Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat Tulsi Gabbard memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya di pemerintahan Presiden Donald Trump setelah suaminya didiagnosis mengidap kanker tulang, seperti dilansir dari Media Indonesia pada Jumat.
Keputusan tersebut diambil secara mendadak demi mendampingi sang suami dalam menjalani masa pengobatan. Pengunduran diri pejabat tinggi intelijen ini direncanakan resmi berlaku mulai 30 Juni mendatang.
"Kekuatan dan cintanya telah menopang saya melalui setiap tantangan," tulis Gabbard dalam surat pengunduran dirinya pada hari Jumat.
Gabbard menegaskan komitmen pribadinya untuk memprioritaskan keluarga di tengah tuntutan kerja yang tinggi. Urusan domestik ini menjadi alasan utama dirinya melepaskan jabatan penting di pemerintahan.
"Saya tidak dapat dengan hati nurani yang tenang meminta dia menghadapi perjuangan ini sendirian sementara saya terus berada di posisi yang menuntut dan menyita waktu ini." tulis Gabbard dalam surat pengunduran dirinya.
Presiden Donald Trump langsung merespons keputusan tersebut melalui pernyataan resmi di media sosial. Trump mengonfirmasi pengunduran diri itu sekaligus memberikan apresiasi atas dedikasi Gabbard selama memimpin lembaga intelijen.
"telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kami akan merindukannya" tulis Trump melalui sebuah unggahan di media sosial.
Trump juga memberikan dukungan moral penuh terkait situasi keluarga yang sedang dihadapi oleh Gabbard. Ia berharap proses pemulihan kesehatan suami Gabbard dapat berjalan dengan baik.
"secara benar, ingin bersamanya, membawanya kembali ke kesehatan yang baik saat mereka saat ini berjuang dalam pertempuran sengit bersama. Saya tidak gabu dia akan segera menjadi lebih baik dari sebelumnya." tulis Trump di media sosial.
Sebelum pengunduran diri ini terjadi, masa jabatan Gabbard sejak tahun 2025 diwarnai oleh berbagai kebijakan efisiensi internal. Ia tercatat sempat melakukan perampingan dengan memangkas hampir 50 persen staf agensi intelijen.
Namun, kepemimpinannya juga menghadapi tantangan eksternal berupa perbedaan pandangan mengenai konflik geopolitik Iran. Sebelum kepergian Gabbard, ajudan utamanya yang bernama Joe Kent sudah lebih dulu mundur dua bulan lalu akibat ketidaksepakatan kebijakan perang.
Terkait perbedaan pandangan tersebut, Trump sebelumnya pernah memberikan komentar mengenai pernyataan posisi intelijen yang disampaikan Gabbard di hadapan Kongres terkait rencana nuklir Iran.
"Saya tidak peduli apa yang dia katakan. Saya pikir mereka sudah sangat dekat untuk memiliki senjata," ujar Trump kepada wartawan saat itu.
Mundurnya Gabbard menambah daftar panjang pejabat tinggi yang meninggalkan kabinet pemerintahan Trump pada periode ini. Gabbard menjadi menteri keempat yang hengkang setelah Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, dan Jaksa Agung Pam Bondi.
Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan setelah ditinggalkan Gabbard, pemerintah telah menunjuk pejabat internal agensi. Wakil Direktur Utama Aaron Lukas akan bertindak sebagai pelaksana tugas Direktur Intelijen Nasional.