Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menawarkan konsep keterlibatan perguruan tinggi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui jalur akademik dan kajian ilmiah pada Kamis (14/5/2026). Dilansir dari Investor Daily, pihak kampus memilih tidak membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di area universitas.
Wakil Rektor UMY Bidang Sumber Daya, Prof. Dr. Dyah Mutiarin, M.Si., menilai kontribusi institusi pendidikan tinggi akan jauh lebih efektif jika difokuskan pada penelitian dan program magang mahasiswa. Hal ini merespons wacana pembangunan fasilitas dapur atau SPPG di lingkungan kampus.
"Kalau tujuan membangun SPPG adalah menjadi living laboratory, itu tidak harus berada di dalam kampus. Kampus sendiri terbatas dari sisi lahan, anggaran, dan sumber daya manusia. Sementara itu, SPPG yang sudah ada di luar kampus juga sudah cukup banyak," ujar Arin, Kamis (14/5/2026).
Arin menjelaskan bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran strategis sebagai mitra evaluasi bagi SPPG yang telah beroperasi di masyarakat. Tim dosen dari berbagai disiplin ilmu seperti kesehatan, gizi, manajemen, hingga pertanian dapat dilibatkan dalam pemantauan program nasional tersebut.
"Perguruan tinggi dapat memberikan masukan terkait komposisi gizi, langkah pencegahan keracunan makanan, maupun evaluasi dari sisi efisiensi anggaran," jelas Arin.
Langkah ini dianggap lebih efisien karena meniadakan beban biaya pembangunan dan operasional infrastruktur baru oleh pihak universitas. Selain itu, UMY melihat adanya potensi integrasi dengan jaringan sekolah Muhammadiyah yang luas sebagai basis penerima manfaat.
"Kita mendukung dari sisi sumber daya manusia. Selain itu, karena banyak amal usaha pendidikan Muhammadiyah bergerak di lingkup TK, SD, SMP, hingga SMA, sebenarnya kita sudah terhubung langsung dengan SPPG itu sendiri," ungkap Arin.
Melalui ekosistem yang sudah mapan ini, kontribusi terhadap program prioritas pemerintah tetap dapat dilakukan secara maksimal. Model kolaborasi berbasis akademik ini dipandang mampu menjaga keberlanjutan program sekaligus mempertahankan peran kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.