh dokter hewan atau petugas kesehatan sangat diperlukan untuk memutus rantai penularan. Langkah ini bertujuan agar penyakit tidak menyebar ke hewan ternak lainnya di lokasi penampungan.
Hewan yang terindikasi sakit juga harus segera dipisahkan ke dalam kandang isolasi atau karantina khusus. Tindakan preventif ini sangat penting dilakukan, mengingat lokasi penjualan hewan biasanya sangat padat menjelang Iduladha.
Berikut adalah ringkasan panduan penanganan hewan kurban berdasarkan kondisinya:
| Kondisi Hewan | Tindakan yang Harus Diambil | Kelayakan Konsumsi |
|---|---|---|
| Terinfeksi Zoonosis (Antraks, dll) | Isolasi ketat dan laporkan ke dinas kesehatan. | Sangat Tidak Layak |
| Memar akibat benturan | Buang bagian yang rusak atau memar saja. | Layak (Sebagian) |
| Infeksi parasit ringan (Cacing) | Buang organ yang terinfeksi (seperti hati). | Layak (Dagingnya) |
Tabel di atas menunjukkan bahwa tidak semua gangguan kesehatan membuat daging hewan otomatis tidak bisa dimakan. Sebagian daging masih dapat dimanfaatkan asalkan melalui proses penanganan yang benar dan pembersihan bagian yang rusak.
Pentingnya Pemeriksaan Sebelum dan Sesudah Penyembelihan
Henny Nuraini menekankan bahwa pemeriksaan ante mortem dan post mortem wajib dilakukan pada setiap hewan kurban. Tahapan ini bertujuan memastikan hewan benar-benar layak potong dan dagingnya aman untuk didistribusikan.
Bagian daging yang dianggap aman harus dimasak dengan suhu yang tepat untuk meminimalkan risiko kontaminasi. Hal ini dilakukan demi menjaga standar keamanan pangan bagi seluruh penerima manfaat kurban.
Panitia kurban dan pengurus masjid disarankan untuk terus berkoordinasi dengan dinas peternakan setempat. Kerja sama ini penting agar seluruh proses penyembelihan memenuhi standar kesehatan hewan dan ketentuan hukum yang berlaku.