Upbit Indonesia berpartisipasi dalam rangkaian roadshow edukasi yang diselenggarakan di Solo dan Yogyakarta. Langkah ini bertepatan dengan momen peringatan Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026. Seperti dikutip dari Investortrust, inisiatif kolaboratif tersebut bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap risiko dan potensi aset digital di tengah lonjakan jumlah investor muda.
Bulan Literasi Kripto merupakan agenda tahunan yang digagas oleh Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) bersama pihak regulator. Program ini dirancang untuk memperluas edukasi ekosistem digital secara inklusif kepada kalangan mahasiswa, komunitas, hingga masyarakat umum di berbagai kota.
Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menjadi lokasi pertama dengan mengusung tema "Gen Z & Kripto: Melek Finansial atau Cuma Ikut Tren?". Forum ini mengupas fenomena tingginya adopsi investasi kripto di kalangan muda yang dipicu oleh masifnya arus informasi di media sosial.
Sejumlah panelis dari berbagai lintas sektor menghadiri agenda tersebut. Di antaranya adalah Shania Lebang (Government Relations Upbit Indonesia), Teofilus Yusanto (Business Lead Triv), Indriana (Business Development & Research Lead Tokocrypto), serta Bagas Satriadi (Director Indonesia Coin Custodian).Tingginya minat investasi ini memunculkan tantangan tersendiri mengenai pentingnya rasionalitas dalam mengambil keputusan finansial. Upbit Indonesia menilai situasi tersebut menjadi poin krusial dalam mendorong program edukasi yang berkelanjutan.
"Generasi muda saat ini memiliki akses informasi yang sangat luas, namun tantangannya adalah bagaimana informasi tersebut dapat diolah menjadi pemahaman yang utuh. Di Upbit, kami melihat literasi sebagai fondasi utama agar pengguna tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga memahami risiko dan potensi aset kripto secara lebih komprehensif," ujar Resna Raniadi, CEO Upbit Indonesia sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) dalam siaran pers, Senin (27/4/2026).Pihak perusahaan menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menyediakan akses pasar, melainkan terus menggandeng regulator dan komunitas guna menghadirkan literasi yang mendalam.
Analisis Tren Pasar Masa Depan di Yogyakarta
Rangkaian edukasi kemudian berlanjut ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta melalui diskusi bertajuk "Takar Kripto 2026: Supercycle atau malah Bearish?". Pertemuan ini memetakan proyeksi arah pergerakan pasar kripto pada tahun 2026.
Diskusi interaktif ini menghadirkan jajaran panelis berkompeten. Beberapa di antaranya meliputi Ludy Arlianto (OJK), Teofilus Yusanto (Business Lead Development Triv), Pradipta Rohimone (CTO Mobee), Indriana (Business Development & Research Lead Tokocrypto), serta Lukas Lauw (Direktur CFX).
Sesi ini menyoroti kedewasaan pasar kripto yang kini lebih menitikberatkan pada faktor fundamental dan adopsi institusional. Kendati demikian, faktor volatilitas akibat dinamika pasar dan makroekonomi global tetap membayangi.
Melalui forum di Yogyakarta ini, pelaku industri mengajak masyarakat untuk memandang aset digital sebagai bagian dari ekosistem keuangan masa depan yang sedang berkembang. Pemahaman terhadap berbagai skenario pasar menjadi bekal utama bagi investor dalam memitigasi risiko keuangan.
"Literasi kripto tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi semua stakeholders, antara regulator, pelaku industri, dan komunitas untuk memastikan masyarakat tidak hanya tertarik, tetapi juga memahami dengan baik bagaimana ekosistem ini bekerja," kata Resna.