Tugu Jatibedug Membelah Jalan Raya Manyaran-Kelir

Tugu Jatibedug Membelah Jalan Raya Manyaran-Kelir
Foto: Ilustrasi Tugu Jatibedug Membelah Jalan Raya Manyaran-Kelir.

Tugu Jatibedug berdiri tegak tepat di tengah jalur lintas Manyaran-Kelir. Struktur setinggi kurang lebih empat meter ini memisahkan wilayah Desa Kepuhsari di Kabupaten Wonogiri, Wilayah Kelir di Kabupaten Sukoharjo, serta Kabupaten Gunungkidul di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dilansir dari Detik Travel, keberadaan bangunan purbakala ini menjadi sebuah anomali di tengah arus modernisasi. Ketika proyek infrastruktur umumnya menyingkirkan hambatan fisik, perancang jalan di kawasan ini justru memilih untuk mengalah pada situs sejarah.

Masyarakat setempat menjuluki bangunan purba ini sebagai Tugu Ireng karena susunan batu putihnya kini telah berubah menjadi legam. Uniknya, struktur batu kuno ini berdiri kokoh tanpa menggunakan tulang beton atau semen modern, melainkan mengandalkan perekat tradisional.

Warga lokal meyakini bahwa Tugu Jatibedug tidak memiliki fondasi yang menghujam ke dalam tanah. Bagi masyarakat sekitar, kekuatan fisik bangunan ini bersandar pada restu alam dan dimensi spiritual yang menaunginya selama berabad-abad.

Narasi kesejarahan tugu ini terikat kuat dengan periode abad ke-18 saat bumi Sukoharjo dan Wonogiri menjadi arena gerilya. Tutur masyarakat setempat mengaitkan lokasi ini dengan tempat beristirahat Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I) semasa melawan VOC dalam Perang Takhta Jawa III.

Menurut kisah turun-temurun, sang pangeran sempat tertidur dalam pertapaannya di lokasi ini sembari memegang benih jati. Tongkat atau benih tersebut kemudian tumbuh menjadi pohon jati raksasa dengan lingkar batang yang menyerupai diameter bedug masjid agung, hingga memicu penamaan Jati Bedug.

Prasasti batu ini kemudian didirikan tepat di titik tumbangnya pohon jati legendaris tersebut. Kehadiran nilai historis yang kuat membuat tidak ada satu pun otoritas maupun alat berat yang berani memindahkan tugu ini demi efisiensi lalu lintas.

Dua Jalur Aspal yang Mengalah

Kebijakan unik tercatat dalam sejarah penataan jalan pada tahun 1959. Otoritas setempat kala itu mengambil langkah tidak lazim dengan mempertahankan posisi asli tugu dan membiarkan jalur aspal membelah diri mengalir di kedua sisinya.

Fenomena aspal yang melingkar ini menjadi bukti nyata bahwa nilai kultural lokal mampu bernegosiasi dengan instruksi teknis modern. Pembangunan infrastruktur di persimpangan Manyaran hadir menghormati peninggalan masa lalu yang sudah menetap lebih awal.

Mitos lama juga menyebutkan bahwa wujud Tugu Jatibedug sangat sulit ditangkap oleh lensa kamera pada masa lampau. Secara teknis, hal ini kerap dikaitkan dengan pembiasan cahaya, kelembapan udara perbukitan, atau kabut alami yang menyelimuti kawasan perbatasan.

Meski sensor kamera ponsel pintar masa kini sudah mampu memotret detail batu hitam tersebut dengan presisi, rasa segan para pengendara tidak pernah luntur. Pengendara yang melintas cenderung menurunkan kecepatan dan menanggalkan keangkuhan di sekitar lokasi.

Secara sosiologis, Tugu Jatibedug berfungsi sebagai pemersatu administratif yang melampaui sekat wilayah tiga kabupaten. Ikatan kolektif masyarakat di perbatasan ini dijaga oleh satu narasi agung mengenai akar spiritual dan sejarah perjuangan masa lalu.

Artikel terkait

Rekomendasi